Comscore Tracker

Matahari Bakal Meledak, tapi Kapan? Ini Prediksinya!

Benar-benar akhir zaman?

Menurut lagu band asal Indonesia, Noah, tak ada yang abadi. Pada akhirnya, segala makhluk — baik hidup atau mati — akan sirna dari dunia yang fana ini. Ternyata, prinsip ini berlaku juga untuk sumber cahaya dan pusat tata surya, Matahari.

Menurut berbagai model astronomi dan perhitungan matematika serta astrofisika, Matahari akan "mati" suatu saat nanti. Namun, kapan "suatu saat nanti" tersebut? Apakah kita harus siap sedia?

1. Masih lama banget, kok!

Matahari Bakal Meledak, tapi Kapan? Ini Prediksinya!ilustrasi Matahari (quantamagazine.org)

Kematian Matahari masih amat lama, beberapa triliun tahun lagi. Jadi, kita masih bisa bernapas lega? Tunggu dulu!

Kita harus mempertimbangkan deret utama Matahari, fase di mana fusi nuklir hidrogen pada Matahari mengizinkan sang bintang untuk memancarkan energi dan memberi cukup tekanan agar Matahari tetap bisa menahan massanya. Kemungkinan besar, siklus deret utama ini akan berakhir 5—10 miliar tahun lagi.

"Matahari kita berusia hampir 5 miliar tahun, atau sudah separuh baya. Kemungkinan besar, Matahari akan mati sekitar 10 miliar tahun," kata Paolo Testa, pakar astrofisika di Center for Astrophysics, pada Live Science.

2. Matahari akan menjadi "raksasa" dulu

Matahari Bakal Meledak, tapi Kapan? Ini Prediksinya!ilustrasi bintang raksasa merah (nineplanets.org)

Setelah Matahari membakar sebagian besar hidrogen dalam intinya, bintang ini akan berubah ke tahap "Raksasa merah". Menurut NASA, kemungkinan besar, fase ini akan terjadi 5 miliar tahun ke depan. Matahari akan berhenti memproduksi panas lewat fusi nuklir dan intinya menjadi tidak stabil dan berkontraksi.

Sementara itu, NASA melanjutkan bahwa bagian luar Matahari yang masih mengandung hidrogen akan mengembang dan memerah seiring memasuki pendinginan. Di fase ini, Matahari akan "menelan" dua planet pertama, Merkurius dan Venus, dan menghembuskan angin surya yang mengacaukan medan magnet Bumi dan merusak atmosfernya.

Baca Juga: 10 Bulan Paling Aneh di Tata Surya, Ada yang Mirip Bumi!

3. Akhir dari Bumi

Matahari Bakal Meledak, tapi Kapan? Ini Prediksinya!ilustrasi Bumi yang terkena angin surya (express.co.uk)

Karena medan magnet dan atmosfer Bumi sudah tak bekerja lagi, sudah pasti makhluk Bumi juga binasa akibat akhir dari Matahari. Menurut prakiraan penelitian di AS pada 2014 yang dimuat dalam jurnal Geophysical Research Letters, sinar Matahari bisa menguapkan seluruh lautan Bumi dalam 1—1,5 miliar tahun.

Sebelumnya, sebuah riset gabungan antara Inggris dan Meksiko yang dimuat dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society pada 2008 juga memperingatkan akhir dari Bumi. Dalam beberapa juta tahun setelah membesarnya Matahari, sang bintang juga akan melahap seluruh permukaan Bumi.

4. Kematian Matahari

Matahari Bakal Meledak, tapi Kapan? Ini Prediksinya!ilustrasi Matahari (newatlas.com)

Lalu, Matahari mulai meleburkan helium dari fusi hidrogen menjadi karbon dan oksigen. Setelahnya, barulah Matahari termakan oleh intinya sendiri.

Kabar baiknya, fenomena ini menghasilkan nebula pada lapisan luar Matahari seiring sang bintang mengecil dan memanas seukuran dengan Bumi. Dalam ukuran ini, Matahari berada di fase "Katai putih". Paolo memprakirakan nebula tersebut akan terlihat selama 10.000 tahun.

Setelah menjadi "Katai putih", Matahari dan segala sisanya akan menghabiskan waktu bertriliun-triliun tahun mendingin dan menjadi objek langit mati.

5. Bagaimana cara menghitungnya?

Matahari Bakal Meledak, tapi Kapan? Ini Prediksinya!ilustrasi luar angkasa (pixabay.com/Pexels)

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana manusia dapat memperhitungkan akhir dari Matahari yang masih jauh tersebut? Jawabannya adalah memperhitungkan fusi nuklir pada massa Matahari. Hingga saat ini, perhitungan tersebut masih tergolong kompleks.

"Banyak sains yang masih baru karena bagian penting dari pemahaman kinerja bintang datang dari pemahaman reaksi dan fusi nuklir. Sebelum 1930an, kinerja bintang masih diduga berasal dari energi yang dihasilkan oleh energi gravitasi," ujar Paolo.

Paolo melanjutkan karena astronom dan pakar astrofisika telah memahami fusi nuklir lebih dalam, mereka dapat menciptakan model yang lebih lengkap dengan data emisi dari beberapa bintang. Dengan inilah manusia dapat memprakirakan jangka waktu evolusi dan hidup bintang, termasuk Matahari.

Selain fusi dan reaksi nuklir, pemahaman tersebut dikuatkan oleh penanggalan radioaktif dari meteorit tertua yang terbentuk dari nebula Matahari yang menjadi awal Matahari dan planet-planet di tata surya. Dengan begitu, manusia dapat memprakirakan kapan Matahari akan meredup dan mati.

Baca Juga: Pergi ke Planet Jupiter? Ini 5 Alasan Kenapa Kamu Tak Mungkin Selamat

Topic:

  • Bayu D. Wicaksono
  • Bayu Aditya Suryanto

Berita Terkini Lainnya