Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Hewan Bisa Memprediksi Erupsi Gunung Berapi?
Kawanan kambing ternak berkumpul. (pixabay.com/artellliii72-15900295)
  • Hewan dapat merasakan sejumlah tanda alam yang menyertai aktivitas vulkanik dan gempa.

  • Perubahan perilaku hewan pernah diamati sebelum gempa dan erupsi, tetapi penyebabnya belum diketahui pasti.

  • Hewan berpotensi membantu peringatan dini, tetapi belum cukup untuk menggantikan sistem pemantauan bencana.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebagai negara yang berada di jalur Cincin Api, Indonesia punya banyak gunung berapi aktif. Gak mengherankan kalau aktivitas vulkanik di Indonesia sangat tinggi. Penting bagi Indonesia untuk memiliki sistem peringatan dini yang mumpuni untuk memitigasi bencana.

Namun, sudah jadi anggapan umum kalau hewan bisa merasakan tanda-tanda gunung berapi hendak meletus. Banyak kesaksian menyatakan hewan-hewan turun gunung, burung-burung berterbangan, sampai hewan ternak terlihat gelisah sebelum erupsi terjadi. Namun, dilihat dari segi sains, benarkah hewan bisa memprediksi erupsi gunung berapi? Apakah kita bisa menggunakan hewan sebagai sistem peringatan dini alami?

1. Anggapan umum yang sudah ada sejak Sebelum Masehi

Kawanan gajah afrika di habitat asli mereka. (commons.wikimedia.org/Mark De Scande)

Gak hanya 1 atau 2. Ada begitu banyak cerita dan kesaksian mengenai hewan-hewan yang seperti punya firasat sebelum terjadinya bencana alam, contohnya pada bencana tsunami Samudra Hindia 2004 lalu. Seperti yang diwartakan laman National Geographic, sebelum gelombang tsunami menghantam pesisir Sri Lanka dan India, hewan-hewan berperilaku aneh. Kesaksian menyebutkan kawanan gajah berteriak dan berlari ke tempat tinggi. Anjing enggan meninggalkan rumah. Flamingo meninggalkan tempat berbiak mereka di dataran rendah. Hewan-hewan di kebun binatang pun berlarian masuk ke kandang.

Gagasan kalau hewan punya semacam "indra keenam" ternyata sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Jauh pada tahun 373 Sebelum Masehi, sejarawan Yunani Thucydides pernah mencatat sebuah peristiwa. Tikus, anjing, ular, dan musang ramai-ramai meninggalkan Kota Helike beberapa hari sebelum gempa bumi dahsyat melanda wilayah itu.

Anggapan umumnya, hewan lebih unggul dalam mendeteksi fenomena alam. Mereka dibekali indra yang lebih tajam untuk mendengarkan dan merasakan sesuatu yang tidak bisa dideteksi manusia. Karena itu, hewan bisa sadar akan adanya bencana alam jauh sebelum manusia menyadarinya.

2. Benarkah hewan bisa mendeteksi bencana alam?

Sepasang kerbau air memamah biak di Sri Lanka. (commons.wikimedia.org/Andrew Currie)

Lantas, apa kata sains? Benarkah hewan lebih baik dalam mendeteksi bencana alam seperti gunung meletus dan gempa bumi? Menurut penjelasan dari laman The Average Scientist, peristiwa dahsyat seperti gunung meletus dan gempa bumi sering disertai dengan osilasi frekuensi rendah atau bunyi infrasonik. Bunyi ini gak bisa manusia dengar, tapi hewan bisa merasakannya.

Gajah bisa mendeteksi infrasonik lewat bantalan di telapak kaki mereka. Anjing mendeteksinya lewat pendengaran mereka yang tajam. Burung seperti merpati bahkan bisa merasakan infrasonik serendah 0,5 Hz, sangat jauh dari ambang batas pendengaran manusia sebesar 20 Hz.

Gak cuma itu, hewan juga punya penciuman yang tajam. Sebelum gempa dan letusan gunung berapi terjadi, sering kali ada perubahan pada konsentrasi gas di udara. Umumnya, ada radon dan sulfur.

Manusia tidak bisa menyadari perubahan ini. Bagi hewan, perubahan konsentrasi gas ini seperti bau menyengat yang menggelisahkan. Peningkatan kadar radon atau sulfur langsung memicu stres dan respons melarikan diri pada anjing atau kucing.

3. Apakah hewan bisa memprediksi erupsi gunung berapi dan gempa?

Kawanan kambing melintas di kaki gunung. (pixabay.com/raindom-9710525)

Kalau begitu, apakah hewan bisa memprediksi terjadinya bencana alam seperti gunung meletus dan gempa bumi? Mengutip laman BBC, penelitian mengenai apakah hewan bisa memprediksi bencana alam pernah dilakukan oleh pakar perilaku hewan Martin Wikelski dari Max Planck Institute of Animal Behavior di Jerman. Martin mempelajari pola pergerakan sapi, domba, dan anjing di sebuah peternakan di wilayah Marches, Italia tengah, yang rawan gempa.

Selama periode penelitian, terdapat lebih dari 18 ribu gempa di wilayah itu, dari yang kecil sampai besar. Hasilnya, tim menemukan bahwa hewan ternak berperilaku berbeda sejak kurun waktu hingga 20 jam sebelum gempa terjadi. Setiap kali hewan jadi 50 persen lebih aktif selama lebih dari 45 menit berturut-turut, peneliti memprediksi akan terjadi gempa dengan magnitudo di atas 4,0. Tujuh dari delapan gempa kuat berhasil diprediksi lewat metode ini.

Studi lain juga dilakukan Martin untuk mencari tahu apakah hewan juga bisa memprediksi erupsi gunung berapi. Tim memantau pergerakan kambing ternak di lereng vulkanik Gunung Etna, Sicily, salah satu gunung berapi paling aktif di Eropa. Menariknya, hewan ternak ini seperti punya firasat awal kapan Gunung Etna akan kembali aktif.

Tiap kali terjadi erupsi, kambing-kambing itu menjadi aktif. Mereka berlarian ke sana kemari, beberapa bersembunyi di balik semak-semak atau pepohonan berjam-jam sebelum letusan besar akan terjadi. Aktivitas mereka selalu meningkat tiap hendak terjadi letusan besar.

Alasan di balik perilaku ini belum diketahui pasti. Dalam laman ICARUS Global Monitoring with Animals, Martin Wikelski menerangkan bahwa kemungkinan hal ini dipicu oleh bau magma yang sedang naik dan merembes keluar melalui tanah. Gas-gas mengandung zat seperti sulfur dan hidrogen ini menguar dari bebatuan cair yang membara.

Untuk memastikan validitas temuannya, penelitian dilanjutkan selama 2 tahun. Setelahnya, tim mencatat 27 letusan dengan tujuh di antaranya merupakan letusan berskala besar. Terbukti, tiap kali letusan besar akan segera terjadi, hewan-hewan tersebut sudah menunjukkan kegelisahan berjam-jam sebelumnya.

4. Kemungkinan hewan digunakan sebagai sistem peringatan dini alami

Sekumpulan ayam ternak di dalam kandang. (commons.wikimedia.org/Adoscam)

Memang benar, banyak hewan dilengkapi seperangkat indra yang sangat canggih untuk menangkap sinyal-sinyal alam. Mereka sudah mengembangkan sistem tersendiri untuk mendeteksi aktivitas vulkanik dan seismik yang bisa membahayakan kelangsungan spesies. Jadi, sangat mungkin bila beberapa hewan bisa mendeteksi tanda-tanda awal erupsi gunung berapi atau gempa bumi.

Mengenai apakah hewan bisa jadi sistem peringatan dini alami bagi manusia, masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Kita masih perlu mengamati lebih banyak hewan dalam jangka waktu lebih lama. Tentunya, pengamatan dilakukan di berbagai zona rawan bencana di seluruh dunia.

Gak semua ahli berpendapat bahwa sistem peringatan dini berbasis hewan bisa jadi pilihan layak untuk memprediksi bencana. Hewan bisa bereaksi terhadap banyak hal, seperti rasa lapar, upaya mempertahankan wilayah, perkawinan, ataupun predator. Menurut Andy Michael, seorang ahli geofisika dari Unites States Geological Survey, sulit untuk melakukan penelitian terkontrol guna mendapatkan sinyal peringatan dini. Hasil yang konkret belum pernah diperoleh, tuturnya untuk National Geographic.

Bahkan, sekalipun sistem tersebut bermanfaat, mengandalkan pergerakan hewan saja gak akan cukup. Kita perlu mengandalkan kombinasi berbagai sinyal peringatan dini untuk mendapatkan gambaran yang utuh. Meski belum bisa mengandalkan sepenuhnya, tidak ada salahnya kita menjadi lebih sadar dan jeli dalam memperhatikan gerak-gerik hewan sebelum bencana terjadi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article