Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bukan Sekedar Pengait, Ini 5 Fakta Unik dan Sejarah Kancing Baju

Sejarah Penemuan Kancing
ilustrasi sejarah penemuan kancing (wikimedia.org/National Museum of the U.S)
Intinya sih...
  • Kancing baju sebagai penanda status sosial pada Zaman Kuno
  • Penemuan lubang kancing pada abad ke-13 di Jerman
  • Alasan perbedaan dibalik letak kancing pria dan wanita
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kancing baju sering kali dianggap sebagai benda kecil yang tidak terlalu penting dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, di balik ukurannya yang mungil, kancing menyimpan sejarah panjang yang berjalan seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Selama ribuan tahun, fungsi kancing mengalami perubahan besar, dari sekadar hiasan hingga menjadi bagian penting dalam sistem berpakaian modern. Perubahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh mode, tetapi juga oleh kemajuan teknologi, material, dan kebiasaan sosial di setiap era.

Penemuan lubang kancing yang tampak sederhana ternyata membawa dampak besar dalam dunia fashion. Kehadiran lubang ini mengubah cara manusia mengenakan pakaian, dari jubah longgar menjadi busana yang lebih rapi dan pas di tubuh. Menariknya, posisi kancing pada pakaian pria dan wanita pun memiliki latar belakang sejarah yang unik dan masih bertahan hingga kini. Yuk, kita telusuri bersama fakta-fakta unik di balik kancing baju yang sering kita anggap sepele ini!

1. Kancing sebagai penanda status sosial pada Zaman Kuno

Sejarah Kancing
ilustrasi sejarah kancing di Mesir Kuno (wikimedia.org/Francis Brockell Spilsbury)

Dilansir laman TheGenealogist, pada awal kemunculannya sekitar tahun 2.800 SM di Lembah Indus, kancing sama sekali tidak digunakan untuk mengancingkan pakaian. Di masa itu, kancing lebih berfungsi sebagai hiasan atau ornamen yang dijahit pada pakaian. Bangsa-bangsa kuno seperti Romawi dan Yunani memanfaatkan kancing sebagai penanda status sosial. Semakin indah dan mahal bahan kancing yang digunakan, semakin tinggi pula kedudukan pemakainya di masyarakat. Oleh karena itu, kancing pada masa ini lebih mencerminkan kemewahan dibandingkan fungsi praktis.

Bahan pembuat kancing pun tidak sembarangan, mulai dari kerang, batu mulia, hingga logam berharga. Kancing menjadi simbol kekayaan dan prestise yang sengaja dipamerkan. Untuk mengencangkan pakaian, masyarakat saat itu lebih mengandalkan tali, peniti besar, atau ikat pinggang. Fungsi mekanis kancing belum terpikirkan sama sekali oleh para perajin. Baru setelah berabad-abad berlalu, manusia mulai menyadari bahwa benda kecil ini memiliki potensi yang jauh lebih besar.

2. Penemuan lubang kancing pada abad ke-13 di Jerman

Sejarah Penemuan Lubang Kancing
ilustrasi sejarah penemuan lubang kancing (wikimedia.org/Quirijn van Brekelenkam)

Dilansir laman The Guardian, perubahan besar dalam fungsi kancing terjadi pada abad ke-13 di Jerman dengan ditemukannya lubang kancing. Inovasi ini tampak sederhana, tetapi memberikan dampak yang sangat revolusioner dalam dunia jahit-menjahit. Dengan adanya lubang kancing, kancing tidak lagi hanya menjadi hiasan, melainkan berfungsi sebagai pengait yang kuat. Sistem ini memungkinkan pakaian menempel dengan lebih rapi di tubuh pemakainya.

Sebelum penemuan lubang kancing, sebagian besar pakaian berbentuk longgar dan minim potongan. Pakaian hanya disampirkan atau diikat tanpa mengikuti lekuk tubuh. Kehadiran lubang kancing memungkinkan para penjahit menciptakan busana yang lebih pas dan nyaman. Tren pakaian “fitted” pun mulai berkembang pesat di Eropa pada masa itu.

3. Alasan perbedaan dibalik letak kancing pria dan wanita

Letak Kancing pada Pakaian Pria
ilustrasi kancing pada pakaian pria (pixabay.com/StockSnap)

Jika diperhatikan dengan saksama, posisi kancing pada pakaian pria dan wanita ternyata berbeda. Kancing pakaian pria umumnya berada di sisi kanan, sementara pada pakaian wanita berada di sisi kiri. Perbedaan ini bukan tanpa alasan, melainkan berakar dari kebiasaan sosial di masa lalu. Pada zaman bangsawan, peran gender sangat memengaruhi cara berpakaian seseorang. Bahkan, hal kecil seperti posisi kancing pun diatur berdasarkan kebiasaan tersebut.

Dilansir laman Smithsonian Magazine, pria pada masa lalu sering membawa pedang dan menggunakan tangan kanan untuk mencabutnya. Oleh karena itu, kancing diletakkan di sisi kanan agar lebih mudah dibuka dengan tangan kiri. Sebaliknya, wanita bangsawan biasanya dibantu oleh pelayan saat berpakaian. Karena mayoritas pelayan menggunakan tangan kanan, posisi kancing wanita dibuat berlawanan agar lebih praktis. Meski kondisi sosial telah berubah, standar ini tetap dipertahankan hingga sekarang sebagai bagian dari tradisi industri pakaian.

4. Evolusi material kancing bermula dari tulang hewan hingga plastik

Evolusi material kancing
ilustrasi evolusi material kancing (wikimedia.org/Ola Myrin)

Perkembangan kancing juga dapat dilihat dari bahan pembuatnya yang terus berevolusi. Dilansir laman Britannica, pada masa awal, kancing dibuat dari bahan-bahan alami seperti tulang hewan, tanduk, kayu, mutiara, dan keramik. Pemilihan bahan ini disesuaikan dengan ketersediaan alam dan kemampuan pengrajin pada zamannya. Setiap bahan memberikan kesan dan nilai estetika yang berbeda. Oleh karena itu, material kancing sering kali mencerminkan kelas sosial pemakainya.

Memasuki abad ke-19, muncul material baru bernama Galalith yang terbuat dari protein susu atau kasein. Bahan ini populer karena tampilannya menyerupai gading, tetapi lebih terjangkau dan ramah produksi. Seiring berkembangnya industri, plastik dan polimer mulai digunakan secara luas. Material ini ringan, tahan lama, dan mudah dibentuk dalam berbagai desain.

5. Kancing pada lengan jas ala Napoleon Bonaparte

Kancing pakaian prajurit Napoleon Bonaparte
ilustrasi kancing pada pakaian prajurit Napoleon Bonaparte (wikimedia.org/Pierre-Claude Gautherot)

Kancing kecil di lengan jas pria sering dianggap hanya sebagai hiasan semata. Namun, di balik detail tersebut terdapat kisah sejarah yang cukup unik. Legenda populer mengaitkan keberadaan kancing lengan jas dengan Napoleon Bonaparte. Ia dikenal sebagai pemimpin yang sangat memperhatikan kedisiplinan pasukannya. Bahkan, hal sepele seperti kebiasaan prajurit pun tidak luput dari perhatiannya.

Dilansir laman Lanieri, konon, Napoleon merasa terganggu melihat tentaranya sering mengelap ingus di lengan jas. Untuk menghentikan kebiasaan tersebut, ia memerintahkan agar lengan jas militer diberi deretan kancing. Kancing-kancing ini membuat tindakan mengelap wajah menjadi tidak nyaman dan menyakitkan. Cara ini terbukti efektif mendisiplinkan pasukan. Selain itu, kancing lengan jas juga memberi kesan rapi dan berwibawa pada seragam militer.

Kancing baju membuktikan bahwa benda kecil bisa memiliki pengaruh besar dalam kehidupan manusia. Dari simbol kemewahan di masa kuno hingga alat pendisiplinan ala Napoleon, kancing terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Fungsinya pun berkembang, tidak hanya sebagai pengait pakaian, tetapi juga sebagai elemen estetika dan simbol budaya. Bahkan, konsep “kancing” kini hadir dalam bentuk tombol pada berbagai perangkat teknologi modern. Tanpa disadari, kancing menjadi bagian penting dari keseharian kita, baik di dunia fashion maupun teknologi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Science

See More

4 Tanda Ilmiah Kucing Menyayangi Pemiliknya

31 Jan 2026, 13:15 WIBScience