Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Tempat Terpanas di Dunia yang Diakui Sains, Bukan Cuma Gurun!
Ilustrasi salah satu lokasi paling panas di dunia berdasarkan hasil penelitian (commons.wikimedia.org/Lrkrol)
  • Lima lokasi terpanas di dunia mencakup Gurun Lut di Iran, Dallol di Etiopia, Kebili di Tunisia, Death Valley di AS, dan Tirat Zvi di Israel dengan suhu ekstrem hingga 80°C.
  • Setiap wilayah memiliki faktor unik pemicu panas seperti topografi cekung, aktivitas vulkanik, angin gurun kering, serta efek adiabatik yang memperkuat suhu permukaan dan udara.
  • Data NASA dan WMO menunjukkan dua dekade terakhir jadi periode terpanas dalam sejarah modern, menandakan dampak nyata pemanasan global terhadap kehidupan manusia dan lingkungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ketika mendengar istilah "tempat terpanas di dunia", kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan hamparan pasir tak berujung di Gurun Sahara, atau padang tandus yang nyaris tanpa kehidupan. Namun, sains menunjukkan kenyataan yang jauh lebih mengejutkan. Di berbagai belahan Bumi terdapat lokasi-lokasi yang mampu mencatat suhu ekstrem hingga melampaui batas yang dianggap wajar bagi kehidupan manusia. Beberapa di antaranya bahkan memiliki permukaan tanah yang cukup panas untuk memanggang telur, merusak peralatan elektronik, hingga membuat para ilmuwan harus mengandalkan satelit untuk mengukur suhunya. Fenomena ini menunjukkan bahwa panas ekstrem bukan sekadar persoalan gurun pasir, melainkan hasil perpaduan rumit antara topografi, geologi, atmosfer, dan radiasi Matahari yang bekerja seperti tungku raksasa alami.

Menariknya lagi, lokasi-lokasi terpanas di dunia tidak semuanya berupa gurun yang benar-benar kosong. Ada wilayah yang masih dihuni manusia, ada yang menjadi laboratorium alami bagi para peneliti, bahkan ada yang dianggap sebagai analog lingkungan planet lain seperti Mars. Berkat pengamatan dari NASA Earth Observatory, World Meteorological Organization (WMO), dan berbagai lembaga ilmiah lainnya, para peneliti kini mampu mengidentifikasi titik-titik panas ekstrem yang menjadi pemegang rekor dunia. Dari dataran garam raksasa di Iran hingga depresi vulkanik di Etiopia, inilah lima lokasi paling panas di dunia yang membuktikan bahwa Bumi memiliki sisi ekstrem yang sering kali sulit dipercaya.

1. Gurun Lut di Iran punya suhu permukaan nyaris 81 derajat

Ilustrasi gurun lut di Iran yang punya suhu permukaan hingga 80 derajat (flickr.com/L' Oranger)

Gurun Lut (Dasht-e Lut) di Iran tercatat sebagai tempat dengan suhu permukaan tertinggi di Bumi. Menurut NASA Earth Observatory, satelit Terra dan Aqua mendeteksi suhu hingga 80,8°C (177,4°F) pada 2005—rekor yang belum terkalahkan hingga kini. Permukaannya yang gelap dan kering menyerap panas ekstrem tanpa refleksi, menciptakan lanskap bak oven raksasa di tengah Asia Barat.

Secara geologis, Gurun Lut adalah dataran garam dan batu basal yang menyimpan panas dari radiasi matahari. Topografi cekungnya memperangkap udara panas, membuat suhu permukaan lebih tinggi dari suhu udara. Penelitian dari NASA tersebut menemukan bahwa pola radiasi di Lut menyerupai daerah vulkanik aktif, meski tidak ada magma di permukaannya.

Saking ekstremnya, hampir tidak ada bentuk kehidupan di sana. Namun, penelitian dari The Innovation Life menemukan mikroba termofilik yang mampu hidup di suhu di atas 70°C, membuka peluang studi tentang kehidupan di planet lain yang kering seperti Mars.

2. Dallol di Etiopia punya suhu rata-rata tahunan hampir 35 derajat

Ilustrasi dallol di Etiopia yang punya suhu tahunan cukup tinggi (commons.wikimedia.org/A.Savin)

Dallol, di Depresi Danakil, Etiopia, memegang rekor sebagai wilayah berpenghuni dengan suhu rata-rata tahunan tertinggi di dunia, yaitu 34,6°C selama 1960—1966. Daerah ini terletak 125 meter di bawah permukaan laut dan dikelilingi aktivitas vulkanik aktif yang membuat udara di sana selalu panas dan beracun—dilansir dari Meteorological Magazine.

Lanskap Dallol bak dunia alien. Kawah garam berwarna hijau, asap sulfur, dan kolam asam mendidih. Kondisi tersebut membuatnya disebut "the cruelest place on Earth" oleh Geotourism. Udara di sana mengandung klorin dan asam hidroklorat alami, menyebabkan manusia sulit bernapas lama-lama.

Menariknya, meski suhu ekstrem, Dallol tetap menarik bagi peneliti. Sebab, ia bisa menjadi analog alami untuk kondisi planet ekstrim. Penelitian Europlanet Science Congress menjadikannya model dalam riset pencarian tanda-tanda kehidupan di Mars, sebab mineral dan suhu ekstremnya mirip dengan planet merah itu.

3. Kebili diyakini pernah punya suhu udara tertinggi di benua Afrika

Ilustrasi kebili di Tunisia pernah punya suhu tertinggi di benua Afrika (flickr.com/Daniel Mennerich)

Kebili, kota oasis di Tunisia, mencatat suhu udara 55°C (131°F) pada 7 Juli 1931. Fenomena ini menjadikannya sebagai salah satu pemilik rekor panas tertinggi di Afrika menurut World Meteorological Organization. Kota ini dikelilingi pasir Sahara dan merupakan salah satu tempat tertua yang dihuni manusia di Afrika Utara, menunjukkan adaptasi luar biasa terhadap panas ekstrem.

Faktor utama suhu ekstrem di Kebili berasal dari sirocco, angin panas dan kering dari gurun yang memanaskan atmosfer hingga ke titik ekstrem. Kombinasi angin kering, rendahnya kelembapan, dan tanah pasir menciptakan efek rumah kaca alami di permukaan. WMO menegaskan, meski data 1931 masih diperdebatkan, suhu di atas 50°C memang sering tercatat ulang di Kebili selama beberapa dekade terakhir.

Kini, Kebili menjadi laboratorium alami untuk mempelajari ketahanan manusia terhadap panas. Studi oleh Irrigation and Drainage menyebut bahwa masyarakat lokal menggunakan arsitektur tradisional berbahan tanah liat untuk menjaga suhu rumah 10 hingga 15°C lebih rendah dari udara luar.

4. Death Valley di Amerika Serikat jadi rekor panas dunia modern

Ilustrasi death valley di Amerika Serikat yang menempati rekor panas dunia modern (commons.wikimedia.org/Abby Kihano)

Death Valley di California dikenal luas sebagai tempat dengan suhu udara tertinggi yang terverifikasi secara modern, yaitu 56,7°C (134°F) pada 10 Juli 1913 di Furnace Creek. Wilayah ini juga secara rutin mencatat suhu di atas 50°C setiap musim panas—dilansir dari laman resmi National Park Service.

Kondisi ekstrem ini disebabkan letaknya yang 86 meter di bawah permukaan laut dan dikelilingi pegunungan tinggi, menjebak panas dan mencegah sirkulasi udara dingin. Selain itu, permukaan tanah yang gelap menyerap sinar matahari dan memantulkannya kembali ke atmosfer kering. Kombinasi ini menciptakan "efek oven" permanen di Death Valley.

Menurut kanal berita The Guardian, Death Valley juga menjadi indikator perubahan iklim di Amerika Utara. Dalam 10 tahun terakhir, frekuensi hari bersuhu di atas 50°C meningkat dua kali lipat dibanding dekade 1990-an. Ini menjadi bukti konkret pemanasan global yang takbisa diabaikan.

5. Tirat Zvi di Israel punya suhu panas di tengah pertanian subur

Ilustrasi tirat zvi yang punya suhu tinggi di Israel tapi di tengah lahan pertanian subur (commons.wikimedia.org/Omer Markovsky)

Tirat Zvi, desa kecil di Lembah Jordan, Israel, pernah mencatat suhu 54°C (129°F) pada 21 Juni 1942. Lokasinya berada 220 meter di bawah permukaan laut, menjadikannya salah satu titik terendah dan terpanas di dunia yang masih dihuni manusia—dilansir dari laman resmi World Meteorological Organization.

Fenomena panas di Tirat Zvi disebabkan efek adiabatic heating, yaitu pemanasan udara saat menurun ke lembah rendah. Ketika udara lembap dari Laut Tengah turun dan mengering, suhunya naik drastis. Kondisi ini makin parah akibat perubahan pola atmosfer regional selama beberapa dekade terakhir.

Haaretz melalui kanal resminya turut melaporkan bahwa suhu rata-rata di Lembah Jordan meningkat 1,7°C sejak 1970-an. Jika tren ini berlanjut, para ilmuwan memperkirakan suhu puncak 50°C akan menjadi hal normal di Israel dalam 30 tahun ke depan.

Dari Gurun Lut hingga Tirat Zvi, semua titik panas ini memberi pesan yang sama. Bumi sedang demam, dan kita adalah penyebabnya. Data dari NASA menunjukkan bahwa dua dekade terakhir merupakan periode terpanas dalam sejarah pencatatan modern. Jika suhu global terus naik, wilayah ekstrem seperti ini bisa makin meluas, bahkan mencapai daerah yang kini masih nyaman dihuni.

Panas ekstrem bukan cuma masalah statistik; ia menyentuh langsung kehidupan manusia, mulai dari ketersediaan air, pangan, hingga migrasi iklim. Jadi, sebelum planet ini benar-benar "matang" dan "mendidih", mungkin sudah saatnya kita menurunkan apinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article