Dalam kategori satwa, pastinya ada ribuan spesies hewan endemik yang menghuni Pulau Papua sejak lama. Sayangnya, karena berbagai alasan, saat ini sudah banyak hewan endemik Pulau Papua yang semakin terancam. Malahan, beberapa di antaranya sudah masuk dalam tingkat yang mengkhawatirkan sampai-sampai tidak hanya dikategorikan terancam punah, tetapi juga sempat dinyatakan punah.
5 Hewan Endemik Papua yang Paling Terancam Punah, Ada Kuskus!

Papua memiliki banyak hewan endemik yang kini terancam punah.
Kerusakan habitat dan perburuan liar menjadi ancaman utama bagi satwa tersebut.
Konservasi diperlukan untuk menjaga keanekaragaman hayati Papua tetap lestari.
Sebagai pulau yang menyandang predikat terbesar kedua di dunia, Papua jelas punya keanekaragaman hayati yang begitu besar. Pulau yang terbagi atas dua negara berbeda ini punya karakteristik alam yang mirip seperti wilayah Australia sehingga kita banyak menemukan berbagai spesies tanaman, marsupial, reptil, dan burung yang serupa. Meski begitu, kita tetap bisa menemukan berbagai spesies endemik yang tak dapat ditemukan di belahan Bumi mana pun.
Pastinya menyedihkan kalau sampai hewan-hewan tersebut hilang dalam waktu yang akan datang. Untuk itu, yuk, kita kenali mereka, identifikasi penyebab menurunnya populasi mereka, dan sama-sama cari tahu cara agar mereka tetap lestari! Simak pembahasan di bawah ini sampai tuntas, ya!
1. Payangko

spesimen payangko yang berhasil diabadikan untuk diteliti (commons.wikimedia.org/Naturalis Biodiversity Center) Bayangkan, ada spesies hewan yang dinyatakan hilang sejak 1961, tetapi secara ajaib ditemukan lagi setelah 60 tahun atau tepatnya pada November 2023 silam. Namanya adalah payangko atau attenborough’s long-beaked echidna (Zaglossus attenboroughi), salah satu spesies ekidna yang dikenal sebagai keluarga mamalia yang bertelur untuk bereproduksi. Nama mereka dalam bahasa Inggris diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok penyiar dan ahli biologi asal Inggris, Sir David Attenborough, atas dedikasinya pada dunia alam selama lebih dari setengah abad ke belakang.
Dilansir Animal Diversity Web, saat ini satu-satunya tempat kita bisa menemukan payangko adalah Pegunungan Cycloop, Jayapura, Papua. Mereka ditemukan di hutan hujan wilayah pegunungan dengan elevasi antara 200–1.700 meter di atas permukaan laut. Mengingat masih terbatasnya informasi soal hewan ini, diperkirakan luas area yang jadi rumah mereka hanya mencakup lahan seluas 50 km persegi.
Payangko punya ukuran yang mungil dibandingkan dengan spesies ekidna lain. Panjang tubuh mereka hanya 30 cm dengan bobot 2–3 kg. Masing-masing kaki mereka terdapat lima cakar yang cukup tajam dan andal untuk menggali tanah. Uniknya, di punggung sampai ekor payangko terdapat semacam duri pendek berwarna putih. Selain itu, individu dewasa tidak punya gigi, tetapi digantikan dengan lidah yang dipenuhi tonjolan tajam bak sebuah gigi.
Menurut IUCN Red List, saat ini payangko masuk dalam kategori hewan kritis (Critically Endangered) dengan tren populasi yang terus menurun. Selain karena baru ditemukan setelah “menghilang” selama 1 abad lebih, ancaman dari kerusakan habitat alami terus sangat mengganggu pertumbuhan populasi hewan ini. Tentunya, upaya konservasi secara maksimal sudah dilakukan agar mamalia endemik yang unik dari Pulau Papua dapat tetap lestari.
2. Kuskus totol hitam

potret kuskus totol hitam yang langka (commons.wikimedia.org/ZOOVANCHO180) Beberapa waktu silam, ada video viral yang menunjukkan sosok kuskus berwarna krem dan jingga berdiri di atas sebuah tunggul pohon dengan lingkungan hutan di sekitarnya yang sudah dibabat habis. Video itu jelas menyayat hati siapa pun yang melihatnya karena pembalakan hutan secara serampangan di Papua memengaruhi tempat tinggal hewan itu secara langsung. Usut punya usut, sosok hewan tersebut ternyata adalah kuskus totol hitam (Spilocuscus rufoniger).
Animal Diversity Web melansir kalau kuskus totol hitam suka berada di kawasan hutan hujan tropis dan padang rumput dengan ketinggian antara 0–1.200 meter di atas permukaan laut. Persebaran mereka utamanya berada di bagian utara Pulau Papua yang meliputi Provinsi Papua Barat dan Papua di Indonesia serta Provinsi Morobe maupun Sattelberg di Papua Nugini. Ukuran kuskus totol hitam kurang lebih sama seperti kucing domestik. Panjang tubuh mereka sekitar 70 cm, tambahan ekor 50 cm, dan bobot 6–7 kg.
Ciri khas mereka terletak pada warna krem kekuningan dengan totol hitam di area perut, wajah berbentuk bulat, moncong agak panjang, dan cakar depan melengkung. Cakar tersebut dimanfaatkan untuk mencengkram pohon kuat-kuat sehingga memudahkan pergerakan kuskus totol hitam di atas pohon. Oh, ya, selain tergolong sebagai hewan arboreal, kuskus totol hitam juga merupakan salah satu spesies marsupial di Pulau Papua. Karena itu, terdapat kantung khusus untuk melindungi anak di sekitar perut induk betina.
Adapun, soal status konservasi, saat ini IUCN Red List menempatkan kuskus totol hitam dalam kategori kritis (Critically Endangered) dengan tren populasi yang terus menurun. Ancaman terbesar bagi marsupial endemik Pulau Papua ini ialah kerusakan lahan yang semakin masif terjadi serta perburuan liar atas berbagai alasan. Belum lagi, rencana pembukaan lahan secara besar-besaran dalam beberapa tahun ke depan oleh Pemerintah Indonesia juga jadi ancaman nyata bagi spesies ini jika dilakukan secara serampangan, tanpa memikirkan bencana ekologis yang mungkin menyertai.
3. Kanguru pohon mbaiso

potret kanguru pohon doria (Dendrolagus dorianus) yang cukup mirip seperti kanguru pohon mbaiso (commons.wikimedia.org/Daniel Boyland) Tak hanya di Australia, di Pulau Papua kita juga bisa menemukan beberapa spesies kanguru dan kerabat mereka (walabi). Salah satu yang paling unik sekaligus terancam adalah kanguru pohon mbaiso atau dingiso (Dendrolagus mbaiso). Penamaan mbaiso pada spesies ini terinspirasi dari bahasa Moni yang berarti 'binatang terlarang'. Alasannya, dalam tradisi masyarakat setempat, kanguru pohon mbaiso dipercaya sebagai jelmaan roh dari nenek moyang.
Kalau dilihat sekilas, kanguru pohon mbaiso memang tampak mirip seperti seekor koala dengan warna tubuh hitam dan putih. Sebagai anggota dari famili Macropodidae, tentunya kanguru pohon ini juga tergolong marsupial yang punya kantung di perut. Dilansir Animalia, meski tergolong “kanguru pohon”, hewan yang satu ini ternyata lebih condong sebagai hewan terestrial alias banyak menghabiskan waktu di atas tanah meski sebenarnya bisa hidup dengan baik di atas pohon.
Untuk persebaran, kanguru pohon mbaiso secara eksklusif berada di Provinsi Papua Tengah dan Papua Pegunungan, tepatnya wilayah bernama Barisan Sudirman atau Barisan Nassau. Mereka tinggal di hutan pegunungan dengan elevasi antara 3.250–4.200 meter di atas permukaan laut. Uniknya, spesies ini baru pertama kali diidentifikasi secara ilmiah pada 1995 oleh Tim Flannery dan timnya setelah sebelumnya tertangkap kamera Gerald Cubitt sekitar 1990.
Sejak awal diidentifikasi sampai sekarang, tak banyak fakta yang kita ketahui soal kanguru pohon mbaiso. Namun, mengingat peta persebaran yang sangat terbatas, IUCN Red List menempatkan hewan ini dalam status terancam punah (Endangered) dengan tren populasi yang terus menurun. Alasan di balik pemberian status ini terbilang mudah ditebak. Soalnya, populasi kanguru pohon mbaiso masih mengalami ancaman kehilangan habitat alami akibat aktivitas manusia dan perburuan liar yang tak terkontrol.
4. Codot bulmer

potret koloni kelelawar buah yang sedang terbang (commons.wikimedia.org/Peter Addor) Selain marsupial, Pulau Papua jadi rumah dari berbagai spesies mamalia terbang yang unik, salah satunya codot bulmer (Aproteles bulmerae), kelelawar buah berukuran jumbo. Mereka satu-satunya spesies dari genus Aproteles yang diduga sudah eksis sejak 12 ribu tahun yang lalu berdasarkan penemuan fosil di Provinsi Simbu, Papua Nugini. Namun, codot bulmer juga sempat dikira punah sekitar 9 ribu tahun yang lalu sebelum akhirnya teridentifikasi sekitar 1975 di Hindenburg Wall, Papua Nugini.
Codot bulmer tampil dengan warna tubuh serba hitam, kecuali pada area leher dan kepala yang berwarna cokelat keputihan. Mereka tak memiliki gigi seri atas maupun bawah yang jadi pembeda dari spesies kelelawar buah lain. Selain gigi, bagian belakang kelelawar ini terbilang unik karena sepasang sayap mereka melekat di garis punggung sehingga bagian tersebut tidak tumbuh rambut layaknya kelelawar lain. Soal ukuran tubuh, rentang sayap dari kelelawar raksasa ini mencapai 1 meter dengan bobot tubuh dewasa sekitar 600 gram.
Persebaran codot bulmer terbilang sangat eksklusif. Animalia melansir kalau saat ini mereka hanya ditemukan di beberapa titik di Papua Nugini, semisal Gua Luplupwintem di Provinsi Barat, Herowana di Provinsi Dataran Tinggi Timur, dan Pegunungan Crater di Provinsi Simbu. Tentunya, persebaran yang sempit itu (tak lebih dari 8 km persegi) punya korelasi erat pada populasi codot bulmer.
Sebab, IUCN Red List menempatkan status konservasi kelelawar ini pada tingkat kritis (Critically Endangered). Beda dengan hewan lain dalam daftar ini, codot bulmer punya laporan perkiraan populasi oleh IUCN Red List, yakni sekitar 137–160 individu saja berdasarkan data yang dirilis pada 2021. Tidak diketahui secara pasti kenapa sejak awal ditemukan populasi mereka sudah sangat sedikit. Namun, populasi di Gua Luplupwintem sebenarnya sempat musnah sekitar 1977 akibat perburuan liar. Selain perburuan liar, kerusakan alam akibat aktivitas manusia di habitat alami turut jadi ancaman bagi keberlangsungan spesies ini.
5. Kanguru pohon wondiwoi

ilustrasi kanguru pohon wondiwoi (commons.wikimedia.org/מנחם.אל) Ternyata ada satu lagi spesies kanguru pohon endemik yang turut terancam punah di Pulau Papua. Nama mereka kanguru pohon wondiwoi atau unijo wondiwoi (Dendrolagus mayri), sosok yang selama kurang lebih 90 tahun dikira punah, tetapi kembali ditemukan. Marsupial imut ini sempat dikira punah pada 1928 setelah hanya terlihat satu kali pada saat itu. Namun, sekitar 2018 silam, seorang ahli alam asal Britania Raya, Michael Smith, beserta tim lintas negara—termasuk peneliti Indonesia—berhasil menemukan hewan ini lagi di Pegunungan Wondiwoi, Papua Barat, dilansir National Geographic.
Sesuai dengan lokasi penemuan terakhir, persebaran kanguru pohon wondiwoi memang hanya berada di kawasan Pegunungan Wondiwoi atau tak lebih dari 300 km persegi. Namun, mereka tinggal di kawasan yang cukup terpencil karena berada pada ketinggian antara 1.600–1.700 meter di atas permukaan laut. Sesuai dengan nama yang diberikan, kemampuan memanjat kanguru pohon wondiwoi ini tidak bisa dianggap remeh, lho.
Hewan dengan warna rambut cokelat di punggung dan krem di dada ini punya tangan yang kuat untuk mencengkeram dan menahan bobot tubuh, sekitar 15 kg, di dahan pohon. Malahan, mereka sering berada di pohon-pohon tinggi sambil berbaur dengan sempurna sehingga sulit untuk diidentifikasi. Sayangnya, saking misterius dan sulitnya untuk menemukan marsupial ini, belum banyak fakta lain yang kita ketahui.
Yang jelas, saat ini IUCN Red List menempatkan kanguru pohon wondiwoi dalam kategori hewan kritis (Critically Endangered) dengan tren populasi yang menurun. Perkiraan kasar soal jumlah individu disebut tak lebih dari 50 ekor, mengingat begitu terbatasnya persebaran mereka. Sementara itu, ancaman terbesar yang dihadapi kanguru pohon wondiwoi ialah perburuan liar oleh manusia jika titik keberadaan mereka benar-benar sudah diketahui.
Ternyata ada banyak hewan endemik Pulau Papua yang saat ini berstatus konservasi sangat mengkhawatirkan. Dari daftar di atas, kita bisa menarik satu benang merah kalau kondisi yang mereka alami saat ini banyak disebabkan oleh aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab dalam merusak alam. Ini seharusnya sudah jadi alarm bahaya bagi seluruh pihak agar sama-sama mengevaluasi dan menjaga keanekaragaman hayati di Papua agar tetap lestari, bukan sekadar dijadikan lahan baru untuk mengeruk pundi-pundi uang.





















