Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Naluri Bertahan Hidup di Balik Aksi Kucing Mengubur Kotoran

Naluri Bertahan Hidup di Balik Aksi Kucing Mengubur Kotoran
ilustrasi kucing sedang buang air di litter box (unsplash.com/Neakasa)
Intinya Sih
  • Kucing mengubur kotorannya karena naluri alami dari nenek moyangnya untuk menyamarkan bau dan melindungi diri dari predator di alam liar.
  • Tindakan mengubur atau tidak mengubur kotoran juga mencerminkan komunikasi sosial dan hierarki antar kucing, termasuk penanda wilayah serta tingkat dominasi.
  • Kebiasaan ini menunjukkan sifat kucing yang menjaga kebersihan, namun perubahan perilaku buang air bisa menandakan ketidaknyamanan atau masalah kesehatan yang perlu diperiksa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah memperhatikan kucing yang selesai buang air besar, lalu sibuk mengais-ngais pasir di sekitarnya? Bahkan, beberapa kucing bisa menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memastikan kotorannya benar-benar tertutup.

Bagi manusia, perilaku ini mungkin terlihat seperti kebiasaan sederhana. Namun, di balik gerakan mengais tersebut, ada cerita panjang yang berkaitan dengan kehidupan kucing di alam liar. Lantas, kenapa kucing sering mengubur kotorannya? Ini dia jawabannya!

1. Kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyangnya

Salah satu alasan utama kucing mengubur kotoran adalah naluri bertahan hidup. Jauh sebelum hidup nyaman di rumah dan mendapatkan makanan dari manusia, nenek moyang kucing yang hidup di alam harus berhati-hati terhadap predator maupun hewan lain.

Kotoran dan urine memiliki bau yang dapat membuat hewan lain menemukan keberadaan mereka. Karena itu, mengubur kotoran bisa membantu menyamarkan bau dan mengurangi kemungkinan keberadaan mereka terdeteksi.

Kebiasaan ini masih terbawa hingga sekarang. Jadi, meskipun kucing rumahan tidak perlu lagi bersembunyi dari predator di ruang tamu atau kamar tidur, naluri tersebut tetap bisa muncul secara alami.

2. Mengubur kotoran juga berkaitan dengan hierarki

Kucing ternyata tidak hanya menggunakan suara dan bahasa tubuh untuk berkomunikasi. Kotoran dan urine juga mengandung senyawa kimia yang dapat memberikan informasi kepada kucing lain, termasuk tentang identitas dan status reproduksi.

Karena itu, kotoran yang dibiarkan terbuka bisa menjadi semacam tanda keberadaan atau penanda wilayah. Sementara itu, kucing yang mengubur kotorannya dapat menunjukkan bahwa ia tidak sedang berusaha menantang kucing lain yang dianggap lebih dominan.

Dalam rumah yang memiliki beberapa kucing, perilaku ini bahkan bisa menjadi bagian dari dinamika sosial mereka. Kucing yang lebih pemalu mungkin lebih sering menutupi kotorannya, sedangkan kucing yang percaya diri atau ingin menandai wilayah terkadang justru membiarkannya terbuka.

3. Kucing memang menyukai kebersihan

ilustrasi litter box kucing (freepik.com/wirestock)
ilustrasi litter box kucing (freepik.com/wirestock)

Kucing umumnya merupakan hewan yang sangat menjaga kebersihan. Kucing memiliki penciuman yang sensitif. Bau kotoran yang menyengat tentu bisa mengganggu mereka, terutama jika berada di dekat tempat makan, minum, atau tidur. Dengan mengubur kotoran, bau tersebut menjadi lebih tersamarkan sehingga lingkungan di sekitarnya terasa lebih nyaman.

Kebiasaan ini juga bisa dipelajari sejak masih kecil. Anak kucing sering belajar berbagai perilaku dari induknya, termasuk cara menggunakan tempat buang air dan mengubur kotoran.

4. Kenapa ada kucing yang tidak mengubur kotorannya

Meski banyak kucing memiliki kebiasaan mengubur kotoran, tidak semuanya melakukan hal tersebut. Ada kucing yang memang sejak awal tidak terlalu peduli untuk menutup kotorannya.

Namun, jika kucing yang biasanya rajin mengubur kotoran tiba-tiba berhenti melakukannya, perubahan ini sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai perilaku nakal. Bisa saja kucing merasa tidak nyaman dengan tempat buang airnya. Pasir yang terlalu kasar, beraroma menyengat, kotor, atau kotak pasir yang berada di tempat terlalu ramai dapat membuat kucing enggan menggali.

Masalah kesehatan juga bisa menjadi penyebab. Nyeri pada persendian, misalnya, dapat membuat gerakan mengais terasa tidak nyaman. Gangguan pencernaan atau rasa sakit setelah buang air besar juga mungkin membuat kucing ingin segera meninggalkan kotak pasir.

5. Perubahan kebiasaan buang air perlu diperhatikan

Perubahan perilaku di sekitar kotak pasir bisa menjadi petunjuk penting bagi pemilik kucing. Kucing yang tiba-tiba berhenti mengubur kotorannya, terlalu sering pergi ke kotak pasir, mengejan, atau menunjukkan tanda-tanda kesakitan mungkin sedang mengalami masalah kesehatan.

Begitu pula jika kucing tiba-tiba menggali secara berlebihan atau terlihat sangat gelisah setelah buang air. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa berkaitan dengan stres atau perubahan lingkungan. Jika perubahan tersebut disertai darah pada kotoran, kesulitan buang air, muntah, atau perubahan perilaku lainnya, pemeriksaan ke dokter hewan merupakan langkah yang tepat.

Jadi, kalau kucingmu terlihat sibuk mengais pasir setelah buang air, itu bukan sekadar kebiasaan lucu. Di baliknya ada naluri bertahan hidup, cara berkomunikasi, sekaligus kebiasaan menjaga kebersihan yang sudah diwariskan sejak nenek moyangnya. Namun, jika perilaku tersebut tiba-tiba berubah, jangan diabaikan karena bisa jadi kucing sedang memberi tanda bahwa ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Referensi

Chewy Education. Diakses pada Juli 2026. Why Do Cats Bury Their Poop?
HeoUpet. Diakses pada Juli 2026. Why Do Cats Bury Their Poop? (2026)
Live Science. Diakses pada Juli 2026. Why Do Cats Bury Their Poop?
PetMD. Diakses pada Juli 2026. Why Do Cats Bury Their Poop?
Rover. Diakses pada Juli 2026. Is Your Cat Covering Their Poop? 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More