gambar hujan meteor (unsplash.com/Luobulinka)
Dalam satu tahun, Bumi kita mengalami hujan meteor berkali-kali. Meski begitu, sebagian besar hujan meteor biasanya cukup lemah dan hanya menghasilkan 10 meteor per jamnya. Namun di waktu-waktu tertentu, hujan meteor yang terjadi bisa sangat intens. Hujan meteor Lyrids yang terjadi pada bulan April misalnya, menghasilkan 15-20 meteor per jam. Sedangkan hujan meteor Geminids yang berlangsung pada bulan Desember bisa menghasilkan 60-70 meteor per jamnya. Pertanyaannya dengan jumlah sebanyak ini, adakah yang bisa mencapai permukaan Bumi? Jawabannya sangat tergantung pada ukuran meteor itu sendiri. Semakin besar ukuran meteornya, maka semakin besar juga kemungkinan meteor itu menabrak Bumi dan menciptakan kerusakan di permukaannya.
Dilansir NASA, kabar baiknya sebagian besar partikel yang ditinggalkan meteor memiliki ukuran yang sangat kecil. Mayoritas berukuran gak lebih dari pasir, sedangkan sisanya memiliki ukuran sebesar kacang polong. Partikel ini akan memasuki atmosfer dengan cepat, dan terbakar pada ketinggian sekitar 80-120 kilometer sebelum sempat menyentuh permukaan. Namun bukan berarti Bumi akan selalu dalam keadaan aman.
Pada situasi tertentu, pecahan komet atau asteroid meninggalkan bongkahan meteor yang lebih besar. Dengan ukuran yang besar, meteor ini bisa bertahan melewati atmosfer dan mencapai permukaan Bumi. Nah batu yang berhasil mencapai permukaan inilah yang kemudian dikenal dengan istilah meteorit. Tenang, peristiwa seperti ini biasanya sangat langka dan hanya terjadi puluhan tahun sekali.
Meski cukup sering terjadi, fenomena hujan meteor tetap menarik untuk disaksikan. Terlebih kamu juga gak memerlukan peralatan khusus seperti teleskop untuk melihatnya. Hujan meteor umumnya bisa disaksikan di wilayah perkotaan, namun akan jauh lebih baik jika kamu melihatnya dari lokasi yang jauh dari polusi cahaya.