Gelombang panas bukan cuma berdampak pada manusia, tapi juga bisa mengancam kesehatan hewan peliharaan di rumah. Suhu lingkungan yang terlalu tinggi menyebabkan sebagian hewan kesulitan mengatur suhu tubuh dan lebih mudah mengalami heatstroke. Kondisi ini dapat berkembang dengan cepat serta memicu gangguan kesehatan yang serius. Lalu, hewan peliharaan apa saja yang paling rentan terpapar gelombang panas?
5 Hewan Peliharaan yang Paling Rentan Terpapar Gelombang Panas

1. Anjing
Anjing menempati daftar teratas sebagai hewan peliharaan yang paling rentan mengalami heatstroke. Berbeda dengan manusia yang mengeluarkan keringat dari hampir seluruh permukaan kulit, anjing hanya memiliki sedikit kelenjar keringat di telapak kaki. Pendinginan tubuh mereka bergantung pada mekanisme terengah-engah atau panting.
Suhu lingkungan yang tinggi bakal mengganggu proses tersebut, khususnya pada ras berhidung pesek seperti Pug, Bulldog, dan Shih Tzu. Risiko meningkat saat anjing diajak berjalan di siang hari, ditinggal di dalam mobil, atau beraktivitas berat di bawah terik matahari. Gejala awal biasanya berupa napas cepat, air liur berlebihan, tubuh lemas, muntah, sampai kehilangan kesadaran.
2. Kucing
Banyak orang mengira kucing lebih tahan suhu panas lantaran leluhurnya berasal dari daerah beriklim kering. Faktanya, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Kucing tetap berisiko mengalami dehidrasi dan heatstroke apabila terpapar udara panas dalam waktu lama, apalagi jika usia sudah lanjut atau mengidap penyakit tertentu.
Kucing gemar mencari tempat yang sejuk secara naluriah, namun naluri itu tidak selalu cukup tatkala gelombang panas terjadi berhari-hari. Ras kucing berbulu tebal juga mengalami kesulitan melepaskan panas tubuh. Pemilik dianjurkan menyediakan air minum segar, sirkulasi udara yang baik, serta menghindarkan kucing dari ruangan yang pengap.
3. Kelinci
Kelinci termasuk hewan yang amat sensitif terhadap suhu tinggi. Menurut penjelasan dalam laman Royal Society for the Prevention of Cruelty to Animals (RSPCA), suhu di atas sekitar 25°C saja sudah dapat memicu stres panas pada kelinci, terlebih lagi jika kandang minim ventilasi. Tubuh mereka tidak mampu mengeluarkan keringat layaknya manusia. Alhasil, pelepasan panas bekerja jauh lebih lambat.
Telinga kelinci memang membantu membuang panas lewat pembuluh darah yang berada di dalamnya, tetapi mekanisme tersebut memiliki batas. Kalau suhu terus meningkat, kelinci bisa mengalami napas cepat, tubuh lemas, kehilangan nafsu makan, bahkan kolaps. Pemilik disarankan menempatkan kandang di area teduh, menyediakan air dingin, dan memastikan sirkulasi udara lancar.
4. Burung peliharaan
Burung peliharaan mudah mengalami tekanan akibat cuaca yang terlalu panas. Hal ini karena burung tidak mempunyai kelenjar keringat, makanya pengaturan suhu tubuh berlangsung melalui pernapasan dan pelebaran pembuluh darah pada bagian tubuh tertentu. Tanpa bantuan keringat, burung sangat bergantung pada lingkungan sekitar untuk mendinginkan diri.
Kandang yang terkena sinar matahari sepanjang hari berpotensi meningkatkan suhu secara drastis. Burung akan terlihat membuka paruh, mengepakkan sayap menjauh dari tubuh, atau tampak lesu sebagai upaya membuang panas. Bila kondisinya diabaikan, gangguan organ dapat muncul dalam hitungan jam.
5. Marmut
Tubuh marmut ternyata tidak dirancang menghadapi udara panas. Marmut paling nyaman hidup pada suhu sekitar 18–24°C. Begitu suhu naik melewati kisaran tersebut, risiko heat stress ikut meningkat, terutama pada kandang yang padat dan minim aliran udara.
Marmut juga tidak dapat berkeringat sehingga suhu tubuh sulit turun secara alami. Tanda awal yang patut diwaspadai meliputi napas cepat, tubuh lemah, enggan bergerak, hingga kehilangan nafsu makan. Menyediakan tempat berteduh, air minum bersih, dan ruangan yang sejuk adalah langkah sederhana yang bisa mengurangi ancaman tersebut.
Mengetahui hewan peliharaan yang rentan terhadap gelombang panas membantu pemilik memberikan perlindungan yang lebih tepat. Dengan menjaga lingkungan tetap sejuk, memastikan kebutuhan cairan terpenuhi, serta mengenali gejala heatstroke sejak dini, risiko gangguan kesehatan sanggup ditekan.
Referensi :
Riggs, S. M. (2009). Guinea pigs. In Manual of exotic pet practice (pp. 456-473). WB Saunders.