Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Fakta Unik Burung Cormorant, Perenang Andal yang Jago Menangkap Ikan
potret burung cormorant (commons.wikimedia.org/Prasan Shrestha)
  • Cormorant merupakan pemburu ikan andal yang mampu menyelam hingga 46 meter; bulunya tidak sepenuhnya kedap air sehingga mengurangi daya apung dan meningkatkan kelincahan di air.
  • Setelah berburu, cormorant merentangkan sayap di bawah matahari untuk mengeringkan bulu basah agar dapat terbang normal; burung ini juga hidup berkoloni di pesisir dan perairan pedalaman.
  • Di Jepang, cormorant dilatih dalam tradisi ukai untuk menangkap ikan. Paruh berujung pengait membantu mencengkeram ikan, sementara penglihatannya jelas hanya pada jarak kurang dari satu meter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika berbicara tentang burung laut yang ulung dalam berburu, nama cormorant atau burung pecuk adalah salah satu yang unggul. Burung pemangsa air ini dikenal sebagai perenang super tangguh yang mampu menyelam hingga puluhan meter di bawah permukaan laut hanya untuk mengejar mangsanya. Berbeda dengan mayoritas burung air lainnya yang mengandalkan lapisan minyak tebal pada bulu mereka, cormorant justru memiliki struktur bulu unik yang memungkinkannya tenggelam lebih cepat dan bergerak sangat lincah di dalam air.

Keunikan cormorant tidak hanya terletak pada kelincahannya menemus arus air, tetapi juga pada berbagai kebiasan unik yang kerap bikin banyak peneliti heran. Penasaran apa saja keistimewaan yang dimiliki oleh si perenang andal ini? Yuk, simak tujuh fakta unik burung cormorant salah satu predator air paling efisien berikut ini.

1. Penyelam super yang bisa menyelam puluhan meter

ilustrasi cormorant menangkap ikan (commons.wikimedia.org/Prasan Shrestha)

Dilansir laman National Geographic, para peneliti di Argentina memasang kamera kecil seukuran lipstick di punggung imperial cormorant untuk mengamati perilaku berburunya. Hasil rekaman menunjukkan kejutan besar bahwa burung yang dijuluki superbird ini mampu menyelam hingga kedalaman 150kaki atau setara dengan 46 meter ke dasar laut untuk menangkap seekor ikan. Temuan ini mengubah pemahaman ilmuwan sebelumnya yang mengira cormorant hanya mencari makan di permukaan atau sedikit di bawah permukaan air. Rekaman dari sudut pandang mata burung ini menjadi bukti pertama bahwa mereka secara aktif melakukan penyelaman dalam hingga menyentuh dasar laut.

2. Bulu unik yang tidak sepenuhnya anti air

ilustrasi cormorant (commons.wikimedia.org/Prasan Shrestha)

Pada spesies great cormorant memiliki karakteristik biologis yang unik karena bulunya yang tidak sepenuhnya kedap air. Kondisi ini membuat air dapat meresap ke dalam lapisan bulu saat mereka meyelam dan berburu ikan di perairan. Dilansir laman Smithsonian Magazine, meskipun bulu yang basah menambah berat dan mengurangi daya apung untuk mempermudah aktivitas menyelam, hal ini menjadi tantangan setelah mereka kembali ke permukaan. Bulu yang menyerap air membuat tubuh burung terasa berat dan basah, sehingga membutuhkan proses pengeringan agar mereka bisa terbang dengan normal kembali. Oleh karena itu, burung cormorant secara naluriah melakukan perilaku berjemur atau sunbathing dengan merentangkan kedua sayapnya lebar-lebar di atas batu atau tempat terbuka.

 

3. Ciri khas pose merentangkan sayap di bawah sinar matahari

ilustrasi burung cormorant merentangkap sayap (commons.wikimedia.org/Laitche)

Pose merentangkan sayap merupakan perilaku paling ikonik dari burung cormorant yang sering terlihat saat mereka bertengger di atas bebatuan, batangan kayu, atau tepi perairan. Berbeda dengan mayoritas burung air yang memiliki lapisan minyak khusus agar bulunya tetap kering, bulu cormorant diciptakan tidak kedap air. Kondisi ini sengaja dimanfaatkan untuk mempermudah mereka menyelam dan berburu ikan di dalam air tanpa hambatan daya apung yang besar.

Dilansir laman The Wildlife Trusts, konsekuensi dari keunggulan menyelam tersebut adalah bulu mereka menjadi sangat basah dan berat setelah selesai beraktivitas di air. Untuk mengatasinya, cormorant akan berdiri tegak dan membentangkan kedua sayapnya lebar-lebar ke arah sinar matahari berfungsi sebagai cara alami yang efektif untuk mengeringkan seluruh helai bulu mereka secara cepat. Selain berfungsi mengeringkan bulu agar dapat kembali terbang dengan ringan, pose berjemur ini juga sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh sang burung.

4. Sahabat nelayan, tradisi memancing bersama cormorant

ilustrasi ukai fishing (commons.wikimedia.org/KKPCW)

Ukai salah satu metode menangkap ikan tradisional di Jepang menggunakan burung cormorant yang dilatih khusus untuk menangkap ikan sungai seperti ikan ayu atau sweetfish. Tradisi yang telah bertahan selama lebih dari 13 abad ini paling terkenal di Sungai Nagaragawa, Kota Gifu, di mana para master nelayannya bahkan berada di bawah naungan dan perlindungan resmi Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang. Dilansir laman Japan Guide, dalam praktiknya, nelayan mengendalikan sekitar belasan burung cormorant menggunakan tali dari atas perahu kayu. Leher burung dipasangi ikatan khusus agar mereka tidak bisa menelan ikan berukuran besar, sehingga ikan yang ditangkap dapat diambil kembali oleh nelayan. Di malam hari, perahu dilengkapi obor api besar yang berfungsi memberikan pencahayaan sekaligus menarik perhatian ikan.

5. Penglihatan di dalam air hanya bisa mengenali detail ikan kurang dari 1 meter

ilustrasi cormorant (commons.wikimedia.org/Frank Schulenburg (1969–)

Banyak yang mengira burung ini memiliki penglihatan super tajam di dalam air layaknya burung elang di udara. Secara anatomi, mereka memang dibekali otot mata yang kuat serta lensa yang sangat fleksibel untuk berubah bentuk saat masuk ke air. Namun, dilansir dari jurnal National Center for Biotechnology Information, Vision and Foraging in Cormorants: More like Herons than Hawks? Bahwa keterbatasan penglihatan cormorant tidak mampu mengintai atau mendeteksi keberadaan mangsanya dari jarak jauh di dalam air, terutama dalam kondisi perairan yang keruh atau minim cahaya.

Pemodelan studi menunjukkan bahwa burung ini hanya bisa melihat dan mengenali detail ikan secara jelas ketika jaraknya sudah sangat dekat, yaitu kurang dari 1 meter. Meskipun penglihatannya tidak setajam elang, cormorant tetap menjadi salah satu pemburu amfibi yang sangat efisien berkat strategi berburunya. Cormorant mengandalkan metode penyergapan jarak dekat, seperti meluncurkan lehernya yang panjang dengan sangat cepat atau mengejar ikan dalam jarak pendek begitu mangsanya terlihat di depan mata.

6. Koloni besar dan tinggal di area perairan

ilustrasi burung cormorant (commons.wikimedia.org/Alexis Lours)

Karena bulu mereka tidak kedap air, burung ini sering terlihat bertengger di atas batu atau tepi perairan sambil merentangkan kedua sayapnya untuk mengeringkan bulu di bawah sinar matahari. Dalam hal tempat tinggal, burung cormorant sangat menyukai hidup berkelompok atau berkoloni. Dilansir laman The Wildlife Trusts, dalam hal tempat tinggal, burung cormorant biasanya membuat sarang di tebing-tebing batu yang rendah di sepanjang pesisir pantai, atau di pepohonan tinggi di sekitar danau, waduk, dan sungai di area pedalaman. Kebiasaan hidup berkoloni ini membantu mereka menjaga keamanan sarang dan beraktivitas kelompoknya.

7. Paruh pengait khusus pemburu ikan

ilustrasi burung cormorant menangkap ikan (commons.wikimedia.org/Prasan Shrestha)

Sebagai kelompok burung air pemangsa ikan yang tersebar luas di wilayah pesisir, danau, hingga sungai di berbagai belahan dunia. Burung ini memiliki ciri khas berupa tubuh berwarna gelap, bagian kulit terbuka di area wajah, kantong tenggorokan kecil, serta paruh panjang dengan ujung melengkung seperti pengait (hook tipped bill). Ujung paruh pengait ini berfungsi sangat efektif untuk mencengkeram dan menahan tubuh ikan yang licin saat cormorant menyelam di dalam air. Selain perannya dalam rantai makanan perairan dan interaksinya dengan tradisi manusia, cormorant juga memiliki kontribusi ekonomi serta ekologis yang signifikan melalui kotorannya (guano).

Keberadaan burung cormorant di alam bebas menjadi bukti betapa menakjubkannya adaptasi satwa dalam bertahan hidup. Dari bulu khususnya yang mampu mengurangi daya apung hingga teknik menyelam yang presisi, burung ini membuktikan bahwa batas antara udara dan kedalaman air bukanlah halangan untuk menjadi pemburu yang tangguh. Selain unik secara biologis, hubungan panjang burung cormorant dengan tradisi manusia seperti metode dalam penangkapan ikan tradisional di Asia, menunjukkan betapa eratnya interaksi antara satwa liar dan budaya lokal.

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article