Ular (unsplash.com/David Clode)
Dalam kajian zoologi, klasifikasi vertebrata tidak hanya berdasarkan ada atau tidak adanya tulang belakang, tetapi juga sistem saraf pusat yang terlindungi oleh kolom vertebra. Ular memenuhi kedua kriteria tersebut. Sistem saraf ular yang berjalan melalui kanal di dalam tulang belakangnya, memungkinkan transmisi impuls motorik dan sensorik secara efektif ke seluruh tubuh.
Selain itu, ular juga memiliki sistem skeletal lain seperti tengkorak, tulang rahang, dan rusuk. Struktur-struktur ini menopang otot, jaringan, dan organ vital, serta menjadi penghubung utama dalam sistem gerak. Artinya, secara ilmiah, tidak ada celah untuk menyebut ular sebagai hewan invertebrata. Keberadaan sistem rangka internal justru menegaskan status ular sebagai vertebrata sejati, sekelas dengan mamalia, burung, amfibi, dan ikan.
Struktur tubuh ular memang sering menimbulkan kesan seolah tidak bertulang, tetapi ilmu biologi memberi penjelasan yang sangat kontras dengan persepsi itu. Ular justru memiliki ratusan ruas tulang belakang yang menjadi fondasi geraknya. Setiap bagian kerangka tubuhnya punya peran penting dalam berburu, bergerak, dan mempertahankan diri. Semoga penjelasan di atas bisa menjawab rasa penasaran kamu tentang apakah ular memiliki tulang belakang atau tidak.
Referensi:
"Sneaky Snake Facts". Biomedical Sciences – University of Melbourne. Diakses pada Juni 2025.
"Snake: Form and Function". Britannica. Diakses pada Juni 2025.
“A study on the vertebral column of the dice snake Natrix tessellata (Serpentes, Natricidae) from Denizli (western Anatolia, Turkey)”. The Anatomical Record. Diakses pada Juni 2025.