TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Kisah Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur, Cikal Bakal Kejayaan Abbasiyah

peradaban Islam yang unggul dalam pengetahuan

ilustrasi potret Khalifah Abu Ja'far Al Mansur (youtube.com/M.Izdiyan Muttaqin)

Abu Ja’far Al-Manshur merupakan khalifah kedua pada masa Bani Abbasiyah. Selama masa pemerintahannya, ia dikenal sebagai khalifah yang bijaksana dan berpikiran maju. Bahkan, juga dinobatkan sebagai salah satu khalifah Bani Abbasiyah yang berprestasi.

Terdapat berbagai gebrakan baru yang ia lakukan dan menjadi cikal bakal dari kejayaan peradaban umat Islam pada saat itu. Mulai dari membenahi administrasi, memperluas jaringan politik, mendirikan Kota Baghdad sebagai ibu kota baru bagi pemerintahan Bani Abbasiyah, serta penyalinan literatur untuk memulai perkembangan ilmu pengetahuan.

Seperti apa kehidupan dan sistem pemerintahannya? Yuk, kita mulai mengenal Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur, seorang pemimpin dalam sejarah Islam sekaligus menjadi salah satu pilar dalam perkembangan Islam.

1. Biografi singkat Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur

ilustrasi potret Khalifah Abu Ja'far Al Mansur (youtube.com/M.Izdiyan Muttaqin)

Bani Abbasiyah didirikan oleh Khalifah Abul Abbas As Saffah pada tahun 750 M. Empat tahun kemudian dilanjutkan oleh adiknya yaitu Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur. Berkat kepribadiannya yang tegas, bijaksana, dan berpikiran maju, pada usia 36 tahun Al Mansur dinobatkan sebagai khalifah kedua dan menjabat selama 21 tahun.

Setelah menjalankan pemerintahan, Al Mansur wafat dalam perjalanannya ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji. Ia meninggal di sebuah daerah yang bernama Bikru Maunah dalam usia 57 tahun. Kemudian, ia dimakamkan di Kota Makkah.

Baca Juga: 5 Tokoh Ilmuwan Muslim Masa Dinasti Abbasiyah

2. Benahi administrasi pemerintahan diawal jadi khalifah

ilustrasi polisi sebuah negara (pexels.com/Ivan Cujic)

Setelah dilantik pada tahun 754 M, Al Mansur langsung memfokuskan perhatiannya pada pembenahan administrasi pemerintahan. Ia memembentuk Wazir (penasihat atau koordinator departemen) untuk mengkoordinasi departemen dari berbagai bidang. Khalid bin Barmak menjadi wazir pertama dalam pemerintahan ini. 

Secara bertahap, ia mulai membentuk lembaga protokoler negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara. Kemudian, ia menunjuk Muhammad ibn Abd Al-Rahman sebagai hakim serta memperbaiki sistem pengelolaan pos yang sudah ada sejak masa Bani Umayyah. Pembenahan administrasi ini harus ia lakukan diawal pemerintahan agar dapat menghimpun seluruh informasi dari daerah-daerah sekaligus menjadi pusat
informasi untuk mengontrol para gubernurnya.

3. Memperluas jaringan politik

ilustrasi berjabat tangan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Setelah administrasi pemerintahan di tata dengan baik, Al Mansur mulai memperluas jaringan politik Bani Abbasiyah. Ia kembali menaklukan wilayah-wilayah Bani Abbasiyah yang melepaskan diri dan menertibkan daerah perbatasan. Usahanya ini tergambarkan dalam peristiwa perebutan benteng-benteng di Asia, Kota Malatia, wilayah Cappadocia, dan Cicilia. Peristiwa ini terjadi pada tahun 756 sampai 758 M. 

Kemudian, Al Mansur juga membangun hubungan diplomatik dengan wilayah-wilayah di luar jazirah Arab. Seperti, mengadakan genjatan senjata antara tahun 758 sampai 765 M dan membuat perjanjian damai dengan Kaisar Constantine V, mengadakan penyebaran dakwah Islam ke Byzantium, mengadakan kerjasama dengan Raja Pepin dari Prancis, serta menaklukan daerah Afrika Utara pada tahun 761 M.

4. Mendirikan Kota Baghdad sebagai pusat pemerintahan

ilustrasi Kota Baghdad (Unknown authorUnknown author, Public domain, via Wikimedia Commons)

Di awal khalifah, pusat pemerintahan Bani Abbasiyah berada di Kota Anbar, Persia. Kemudian dipindahkan ke Kota Kuffah dan berakhir di Kota Baghdad. Kota Baghdad sendiri terletak di tepi sungai Tigris dan Eufrat, Persia. Kota ini dianggap sebagai daerah strategis karena sejak zaman Persia Kuno sudah menjadi pusat perdagangan yang dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai penjuru dunia, seperti para pedagang dari Cina dan India. 

Dalam membangun kota ini, Al Mansur mempekerjakan para ahli bangunan dari Syria, Mosul, Basrah, dan Kufah yang berjumlah sekitar 100 ribu orang. Di kota ini terdapat parit besar yang berfungsi sebagai saluran air sekaligus benteng, empat buah pintu gerbang sebagai jalur memasuki kota, bangunan istana yang dilengkapi masjid hingga tempat tinggal pejabat pemerintahan, serta pasar sebagai tempat perbelanjaan. 

Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, kota ini juga menjadi pusat peradaban ilmu pengetahuan. Bahkan, dalam kisah1001 malam, Baghdad disebut sebagai kota impian.

Baca Juga: 5 Ilmuwan Kedokteran Muslim Dimasa Dinasti Abbasiyah

Verified Writer

Maisix Dela Desmita

https://lynk.id/maisixdela

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya