Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kota Kuno yang Kini Berada Jauh dari Pusat Kehidupan Modern
Tikal (unsplash.com/Florian Delée)
  • Tikal di Guatemala pernah menjadi pusat peradaban Maya sejak abad ke-6 SM hingga abad ke-10 M, dengan kuil, istana, lapangan umum, dan permukiman di tengah Hutan Maya.
  • Mohenjo daro di Pakistan dan Persepolis di Iran dahulu merupakan pusat perkotaan serta pemerintahan besar, ditandai tata kota terencana, benteng, akropolis, dan kompleks istana monumental.
  • Palmyra di Suriah serta Shahr i Sokhta di Iran berkembang di jalur perdagangan kuno, tetapi kini menjadi situs reruntuhan terpencil akibat perubahan sejarah, lingkungan, aliran air, dan iklim.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sejumlah kota kuno pernah menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, atau kebudayaan pada masanya. Kini, sebagian di antaranya hanya tersisa sebagai kawasan arkeologi yang jauh dari keramaian kota modern. Jejak bangunan dan tata kotanya masih memperlihatkan besarnya peran tempat tersebut pada masa lalu.

Letaknya kini berada di kawasan hutan, gurun, dataran terpencil, atau wilayah yang jauh dari pusat perkotaan. Perubahan jalur perdagangan, perpindahan kekuasaan, dan berbagai peristiwa sejarah membuat sebagian kota kehilangan fungsi perkotaannya. Berikut lima kota kuno yang kini berada jauh dari pusat kehidupan modern.

1. Tikal

Tikal (unsplash.com/Alexander Schimmeck)

Melansir UNESCO, Tikal merupakan salah satu pusat utama peradaban Maya yang berada di tengah kawasan hutan Guatemala. Kota ini dihuni sejak abad ke-6 sebelum Masehi hingga abad ke-10 Masehi. Kompleksnya mencakup kuil, istana, lapangan umum, dan sisa permukiman yang tersebar di kawasan hutan sekitarnya.

Kini Tikal berada di Provinsi Petén, dalam wilayah hutan luas yang dikenal sebagai Hutan Maya. Lingkungan tersebut membuat reruntuhan kota berada di tengah kawasan berhutan, bukan di pusat permukiman modern. Letaknya memperlihatkan perubahan besar antara pusat kehidupan Maya dahulu dan lanskap modern di sekitarnya.

2. Mohenjo daro

Mohenjo daro (commons.wikimedia.org/Saqib Qayyum)

Menurut UNESCO, Mohenjo daro merupakan kota besar dari peradaban Lembah Indus yang berkembang pada milenium ketiga sebelum Masehi. Reruntuhannya berada di tepi kanan Sungai Indus, sekitar 28 kilometer dari kota Larkana. Kawasan ini menjadi bukti penting tentang perkembangan tata kota awal di Asia Selatan.

Mohenjo daro memiliki akropolis, benteng, dan kota bawah yang ditata mengikuti aturan perencanaan tertentu. Struktur kota tersebut dibangun terutama menggunakan bata bakar dan mencakup area luas yang kini menjadi kawasan arkeologi. Dahulu menjadi pusat perkotaan besar, kini reruntuhannya jauh dari hiruk pikuk kota modern.

3. Persepolis

Persepolis (pixabay.com/engelbachm)

Berdasarkan UNESCO, Persepolis didirikan Darius I pada 518 sebelum Masehi dan menjadi ibu kota Kekaisaran Achaemenid. Kota ini dibangun di atas teras besar yang sebagian dibangun oleh manusia dan dilengkapi kompleks istana monumental. Sisa bangunannya kini memperlihatkan skala pusat kekuasaan Persia pada masa lampau.

Persepolis berada di kaki Kuh e Rahmat, Iran barat daya, dalam kawasan arkeologi yang didominasi reruntuhan monumental. Kompleks tersebut dahulu menjadi pusat pemerintahan sekaligus tempat penyelenggaraan resepsi dan perayaan kerajaan. Kini kawasan istana itu tidak lagi menjadi pusat pemerintahan atau kehidupan perkotaan.

4. Palmyra

Palmyra (pixabay.com/Iyad)

Menurut UNESCO, Palmyra merupakan kota oasis di Gurun Suriah yang pernah menjadi pusat budaya penting di dunia kuno. Pada abad pertama dan kedua Masehi, kota ini berkembang di jalur perdagangan antara Persia, India, China, dan Kekaisaran Romawi. Posisi di persimpangan perdagangan membuat Palmyra tumbuh menjadi kota penting.

Kini Palmyra dikenal melalui reruntuhan monumental yang berdiri di tengah lingkungan gurun dan oasis. Sisa kota mencakup kuil, teater, agora, kawasan permukiman, serta makam di luar tembok kota. Letaknya yang berada di timur laut Damaskus membuat kawasan kuno ini terpisah dari pusat perkotaan Suriah modern.

5. Shahr i Sokhta

Shahr i Sokhta (commons.wikimedia.org/Amirkhan33)

Melansir UNESCO, Shahr i Sokhta didirikan sekitar 3200 sebelum Masehi di persimpangan jalur perdagangan Zaman Perunggu di dataran tinggi Iran. Kota ini memiliki kawasan monumental, permukiman, industri, dan pemakaman yang menunjukkan organisasi perkotaan awal. Penduduknya bertahan hingga sekitar 1800 sebelum Masehi.

Kini Shahr i Sokhta berada di lingkungan gurun kering yang jauh dari pusat kota modern. Perubahan aliran air dan perubahan iklim kemudian berperan dalam proses ditinggalkannya kota tersebut. Kondisi gurun yang kering juga membantu menjaga struktur bata lumpur dan sejumlah temuan arkeologinya.

Kelima kota tersebut pernah menjadi pusat kehidupan penting pada masa masing masing. Kini, perubahan sejarah membuat sebagian wilayahnya menjadi situs arkeologi yang dikelilingi hutan, gurun, atau lingkungan modern berbeda. Reruntuhan yang tersisa memperlihatkan bagaimana pusat kota dapat berubah seiring bergesernya zaman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article