5 Spesies Kucing Liar yang Hidup di Area Kering, Tahan Panas!

- Lima kucing liar yang hidup di area kering meliputi kucing pasir, kucing kaki hitam, kucing liar Afrika, cheetah, dan caracal; habitatnya mencakup savana, semak, gurun, hingga pegunungan.
- Kucing pasir mampu menghadapi suhu 51°C hingga -0,5°C, sedangkan kucing kaki hitam aktif berburu malam hari dengan tingkat keberhasilan berburu mencapai 60 persen.
- Cheetah mengandalkan kecepatan lebih dari 100 km/jam dan kamuflase, sementara caracal memakai kaki kuat serta indera tajam untuk berburu dan memanjat.
Kucing liar biasanya ditemukan di hutan, pepohonan, atau pinggir sungai yang kaya akan makanan dan tempat persembunyian. Predator tersebut juga merupakan hewan pemalu yang sangat jarang berinteraksi dengan manusia. Menariknya, tak sedikit kucing liar yang hidup di area kering, bahkan ada yang menghuni daerah terbuka.
Beberapa kucing liar yang hidup di area kering adalah cheetah, caracal, dan kucing pasir. Karena habitatnya yang unik mereka mengembangkan adaptasi khusus yang nampak dari bentuk tubuh, cara berburu, hingga warna tubuhnya. Penasaran dengan kehidupan semua kucing tersebut? Selengkapnya kita bahas di artikel berikut.
1. Kucing pasir (hidup di savana hingga gurun)

kucing pasir (commons.wikimedia.org/ErRu) Kucing pasir (Felis margarita) adalah spesies yang secara khusus beradaptasi untuk hidup di daerah yang sangat kering. Dilansir Animal Diversity Web, kucing pasir adalah spesies psammophillic (hewan yang hidup di area berpasir). Kemampuan kucing pasir mencakup beberapa aspek, seperti ahli menggali lubang di pasir, mampu menahan suhu panas hingga 51ºC, dan tahan dengan suhu dingin yang mencapai -0.5ºC.
Habitat kucing pasir mencakup beberapa daerah seperti savana, area berbatu, pegunungan, hingga gurun. Spesies dengan bobot maksimal 3,4 kilogram ini menghuni wilayah Afrika utara, Timur tengah, hingga Asia tengah. Ia juga mudah dikenali dari telinganya yang lebar, mata sipit, bulu berwarna krem, dan kepala yang melebar. Kucing pasir sebenarnya adalah hewan soliter, tetapi ia akan hidup bersama anak-anaknya setelah melahirkan.
2. Kucing kaki hitam (hidup di padang rumput hingga gurun)

kucing kaki hitam (commons.wikimedia.org/Jonathan Kriz) Melansir Big Cat Rescue kucing kaki hitam (Felis nigripes) merupakan spesies kucing liar terkecil di Afrika dan salah satu yang terkecil di dunia. Bobotnya sekitar 1-2,7 kilogram, panjang maksimalnya 50 centimeter, dan ia punya corak tutul hitam di sekujur badan. Meski kecil kucing kaki hitam adalah kucing paling mematikan di alam liar dengan persentase kesuksesan berburu yang mencapai 60 persen.
Makanan utamanya di alam liar mencakup mamalia (72 persen), burung (26 persen), dan sisanya adalah reptil, serangga, serta amfibi berukuran kecil. Kucing kaki hitam tersebar luas di Afrika bagian selatan, khususnya di padang rumput, semak-semak, savana, hingga gurun. Ia sering bersembunyi di dalam lubang pada siang hari dan baru aktif berburu ketika matahari tenggelam.
3. Kucing liar afrika (hidup di savana hingga gurun)

kucing liar afrika (commons.wikimedia.org/Marius Burger) Hewan dengan nama ilmiah Felis lybica ini merupakan nenek moyang dari kucing domestik (Felis catus) yang merupakan salah satu peliharaan paling populer di dunia. Dilansir SIYABONA AFRICA, proses domestikasi kucing liar afrika menjadi kucing domestik dimulai sekitar 5000 tahun yang lalu di Mesir. Awalnya hewan tersebut menjadi pengusir hama tikus, tapi lama kelamaan ia dipelihara, dikawinsilang, dan akhirnya tercipta kucing domestik.
Jika dibandingkan keturunannya, kucing liar afrika punya badan yang lebih ramping, tinggi, dan kaki lebih panjang. Penyebarannya juga cukup luas karena mencakup Afrika, Timur Tengah, Asia tengah, hingga sebagian Asia timur. Spesies ini jadi salah satu yang paling adaptif karena bisa bertahan hidup di pegunungan, semak-semak, rerumputan, savana, gurun, bahkan terkadang terlihat di area pemukiman.
4. Cheetah (hidup di pegunungan hingga gurun)

cheetah (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp) Dilansir iNaturalist, habitat cheetah (Acinonyx jubatus) mencakup berbagai daerah, mulai dari pegunungan, area terbuka, area berbatu, savana, hingga gurun. Di wilayah Afrika kucing ini lebih sering terlihat di savana, semak-semak, dan area terbuka. Sementara itu, habitatnya di Iran mencakup gurun, area berbatu, tebing, hingga pegunungan yang elevasinya mencapai 4000 mdpl.
Cheetah adalah spesies kucing yang tubuhnya dirancang untuk berlari. Tercatat, hewan berbadan ramping tersebut bisa berlari hingga lebih dari 100 kilometer per jam. Tubuh cheetah juga sangat ideal untuk hidup di area kering karena warna kremnya. Corak tutulnya juga membantu cheetah untuk berkamuflase di rerumputan kering. Cheetah sendiri hidup berdampingan dengan kucing besar lain seperti macan tutul dan singa.
5. Caracal (hidup di area berkayu hingga savana)

caracal (commons.wikimedia.org/Justin Ponder) Kucing noktural dengan bobot maksimal 19 kilogram ini sangat unik karena punya kaki panjang, badan berotot, dan telinga yang punya bulu memanjang di ujung. Caracal (Caracal caracal) bisa ditemukan di Afrika, Timur tengah, dan Asia tengah. Habitatnya mencakup dataran rendah, dataran tinggi, semak-semak, area terbuka, hutan, savana, area berkayu, hingga pegunungan.
Laman Animalia menerangkan bahwa caracal sebenarnya adalah hewan terestrial yang hidup di daratan. Meski begitu, kakinya yang panjang dan kuat membuat kucing ini sangat ahli memanjat. Caracal berburu dengan mengandalkan penciuman, pendengaran, dan penglihatannya. Kucing ini juga cukup vokal karena bisa berkomunikasi dengan geraman, desisan, bahkan mampu mengeluarkan suara yang mirip kucing domestik.
Kehadiran spesies kucing liar yang hidup di area kering menjadi bukti bahwa kucing merupakan hewan yang sangat adaptif. Mereka tak butuh banyak sumber air untuk bertahan hidup. Selama ada makanan, tempat persembunyian, dan suhu yang ideal maka kucing bisa survive. Kemampuan tersebut juga yang membuat kucing bisa menyebar hampir ke seluruh wilayah di muka bumi.


















