Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
 Apakah Wilayah Jelajah Ular Bisa Berubah Akibat Perubahan Iklim?
ilustrasi ular (unsplash.com/Nivedh P)
  • Kenaikan suhu global dan perubahan pola cuaca menggeser habitat ular, mendorong sejumlah spesies berpindah ke wilayah lebih sejuk, tinggi, atau dekat permukiman dan pertanian.

  • Dampaknya berbeda antarspesies: bush viper dan Brazil’s lanceheads berisiko kehilangan lebih dari 70% habitat, sementara rhinoceros viper serta asp viper dapat memperluas jangkauan lebih dari 100%.

  • Pergeseran ular berbisa meningkatkan risiko gigitan, terutama di daerah terpencil dan miskin yang akses layanan kesehatan serta persediaan antivenomnya terbatas, sehingga konservasi dan mitigasi makin menantang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perubahan iklim global ternyata tidak hanya berdampak pada mencairnya es di kutub atau naiknya permukaan air laut. Fenomena lingkungan ini diam-diam juga memicu pergeseran besar pada habitat berbagai satwa liar, salah satunya adalah kelompok reptil seperti ular. Sebagai hewan berdarah dingin, suhu tubuh ular sangat bergantung pada kondisi lingkungan di sekitarnya.

Akibat bumi yang semakin panas dan pola cuaca yang tidak menentu, wilayah jelajah atau habitat alami ular dilaporkan mengalami perubahan drastis. Banyak jenis ular yang terpaksa bermigrasi ke tempat-tempat baru, mulai dari wilayah yang lebih tinggi, kawasan yang lebih sejuk, hingga mendekati area pemukiman padat penduduk demi bertahan hidup. Penasaran apa saja fakta menarik di balik fenomena perpindahan habitat ini? Yuk, simak faktanya berikut ini!

 

1. Suhu yang meningkat dapat mengubah wilayah habitat ular

ilustrasi ular berbisa (unsplash.com/Felipe Simo)

Dilansir The Guardian, penelitian yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa kenaikan suhu global berbagai spesies ular di seluruh dunia bisa mengubah atau memperluas wilayah jelajah mereka. Perubahan iklim dan alih fungsi lahan membuat ular-ular berbisa seperti kobra di Afrika, viper di Eropa, hingga krait di Asia harus berpindah tempat demi menghindari cuaca yang terlalu panas. Meskipun banyak populasi ular yang terancam menyusut atau punah akibat kerusakan lingkungan, sebagian ular paling mematikan justru diproyeksikan menyebar ke wilayah-wilayah baru.

Pergeseran ini berpotensi membawa ular ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah menjadi habitat mereka, sehingga memicu pertemuan tak terduga dengan manusia. Dampak dari pergeseran ini akan dirasakan paling parah di daerah terpencil dan miskin, di mana masyarakat sering kali bekerja tanpa alas kaki di ladang dan memiliki akses terbatas ke fasilitas kesehatan. Keterbatasan persediaan antivenom di daerah-daerah tersebut memperbesar risiko kematian maupun cacat jangka panjang akibat gigitan ular.

2. Tidak semua ular akan memperluas wilayah jelajahnya

ilustrasi ular (unsplash.com/David Clode)

Sejumlah spesies ular di bumi menghadapi ancaman kepunahan lokal karena habitat mereka menjadi terlalu ekstrem. Beberapa penelitian memperkirakan bahwa beberapa jenis ular seperti bush viper dan Brazil’s lanceheads berisiko kehilangan lebih dari 70 persen wilayah tempat tinggalnya, terutama di kawasan hutan hujan seperti Amazon dan wilayah Afrika Selatan. Sebaliknya, sebagian spesies ular lainnya justru mendapatkan keuntungan dari kenaikan suhu global.

Dilansir Down to Earth, ular-ular seperti rhinoceros viper dan asp viper diprediksi dapat memperluas wilayah jelajah hingga lebih dari 100 persen karena daerah baru yang sebelumnya terlalu dingin kini menjadi ramah untuk ditinggali. Perpindahan ini berpotensi memicu migrasi massal dengan kecepatan gerak ular yang bisa mencapai lebih dari 100 kilometer dalam setahun. Wilayah-wilayah baru seperti Amerika Serikat bagian tertentu, Eropa Utara, serta kawasan agrikultur di Asia dan Afrika diproyeksikan akan kedatangan spesies ular baru.

3. Perubahan iklim membuat konservasi ular semakin menantang

ilustrasi ular (unsplash.com/David Clode)

Perubahan iklim menjadi ancaman tersembunyi yang memperparah kasus gigitan ular yang selama ini dikategorikan sebagai penyakit tropis terabaikan. Seiring dengan kenaikan suhu global, cuaca ekstrem, dan perubahan lingkungan, habitat alami ular mengalami pergeseran. Akibatnya, ular terpaksa berpindah ke wilayah-wilayah baru atau mendekati area pemukiman dan pertanian, sehingga meningkatkan risiko interaksi dan konflik berbahaya antara manusia dan ular.

Analisis pemetaan geografis (GIS) yang dilakukan WHO menunjukkan bahwa banyak spesies ular berbisa diprediksi akan bertambah populasinya serta memperluas jangkauan wilayahnya ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah terpapar. Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah tersebut menjadi lebih rentan terhadap gigitan ular. Tanpa mitigasi yang tepat, pergeseran ekosistem ini akan memperluas zona konflik dan memicu krisis kesehatan baru di berbagai daerah rawan.

Perubahan iklim secara nyata memengaruhi pergeseran batasan geografis dan wilayah jelajah ular, terutama karena reptil merupakan hewan yang sangat bergantung pada suhu lingkungan. Peningkatan suhu global serta perubahan pola curah hujan memaksa berbagai spesies ular untuk bermigrasi ke dataran yang lebih tinggi atau wilayah lintang yang lebih sejuk demi menjaga kestabilan metabolisme dan kelangsungan hidup mereka. Dinamika pergeseran habitat ini tentu membawa implikasi ekologis yang luas, termasuk risiko meningkatnya interaksi antara manusia dan ular.

 

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article