Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 Fakta Misteri Wabah Menari Strasbourg 1518, Jadi Cerita Pengabdi Setan 3

7 Fakta Misteri Wabah Menari Strasbourg 1518, Jadi Cerita Pengabdi Setan 3
Wabah Menari Strasbourg 1518 (Wikimedia Commons/Jacqke)
  • Wabah menari Strasbourg dimulai pada Juli 1518 saat Frau Troffea menari tanpa henti; dalam sekitar seminggu, lebih dari 30 orang mengalami perilaku serupa.

  • Pemerintah sempat menyediakan aula, musisi, dan penari profesional karena menganggap menari dapat mengeluarkan “darah panas”.

  • Fenomena berlangsung hingga awal September 1518 dan penyebabnya belum pasti. Teori mass psychogenic illness dinilai paling menjanjikan, meski keracunan ergot juga pernah diajukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Wabah menari di Strasbourg pada 1518 menjadi salah satu peristiwa sejarah paling aneh yang pernah tercatat. Ratusan orang dilaporkan menari tanpa henti selama berminggu-minggu hingga menyebabkan kelelahan dan bahkan kematian. Hingga kini, penyebabnya masih menjadi misteri.

Kisah tersebut kembali menarik perhatian setelah diangkat sebagai bagian dari pembuka film Pengabdi Setan 3: Origin. Penasaran dengan kejadian sebenarnya di balik fenomena ini? Yuk, simak berbagai fakta misteri wabah menari Strasbourg 1518!

  1. 1. Wabah dimulai dari seorang perempuan bernama Frau Troffea

    Wabah menari Strasbourg bermula pada pertengahan Juli 1518 ketika seorang perempuan bernama Frau Troffea tiba-tiba menari di sebuah jalan sempit di Strasbourg. Tidak seperti orang yang sedang menari untuk bersenang-senang, Troffea disebut terus bergerak tanpa bisa menghentikan dirinya. Ia menari selama berjam-jam hingga akhirnya jatuh karena kelelahan.

    Setelah beristirahat, Troffea kembali menari keesokan harinya. Dalam beberapa hari, perilaku serupa mulai dialami oleh orang lain. Dalam waktu sekitar satu minggu, jumlah orang yang ikut menari disebut telah mencapai lebih dari 30 orang. Dari sinilah kejadian yang awalnya tampak seperti perilaku aneh seorang perempuan berubah menjadi fenomena yang membuat seluruh kota kebingungan.

  2. 2. Ratusan orang akhirnya ikut menari tanpa bisa berhenti

    Dalam beberapa minggu, jumlah orang yang terlibat semakin banyak. Berbagai catatan sejarah memperkirakan jumlahnya mencapai ratusan orang, bahkan ada yang menyebut hingga 400 orang. Mereka disebut terus menari selama berhari-hari meski tubuhnya sudah kelelahan dan mengalami luka.

    Beberapa kronik bahkan mencatat adanya orang yang meninggal akibat kelelahan, serangan jantung, atau kondisi fisik yang memburuk. Namun, jumlah korban sebenarnya masih menjadi perdebatan karena catatan sejarah dari masa tersebut tidak selalu konsisten.

  3. 3. Pemerintah Strasbourg justru sempat meminta para korban untuk terus menari

    Salah satu bagian paling aneh dari wabah ini adalah respons pemerintah kota. Pada awalnya, para pemimpin Strasbourg dan tenaga medis saat itu percaya bahwa menari justru dapat membantu mengeluarkan “darah panas” dari tubuh para penderita. Pemikiran tersebut berkaitan dengan teori pengobatan yang populer pada masa itu.

    Karena itu, pemerintah menyediakan tempat seperti aula dan area publik agar orang-orang yang terkena wabah bisa terus menari. Musisi bahkan didatangkan untuk mengiringi mereka, sementara penari profesional juga diminta membantu. Bukannya meredakan keadaan, keputusan ini diduga justru membuat fenomena tersebut semakin besar karena semakin banyak orang berkumpul dan menyaksikan aktivitas menari itu.

  4. 4. Wabah berlangsung selama berminggu-minggu

    Wabah menari Strasbourg 1518
    Wabah menari Strasbourg 1518 (dok. Wikimedia Commons)

    Wabah menari Strasbourg bukan kejadian yang hanya berlangsung selama satu atau dua hari. Fenomena tersebut terus terjadi sepanjang musim panas 1518 dan baru mulai mereda pada awal September. Artinya, warga Strasbourg harus menghadapi situasi aneh ini selama kurang lebih dua bulan.

    Pada akhirnya, para pemimpin kota mulai mengubah pendekatan. Selain menghentikan berbagai fasilitas yang sebelumnya mendukung aktivitas menari, para penderita juga dibawa ke tempat yang dianggap memiliki kekuatan penyembuhan secara spiritual. Mereka kemudian menjalani ritual keagamaan yang berkaitan dengan St. Vitus, yang dipercaya memiliki hubungan dengan penyakit dan perilaku menari yang tidak terkendali.

  5. 5. Masyarakat percaya wabah tersebut berkaitan dengan St. Vitus

    Pada abad ke-16, masyarakat Strasbourg memiliki pandangan yang sangat berbeda terhadap penyakit dan perilaku aneh dibandingkan manusia modern. Penyakit tidak selalu dianggap sebagai persoalan medis. Banyak orang juga menghubungkannya dengan dosa, kutukan, hukuman Tuhan, atau kekuatan supernatural.

    Salah satu kepercayaan yang berkembang adalah bahwa St. Vitus, seorang santo yang dikaitkan dengan epilepsi dan para penari, dapat memberikan kutukan berupa dorongan untuk menari secara terus-menerus. Karena itu, ketika pengobatan yang dilakukan tidak berhasil, para penderita kemudian dibawa ke tempat-tempat yang berkaitan dengan St. Vitus untuk menjalani doa, ritual, dan bentuk penanganan keagamaan lainnya.

  6. 6. Penyebab wabah masih menjadi misteri

    Sampai sekarang, tidak ada satu penjelasan yang benar-benar bisa memastikan mengapa ratusan orang Strasbourg tiba-tiba menari tanpa terkendali. Salah satu teori yang pernah diajukan adalah keracunan ergot, yaitu jamur yang dapat tumbuh pada tanaman seperti gandum hitam dan bisa menyebabkan halusinasi serta kejang.

    Namun, teori ini memiliki sejumlah kelemahan. Gejala keracunan ergot tidak sepenuhnya cocok dengan gambaran wabah menari Strasbourg, terutama karena keracunan tersebut dapat menyebabkan gangguan aliran darah pada bagian tubuh tertentu. Selain itu, gandum hitam juga bukan sumber makanan utama di semua wilayah yang pernah mengalami fenomena serupa.

  7. 7. Teori mass psychogenic illness

    Teori yang kini dianggap paling menjanjikan adalah mass psychogenic illness atau kondisi ketika sekelompok orang mengalami gejala fisik maupun perilaku yang sama sebagai respons terhadap tekanan psikologis sangat besar. Dalam kasus Strasbourg, berbagai tekanan seperti kelaparan, penyakit, kemiskinan, ketakutan religius, dan kondisi sosial yang tidak stabil mungkin menciptakan lingkungan yang rentan terhadap fenomena semacam ini.

    Fenomena tersebut juga dapat dipahami melalui konsep social contagion, yaitu ketika perilaku, emosi, atau keyakinan menyebar di dalam kelompok melalui interaksi sosial. Melihat orang lain menari, ditambah keyakinan bahwa tubuh mereka sedang berada di bawah kutukan tertentu, mungkin membuat orang lain mengalami respons serupa. Meski begitu, teori ini tetap belum bisa menjelaskan setiap detail dari peristiwa Strasbourg secara pasti.

    Itulah beberapa fakta misteri wabah menari Strasbourg 1518 yang sampai sekarang masih menyisakan tanda tanya. Dari berbagai teori yang ada, menurut kamu mana yang paling masuk akal?

    Referensi

    "France's Strangest Epidemic Wasn't the Bubonic Plague. It Was A Dance.". National Geographic. Diakses September 2026.
    "The Dancing Plague of 1518". All About Psychology. Diakses September 2026.
    "Dancing Plague of 1518". Britannica. Diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More