Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Fakta Unik Biawak Bertotol Biru, Naga Cantik dari Raja Ampat

7 min read
7 Fakta Unik Biawak Bertotol Biru, Naga Cantik dari Raja Ampat
ilustrasi biawak pohon totol biru dari Raja Ampat (commons.wikimedia.org/Vincent Malloy)
  • Varanus macraei atau biawak pohon bercak biru merupakan reptil endemik Batanta, Raja Ampat, dengan tubuh hitam berbintik biru terang dan persebaran alami sangat terbatas.
  • Spesies arboreal ini memiliki ekor prehensil sekitar dua kali panjang tubuh, jari bercakar tajam, aktif siang hari, serta beradaptasi untuk hidup di kanopi hutan hujan.
  • IUCN menetapkan Varanus macraei berstatus terancam punah akibat perdagangan satwa peliharaan dan kerusakan hutan Batanta; perdagangan internasionalnya tercantum dalam CITES Appendix II.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada naga yang tidak hidup dalam dongeng, tidak menyemburkan api, dan tidak menjaga harta karun di dalam gua. Ia hidup di antara cabang-cabang pohon hutan tropis Pulau Batanta, Raja Ampat, dengan tubuh hitam yang ditaburi bintik-bintik biru terang seperti serpihan langit malam. Namanya Varanus macraei, atau blue tree monitor. Penampilannya begitu mencolok sampai-sampai sulit percaya bahwa satwa ini benar-benar berasal dari alam Indonesia. Namun, di balik tubuhnya yang memesona, biawak ini menyimpan cerita yang jauh lebih rumit. Persebarannya sangat terbatas, pengetahuan ilmiah tentang kehidupan alaminya masih belum lengkap, dan perdagangan satwa peliharaan menjadi salah satu ancaman yang terus diperhatikan para konservasionis. IUCN Red List of Threatened Species 2017 mencatat Varanus macraei berstatus endangered (EN), dengan ancaman berupa pengambilan untuk perdagangan satwa peliharaan serta kerusakan habitat hutan di Batanta.

Biawak ini juga menarik, karena evolusi seolah-olah memberinya seperangkat peralatan khusus untuk kehidupan di atas pohon. Kaki dengan jari-jari panjang dan cakar tajam membantunya mencengkeram permukaan, sementara ekornya yang sangat panjang dan dapat menggenggam cabang membuatnya begitu berbeda dari bayangan umum tentang biawak yang berkeliaran di tanah. Dokumen identifikasi Treubia mencatat individu jantan dapat mencapai panjang total sekitar 110 sentimeter, sedangkan betina sekitar 89 sentimeter; ekornya dapat mencapai kira-kira dua kali panjang tubuh dari moncong hingga kloaka. Berikut tujuh fakta yang membuat Varanus macraei layak disebut sebagai salah satu “naga” paling unik dari Raja Ampat. Cek, yuk!

  1. 1. Tubuh hitamnya ditaburi bintik biru yang sangat mencolok

    ilustrasi biawak pohon bertotol biru yang mencolok
    ‎ilustrasi biawak pohon bertotol biru yang mencolok (inaturalist.org/rajaampatherping)

    Ciri yang langsung membuat Varanus macraei berbeda dari banyak biawak lain adalah pola warnanya. Beberapa hasil penelitian mendeskripsikan kepala, tubuh, kaki, dan ekornya sebagai berwarna hitam dengan pola bintik biru terang yang mencolok. Pola tersebut bukan hanya terdapat pada satu bagian tubuh, tetapi menyebar pada berbagai bagian, sehingga menghasilkan penampilan yang sangat khas.

    Warna inilah yang membuatnya memperoleh nama umum blue tree monitor atau blue-speckled tree monitor. Dalam bahasa Indonesia, satwa ini juga disebut biawak pohon bercak biru. Menariknya, penampilannya yang luar biasa justru menjadi salah satu faktor yang membuat spesies ini diminati dalam perdagangan reptil eksotis. London Zoo mencatat bahwa setelah dideskripsikan secara ilmiah pada 2001, biawak ini sudah muncul dalam perdagangan satwa liar beberapa tahun kemudian, dan warna cerahnya turut membuatnya bernilai tinggi di pasar tersebut.

  2. 2. Ekornya tak cuma panjang, tapi bisa digunakan untuk mencengkeram

    ilustrasi biawak bertotol biru dan berekor panjang
    ilustrasi biawak bertotol biru dan berekor panjang (commons.wikimedia.org/Brian Gratwicke)

    Kalau tubuhnya adalah “badan naga”, ekornya adalah semacam tali pengaman alami. Varanus macraei memiliki ekor yang sangat panjang, berbentuk silindris, dan bersifat prehensil, atau mampu menggenggam. Hasil penelitian mencatat ekornya kira-kira dua kali panjang snout-vent length (SVL), yakni panjang tubuh dari ujung moncong hingga kloaka. Pada jantan dengan panjang total hingga sekitar 110 sentimeter, proporsi ekor tersebut menjadi sangat signifikan.

    Adaptasi ini berkaitan erat dengan kehidupan arborealnya. Berdasarkan riset, biawak pohon totol biru menghabiskan kehidupannya di pepohonan dan ekor panjang yang dapat menggenggam, membantu aktivitasnya di antara cabang. Jari-jari panjang dengan cakar tajam juga membantu ketika memanjat. Dengan kombinasi tersebut, Varanus macraei bukan sekadar biawak yang kebetulan bisa memanjat, tetapi memang memiliki tubuh yang sangat terspesialisasi untuk lingkungan pepohonan.

  3. 3. Rumah alaminya hanya Batanta dan pulau-pulau kecil di sekitarnya

    ilustrasi biawak biru endemik pulau Batanta Raja Ampat
    ilustrasi biawak biru endemik pulau Batanta Raja Ampat (commons.wikimedia.org/Catatine)

    Salah satu fakta paling dramatis tentang Varanus macraei justru bukan warna tubuhnya, melainkan betapa kecilnya dunia yang secara alami ditempatinya. IUCN juga mencatat persebarannya di Pulau Batanta, bagian dari kelompok Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat, Indonesia.

    London Zoo menyebut luas Batanta sekitar 455 kilometer persegi, sekaligus menggambarkan bahwa biawak ini memiliki salah satu wilayah persebaran paling kecil di antara biawak. Penelitian dalam Treubia juga menyebut Varanus macraei sebagai spesies endemik pulau yang diketahui berasal dari Batanta dan pulau-pulau kecil di dekatnya. Karena itulah kehilangan hutan di wilayah yang menjadi rumahnya bukan sekadar perubahan lanskap biasa. Bagi spesies dengan distribusi geografis sesempit ini, habitat yang hilang berarti sebagian dari dunia yang memang tidak bisa begitu saja digantikan dengan tempat lain.

  4. 4. Ia benar-benar penghuni kanopi, bukan biawak yang gemar berkeliaran di tanah

    ilustrasi biawak bertotol biru yang suka di atas pohon
    ilustrasi biawak bertotol biru yang suka di atas pohon (inaturalist.org/rajaampatherping)

    Kehidupan Varanus macraei berlangsung sangat erat dengan pepohonan. Tubuhnya ramping, tungkainya relatif panjang, jari-jarinya memiliki cakar tajam, dan ekornya dapat menggenggam. Selain itu, hasil penelitian juga menjelaskan bahwa spesies ini hidup di hutan hujan, dan menghabiskan kehidupannya di pohon. Air bahkan dapat diperolehnya dari tempat-tempat seperti lubang pohon atau ketiak daun tumbuhan epifit.

    Penelitian yang diterbitkan dalam Treubia juga mendokumentasikan bahwa individu yang mereka amati aktif pada siang hari. Namun ada catatan penting, sebagian besar pengetahuan rinci mengenai perilaku Varanus macraei masih berasal dari pengamatan terbatas dan penangkaran, sehingga tidak semua perilaku yang terlihat pada individu dalam fasilitas pemeliharaan dapat langsung dianggap mewakili seluruh populasi liar. Peneliti sendiri menekankan bahwa kajian mengenai reproduksi dan perilaku spesies ini masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut.

  5. 5. Telurnya bisa membutuhkan lebih dari lima bulan sampai menetas

    ilustrasi biawak bertotol biru yang telurnya menetas lama
    ilustrasi biawak bertotol biru yang telurnya menetas lama (commons.wikimedia.org/Bjoertvedt)

    Kehidupan reproduksi Varanus macraei masih menyimpan banyak ruang untuk penelitian. Salah satu data menarik datang dari penelitian, yang mendokumentasikan perkawinan dan reproduksi sepasang biawak pohon totol biru di fasilitas pemeliharaan di Indonesia. Individu jantan mulai mendekati betina pada awal musim kemarau, sekitar Mei, sedangkan telur diletakkan pada pertengahan Juli 2020. Dari enam telur yang dihasilkan, dua diketahui fertil dan kemudian menetas setelah sekitar 23 minggu atau 5,6 bulan.

    Penelitian tersebut penting, karena memberikan dokumentasi awal mengenai reproduksi Varanus macraei di fasilitas Indonesia. Namun angka tersebut sebaiknya tidak diperlakukan sebagai masa inkubasi mutlak untuk seluruh populasi liar. Kondisi penangkaran; termasuk suhu dan kelembapan, dapat memengaruhi perkembangan telur reptil. Yang menarik, penelitian tersebut juga menemukan indikasi perilaku reproduktif musiman, dengan aktivitas pendekatan jantan kepada betina dimulai pada awal musim kemarau.

  6. 6. Namanya baru resmi masuk dunia ilmu pengetahuan pada 2001

    ilustrasi biawak bertotol biru yang resmi diakui secara sains sejak 2001
    ilustrasi biawak bertotol biru yang resmi diakui secara sains sejak 2001 (commons.wikimedia.org/Hectonichus)

    Meski masyarakat lokal telah mengetahui keberadaan biawak tersebut sebelum mendapatkan nama ilmiah, Varanus macraei baru dideskripsikan sebagai spesies tersendiri pada 2001 oleh Wolfgang Böhme dan Hans-Joachim Jacobs. The Reptile Database mencatat nama ilmiahnya sebagai Varanus macraei.

    Nama macraei sendiri merupakan penghormatan kepada Duncan MacRae, pendiri taman reptil Rimba di Bali. Secara taksonomi, Varanus macraei kini ditempatkan dalam kelompok biawak pohon dan dikenal sebagai anggota subgenus Hapturosaurus. Fakta bahwa spesies dengan penampilan sedemikian khas baru dideskripsikan secara ilmiah pada awal abad ke-21, menjadi pengingat bahwa kawasan kepulauan Papua masih menyimpan banyak cerita biodiversitas, yang belum sepenuhnya terungkap oleh ilmu pengetahuan.

  7. 7. Naga cantik ini menghadapi ancaman dari perdagangan dan kehilangan hutan

    ilustrasi biawak bertotol biru yang terancam karena diperdagangkan
    ilustrasi biawak bertotol biru yang terancam karena diperdagangkan (commons.wikimedia.org/H. Zell)

    Keindahan Varanus macraei memiliki sisi paradoks. Semakin unik warnanya, semakin menarik pula ia bagi pasar reptil eksotis. IUCN mencatat pengambilan untuk perdagangan satwa peliharaan dan kerusakan habitat hutan di Batanta sebagai ancaman terhadap spesies ini. Kelompok tersebut mencantumkan statusnya sebagai endangered (EN). CITES sendiri memasukkan Varanus macraei ke dalam Appendix II, yang berarti perdagangan internasionalnya berada dalam kerangka pengaturan.

    Ancaman perdagangan bukan sekadar persoalan teoritis. Beberapa penelitian juga membahas perdagangan Varanus macraei dan menyatakan bahwa permintaan terhadap spesies ini untuk pasar satwa peliharaan eksotis menjadi persoalan konservasi. Sementara itu, laporan WWF Japan mengenai perdagangan reptil juga mencatat persebarannya yang terbatas di Batanta serta statusnya sebagai endangered dan CITES Appendix II. Dengan rumah alami yang begitu sempit, tekanan terhadap individu liar menjadi persoalan serius. Karena setiap pengambilan dari alam berlangsung di dalam populasi yang tidak memiliki wilayah geografis luas untuk “melarikan diri”.

    Pada akhirnya, Varanus macraei mungkin adalah salah satu cara paling indah untuk memahami betapa rumitnya biodiversitas Raja Ampat. Ia bukan sekadar biawak dengan warna biru yang Instagramable, melainkan spesies endemik pulau dengan tubuh yang berevolusi untuk hidup di antara cabang, ekor yang dapat mencengkeram, dan wilayah persebaran yang sangat terbatas. Penampilannya memang seperti naga mini, tetapi kehidupannya jauh lebih rapuh daripada makhluk mitologi. Naga dalam cerita bisa terbang ke negeri lain ketika habitatnya hancur, sedangkan Varanus macraei tidak memiliki kemewahan itu. Ia memiliki Batanta—dan secara alami, dunia itu sangat kecil.

    Barangkali karena itu, menyebutnya “sang naga dari Raja Ampat” bukan hanya metafora tentang rupa. Ia juga metafora tentang sebuah makhluk yang hidup di dunia yang terbatas, indah, dan tidak mudah digantikan. Di antara dedaunan hutan Batanta, warna biru pada tubuhnya mungkin tampak seperti kemewahan alam. Tetapi dari sudut pandang konservasi, warna itu sekaligus mengingatkan kita pada paradoks yang menyakitkan. Sesuatu yang begitu indah dapat membuat manusia ingin memilikinya, sementara yang sebenarnya dibutuhkan sang naga hanyalah satu hal sederhana—tetap memiliki hutan tempat ia dilahirkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More