Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa yang Terjadi pada Sungai setelah Gunung Berapi Meletus?

4 min read
Apa yang Terjadi pada Sungai setelah Gunung Berapi Meletus?
Warga bersepeda menerjang lahar di Sungai Gendol, Daerah Istimewa Yogya. (commons.wikimedia.org/Gajahsolo)
  • Lahar dari lava, abu, dan material lain dapat melaju cepat, mengikis tepi serta dasar sungai, lalu mengubah lebar, kelokan, hingga jalur alirannya.
  • Endapan material vulkanik menaikkan dasar sungai dan mengurangi kapasitas air, sehingga hujan deras memicu luapan, banjir, serta banjir lahar karena sedimen belum stabil.
  • Abu vulkanik meningkatkan kekeruhan dan menurunkan kualitas air; letusan besar juga dapat mengubah curah hujan serta debit sungai besar di berbagai wilayah dunia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tak dapat dipungkiri, gunung meletus merupakan fenomena alam yang sangat dahsyat. Letusan gunung berapi bisa diiringi gempa bumi. Semburan gas dan abu vulkanik bisa mencapai lapisan stratosfer. Material vulkanik lain seperti lava pijar dan awan panas bisa menghancurkan apa saja dilaluinya saat menuruni lereng gunung.

Sering kali, muntahan gunung berapi mengalir masuk ke dalam sungai, utamanya sungai-sungai yang berhulu di pusat erupsi. Begitu bertemu air, volume muntahan gunung berapi bisa menjadi makin besar dengan daya dobrak yang kuat. Lantas, apa efeknya pada sungai? Apa yang terjadi pada sungai setelah gunung berapi meletus?

  1. 1. Sungai mengalami erosi dan perubahan geometri

    Aliran lava di Hawai'i yang berasal dari erupsi celah.
    Aliran lava di Hawai'i yang berasal dari erupsi celah. (commons.wikimedia.org/Brocken Inaglory)

    Saat meletus, gunung berapi memuntahkan lava pijar serta awan panas yang berisi gas panas, abu vulkanik, dan batuan pijar. Lava pijar dan awan panas bisa bertemu air dan lumpur saat melewati sungai atau danau. Pertemuan ini membentuk aliran material vulkanik berbahaya yang disebut lahar.

    Menurut U.S. Geological Survey dalam laman resminya, kecepatan lahar bisa melampaui 200 km/jam di wilayah yang curam. Volume lahar bisa membesar hingga sepuluh kali lipat dari ukuran awal saat menuruni lereng. Gak lagi hanya material vulkanik, lahar membawa serta berbagai material yang dihantamnya, termasuk material bangunan.

    Akibatnya, sungai yang dilewati lahar mengalami erosi parah. Lahar yang bergerak cepat dan bervolume besar mampu mengikis tepi sungai dan dasar sungai. Alur sungai bisa melebar, berkelok, hingga berpindah jalur karena kapasitasnya melebihi batas. Geometri alami sungai pun rusak.

  2. 2. Sungai terdampak pengendapan material vulkanik

    Sungai di kawasan Gunung Sinabung setelah erupsi.
    Sungai di kawasan Gunung Sinabung setelah erupsi. (commons.wikimedia.org/IHLubis)

    Tak sampai di situ, sungai juga terdampak oleh pengendapan material vulkanik. Saat lahar melambat, material vulkanik yang dibawanya perlahan-lahan mengendap membentuk sedimen. Sedimen ini menyebabkan agradasi, di mana dasar sungai menjadi naik dan kapasitas sungai dalam menampung air berkurang drastis. Saat curah hujan tinggi, air mudah meluap dan mengakibatkan banjir di wilayah bantaran sungai.

    Curah hujan tinggi juga mampu mengikis sedimen, utamanya di lereng yang curam. Menurut Oregon Department of Emergency Management dalam laman resminya, lapisan sedimen lahar perlu waktu hingga bertahun-tahun untuk menjadi stabil. Turunnya hujan mampu mengakibatkan banjir lahar, melongsorkan material vulkanik yang belum sepenuhnya mengendap. Di Indonesia, aktivitas lahar sering meningkat seiring meningkatnya intensitas curah hujan.

  3. 3. Sungai bisa tercemar abu vulkanik

    Kali Code dan rumah-rumah di sekitarnya diselimuti abu vulkanik setelah Gunung Kelud meletus pada 2014.
    Kali Code dan rumah-rumah di sekitarnya diselimuti abu vulkanik setelah Gunung Kelud meletus pada 2014. (commons.wikimedia.org/Crisco 1492)

    Sungai-sungai yang berada jauh dari pusat erupsi bisa terdampak oleh abu vulkanik. Hujan abu vulkanik bisa masuk ke sungai dan mengganggu kehidupan air di dalamnya. Tingkat kekeruhan yang tinggi bisa mengurangi penetrasi sinar matahari, sehingga proses fotosintesis plankton dan tanaman air menjadi terganggu. Akibatnya, kadar oksigen di dalam air menurun.

    Abu vulkanik juga berpotensi mencemari sungai. Menurut Universidad de Nevarra, abu vulkanik dan partikel padat yang terbawa hujan abu bisa mengurangi kualitas air. Pasokan air minum bagi manusia dan ketersediaan air bagi hewan jadi terbatas.

  4. 4. Sungai-sungai di seluruh dunia juga bisa terdampak letusan

    Ikan trout atau ikan forel berenang di sungai dangkal. (unsplash.com/jackcharles)
    Ikan trout atau ikan forel berenang di sungai dangkal. (unsplash.com/jackcharles)

    Dampak letusan gunung berapi gak hanya terasa pada sistem sungai di wilayah tersebut. Pada skala lebih besar, letusan gunung berapi yang sangat dahsyat juga bisa mempengaruhi sungai-sungai di seluruh dunia. Sebuah studi yang dilansir Nature Geoscience 2015 lalu menemukan penurunan debit sungai signifikan pada sungai-sungai besar di dunia setelah beberapa letusan dahsyat, seperti Letusan Krakatau 1993, Letusan El Chicón 1982, dan Letusan Pinatubo 1991.

    Mengutip laman Earth Magazine, saat Gunung Pinatubo di Filipina meletus hebat 1991 lalu, erupsi melontarkan lebih dari 20 juta ton abu dan sulfur ke alpisan stratosfer. Partikel tersebut menghalangi sinar matahari dan menurunkan suhu global 0,5 derajat Celsius selama tiga tahun. Curah hujan menurun di sebagian besar wilayah bumi, khususnya di wilayah tropis beriklim basah.

    Efek curah hujan akibat letusan gunung berapi ini terlihat pada debit sungai di seluruh dunia. Di wilayah tropis, debit air beberapa sungai menjadi berkurang selama 1—2 tahun karena massa udara turun. Contohnya, debit Sungai Amazon dan Sungai Nil turun sekitar 10 persen setelah letusan besar.

    Di wilayah kering, sungai justru mengalami peningkatan debit air akibat massa udara naik dan curah hujan tinggi. Contohnya, sungai Rio Negro dan Sungai Rio Colorado. Keduanya mengalami peningkatan sebesar 25 persen.

    Jadi, letusan gunung berapi gak hanya merusak geometri sungai yang dilalui lahar dan awan panas. Abu vulkanik yang dihasilkan letusan gunung berapi juga turut mencemari sungai. Bahkan, letusan gunung berapi yang sangat dahsyat bisa berdampak pada sungai-sungai besar di seluruh dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More