Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Gerhana Ada Hubungannya dengan Kematian? Ini Kata Sains!

5 min read
Benarkah Gerhana Ada Hubungannya dengan Kematian? Ini Kata Sains!
gerhana yang terlihat dari padang pasir (unsplash.com/Sean Pierce)
  • Gerhana dahulu kerap dianggap pertanda kematian atau nasib penguasa karena minimnya pemahaman astronomi, lalu dikaitkan dengan astrologi dan peristiwa tragis.
  • Kematian Ibrahim Ibn Muhammad serta Raja Henry I pernah dihubungkan dengan gerhana, tetapi artikel menekankan bias konfirmasi dan penolakan Nabi Muhammad terhadap mitos tersebut.
  • Raja Mongkut meninggal akibat malaria setelah menyaksikan gerhana, bukan akibat gerhananya; secara sains, risiko langsung utama saat gerhana adalah kerusakan retina bila melihat Matahari tanpa pelindung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gerhana di zaman modern atau saat ini, merupakan peristiwa yang amat menarik dan tak mungkin luput dari sorotan media. Yap, baik itu gerhana bulan, di mana bumi bergerak di antara matahari dan bulan, atau gerhana matahari di mana bulan bergerak di antara matahari dan bumi. Nah, saat peristiwa itu mendekat, banyak orang yang bergegas membeli kacamata gerhana dan memperingatkan orang-orang untuk tidak melihat gerhana secara langsung dengan mata telanjang.

Namun, di abad-abad sebelumnya, gerhana merupakan fenomena yang menakutkan, lho. Gerhana juga sering dianggap sebagai pertanda kematian. Kira-kira bagaimana ya, pandangan sains terkait hal ini? Mari kita cari tahu!

  1. 1. Gerhana sering dikaitkan dengan penguasa dunia

    ilustrasi gerhana
    ilustrasi gerhana (pixabay.com/Enrique)

    Tanpa mengetahui ilmu astronomi yang kita yakini sekarang, banyak orang zaman dulu menganggap gerhana sebagai fenomena yang menakutkan. Bagaimana tidak, mereka melihat matahari tiba-tiba menghilang di tengah hari dan membuat dunia gelap selama beberapa menit. Tentu hal ini sangat meresahkan jika tidak tahu penjelasan ilmiahnya. Ditambah lagi dengan peristiwa tragis yang terjadi segera setelahnya, gerhana pasti akan disalahkan.

    Menurut astrologi—yang berbeda dengan astronomi—gerhana terkait erat dengan nasib para penguasa, mulai dari raja-raja peradaban kuno hingga presiden modern. Yap, dikutip USA Today, faktanya, Donald Trump lahir pada 14 Juni 1946, bertepatan saat gerhana bulan, lho. Juga, nasib presiden AS ke-47 ini menjadi topik hangat setiap kali fenomena astronomi tersebut mendekat.

    Bisa dimakhlumi sih, kenapa prediksi ini membuat para penguasa agak gelisah. Mengingat, pada tahun 1581, Ratu Elizabeth bahkan melarang penggunaan astrologi untuk memprediksi kematian seorang raja. Adapun, di Mesopotamia kuno, ketika para pendeta dan ilmuwan kuno mampu memprediksi kapan gerhana akan terjadi, mereka menemukan taktik cerdik untuk mengganti raja dengan pengganti sampai gerhana berlalu.

  2. 2. Tragedi yang bertepatan dengan gerhana

    lukisan Raja Henry I
    lukisan Raja Henry I (commons.wikimedia.org/Dcoetzee)

    Salah satu alasan kenapa pertanda gerhana tetap ada sepanjang sejarah adalah tragedi yang kebetulan terjadi selama atau mendekati gerhana. Di masa ketika sains belum sepenuhnya dipahami, akan sangat mudah untuk membantah logika ketika penguasa atau tokoh berpengaruh tiba-tiba meninggal setelah para astrolog memprediksikannya. Bahkan jika waktunya tidak sempurna, rasa takut dan misteri seputar gerhana bisa membuat kebetulan tampak seperti pertanda yang menjadi kenyataan.

    Menurut studi yang ditulis Ahmad Ainul Yaqin, dkk., berjudul "Hadis Gerhana dan Wafatnya Ibrahim Ibn Muhammad" (2018), dalam jurnal Tahkim, gerhana matahari dikaitkan dengan meninggalnya putra Nabi Muhammad SAW yang bernama Ibrahim Ibn Muhammad di usia 1 tahun 10 bulan (22 bulan). Ia meninggal pada hari senin 27 Januari 632 M atau 29 Syawal 10 H. Banyak orang pada masa itu mengaitkan kematian Ibrahim dengan gerhana matahari tersebut. Namun, Nabi Muhammad SAW dengan tegas menentang mitos tersebut. Beliau mengajarkan umat Islam untuk berpandangan secara rasional dalam menyikapi fenomena tersebut.

    Ada lagi salah satu contoh terkenal, Raja Henry I, yang hidup pada abad ke-12. Kematiannya bertepatan dengan gerhana. Sebab, ia berangkat ke Prancis sehari sebelum peristiwa itu. Nah, ada kekhawatiran dari para astrolog kalau langit yang gelap merupakan peringatan bahwa raja berada dalam bahaya. Henry pun tidak pernah kembali ke Inggris, sehingga membuktikan ramalan itu benar. Namun, bagian penting dari cerita yang tidak banyak diketahui adalah, Raja Henry meninggal dua tahun setelah gerhana terjadi, atau setelah ia sakit dalam waktu yang singkat.

    Peristiwa seperti ini adalah bentuk bias konfirmasi. Setelah orang percaya bahwa gerhana akan menyebabkan kematian dan tragedi, mereka mulai memperhatikan peristiwa yang bertepatan dengan waktunya. Mirip dengan ilusi frekuensi, begitu orang mulai mencari hubungan, mereka mengalami fenomena aneh di mana mereka melihatnya di mana-mana. Nah, fenomena ini justru tidak pernah dibahas setiap kali terjadi gerhana selama berabad-abad, yang tampaknya tidak ada tragedi yang terjadi.

  3. 3. Gerhana yang memang berperan dalam kematian seorang raja

    Raja Siam pertama, Raja Mongkut, mengenakan jubah kenegaraan, Bangkok.
    Raja Siam pertama, Raja Mongkut, mengenakan jubah kenegaraan, Bangkok. (commons.wikimedia.org/J. Thomson)

    Dikutip Britannica, Raja Mongkut dari Siam (mantan raja Thailand), yang memerintah dari tahun 1851 hingga 1868, sangat tertarik dengan astronomi. Obsesinya itu membawa dirinya melakukan perjalanan ke sebuah desa terpencil untuk menyaksikan peristiwa astronomi paling menarik dalam hidupnya, yaitu gerhana matahari total. Ia pun memprediksi waktu dan durasi gerhana dengan ketepatan yang luar biasa, bahkan mengungguli para astronom Prancis, yang meleset dua detik.

    Mongkut menyaksikan peristiwa itu dengan kagum. Namun, ia digigit nyamuk selama perjalanan, dan meninggal karena malaria beberapa minggu kemudian. Meskipun gerhana itu sendiri tidak secara langsung memenuhi pertanda yang diperingatkan kepadanya oleh para astrolog kerajaan, ada kemungkinan "senja palsu" yang disebabkan oleh gerhana tersebut yang membingungkan hewan, termasuk nyamuk, yang menjadi penyebab munculnya banyak nyamuk pada malam itu, seperti yang dilansir Science History.

    Kematian Raja Mongkut yang ironis di dekat gerhana tersebut semakin memperkuat takhayul seputar gerhana. Sebab, jika ia tetap berada di rumah, seperti yang disarankan oleh para astrolognya, bisa saja ia selamat dari gigitan nyamuk yang mematikan itu. Namun, bahaya gerhana lebih bersifat supranatural daripada biologis, dan peristiwanya selalu muncul dengan pola yang sama, serta selalu menimbulkan kehebohan. Bahkan kematian Raja Harald V dari Norwegia pada tahun 2026 pun memicu perbincangan para penganut takhayul, karena terjadi dalam waktu setengah jam setelah gerhana bulan.

    Yap, prediksi kematian dan tragedi kini sebagian besar dianggap sebagai takhayul aja, nih. Seperti yang kamu tahu, satu-satunya bagian tubuh yang mungkin berada dalam bahaya selama gerhana adalah retina kita aja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More