Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa El Nino Bisa Memengaruhi Produksi Pertanian?

5 min read
Kenapa El Nino Bisa Memengaruhi Produksi Pertanian?
ilustrasi orang memanen padi (pexels.com/Viewers)
  • El Nino mengubah pola hujan dan suhu global, memicu kekeringan, panas ekstrem, hujan berlebih, atau banjir yang mengganggu air, waktu tanam, dan pertumbuhan tanaman.

  • Tekanan cuaca dapat menurunkan panen melalui kekeringan, genangan, kerusakan akar, hilangnya unsur hara, serta meningkatnya risiko hama dan penyakit pada fase pertumbuhan penting.

  • Dampak El Nino berbeda menurut wilayah, tanaman, dan akses irigasi; gangguan produksi dapat memengaruhi pasokan, perdagangan, impor, serta harga pangan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Perubahan cuaca mungkin terasa hanya seperti perbedaan antara musim hujan dan musim kemarau. Namun, bagi petani, perubahan waktu datangnya hujan atau kenaikan suhu beberapa derajat bisa menentukan apakah tanaman tumbuh dengan baik atau justru gagal dipanen.

Salah satu fenomena iklim yang dapat mengubah kondisi tersebut adalah El Nino. Fenomena ini tidak hanya membuat sejumlah wilayah menjadi lebih kering dan panas, tetapi juga dapat meningkatkan curah hujan di wilayah lainnya. Perubahan tersebut kemudian memengaruhi ketersediaan air, waktu tanam, pertumbuhan tanaman hingga hasil panen.

  1. 1. Apa hubungan El Nino dan produksi pertanian?

    El Nino merupakan fase hangat dari El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang ditandai oleh meningkatnya suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Pemanasan ini kemudian memengaruhi sirkulasi atmosfer sehingga pola hujan dan suhu di berbagai belahan dunia ikut berubah. 

    Dampaknya tidak seragam. Beberapa wilayah mengalami kondisi lebih panas dan kering, sedangkan wilayah lain justru menghadapi hujan lebih tinggi, banjir, atau tanah yang terlalu basah.

    Inilah alasan El Nino dapat memengaruhi produksi pertanian. Tanaman membutuhkan kondisi tertentu untuk tumbuh, mulai dari ketersediaan air hingga suhu yang sesuai pada setiap fase pertumbuhan. Ketika pola cuaca berubah jauh dari kondisi normal, tanaman bisa mengalami tekanan.

  2. 2. Bagaimana El Nino menyebabkan gagal panen

    El Nino memengaruhi tanaman melalui beberapa mekanisme secara langsung:

    • Curah hujan berkurang dan kekeringan: Di Indonesia, Papua Nugini, India, dan Afrika bagian selatan, El Nino dapat melemahkan curah hujan akibat monsun dan hujan musiman sehingga kelembapan tanah berkurang. Di India, penurunan curah hujan monsun sebesar 15 persen yang berkaitan dengan El Nino membuat tanaman kacang-kacangan dan biji-bijian penghasil minyak berisiko mengalami penurunan hasil panen sebesar 10–20 persen.
    • Curah hujan berlebihan dan banjir: Di Asia Tengah, Tanduk Afrika, dan sejumlah wilayah Amerika Selatan, hujan yang lebih tinggi dari biasanya dapat menyebabkan lahan tergenang, pembusukan akar, pencucian unsur hara dari tanah, serta kerusakan fisik pada tanaman. Banjir juga dapat menunda waktu tanam maupun panen.
    • Suhu ekstrem: Kondisi yang lebih panas selama El Nino dapat meningkatkan evapotranspirasi, yaitu proses hilangnya air dari tanah dan tanaman ke atmosfer. Akibatnya, tanaman mengalami tekanan kekeringan yang lebih berat dan lebih rentan terhadap kerusakan akibat panas, terutama saat fase pembungaan dan pengisian biji.
    • Peningkatan risiko hama dan penyakit: Kondisi yang lembap dan basah akibat El Nino di beberapa wilayah dapat mendukung perkembangan penyakit jamur pada tanaman kedelai, jagung, dan gandum. Sementara itu, tanaman di wilayah lain yang mengalami stres akibat kekeringan dapat menjadi lebih rentan terhadap serangan hama.

    Berbagai tekanan tersebut sering terjadi bertepatan dengan fase penting pertumbuhan tanaman, sehingga kerusakan yang ditimbulkan dapat menjadi lebih besar dan pada akhirnya menurunkan hasil panen.

  3. 3. Tidak semua tanaman mengalami kerugian

    ilustrasi tanaman jagung (pexels.com/ FRANK MERIÑO)
    ilustrasi tanaman jagung (pexels.com/ FRANK MERIÑO)

    Kendati El Nino sering dikaitkan dengan penurunan produksi pertanian, dampaknya sebenarnya tidak sama di seluruh dunia. Penelitian menemukan bahwa pengaruh El Nino terhadap hasil panen sangat bergantung pada wilayah dan jenis tanaman. Analisis terhadap jagung, padi, gandum dan kedelai menunjukkan adanya dampak negatif pada sekitar 22–24 persen area panen global yang dianalisis, tetapi dampak positif juga ditemukan pada sekitar 30–36 persen area. (Nature Communications, 2014)

    Sebagai contoh, kondisi yang lebih basah di Argentina dan Brasil bagian selatan pada periode tertentu dapat mendukung produksi kedelai dan jagung. Sebaliknya, wilayah yang mengalami kondisi lebih panas dan kering dapat menghadapi penurunan hasil panen. Karena itu, tidak tepat jika El Nino dianggap otomatis buruk bagi seluruh sektor pertanian.

  4. 4. Kenapa petani yang bergantung pada hujan lebih rentan?

    Perbedaan dampak tersebut salah satunya dipengaruhi oleh akses terhadap irigasi. Lahan yang memiliki sistem irigasi memadai memiliki cadangan pengaman ketika curah hujan berkurang. Petani dapat menggunakan sumber air lain untuk mempertahankan kebutuhan tanaman, meskipun kapasitasnya tetap memiliki batas.

    Sementara itu, pertanian yang sepenuhnya bergantung pada hujan lebih cepat merasakan perubahan pola curah hujan. Penelitian global menunjukkan bahwa dampak negatif El Nino cenderung dapat ditekan pada lahan beririgasi dibandingkan lahan tadah hujan. (Nature Communications, 2014)

    Hal ini menjelaskan mengapa fenomena iklim yang sama dapat menghasilkan dampak berbeda pada petani di wilayah yang berbeda.

  5. 5. Dampaknya bisa sampai ke harga pangan

    Ketika produksi tanaman pangan di sejumlah wilayah utama menurun secara bersamaan, dampaknya tidak berhenti di lahan pertanian. Pasokan komoditas, seperti beras, jagung, gandum, kedelai atau minyak nabati dapat ikut terpengaruh. Jika pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga komoditas berpotensi meningkat.

    Gangguan produksi akibat El Nino sebelumnya turut memengaruhi rantai pasok pangan, perdagangan, kebutuhan impor dan harga pangan. Dengan kata lain, El Nino dapat memulai perjalanannya dari perubahan suhu laut di Samudra Pasifik, tetapi dampaknya bisa terasa jauh hingga ke sawah, pasar, bahkan meja makan.

    Pada akhirnya, hubungan antara El Nino dan produksi pertanian cukup kompleks. Fenomena ini mengubah pola hujan dan suhu sehingga dapat meningkatkan risiko kekeringan, panas ekstrem, banjir, hingga perubahan waktu tanam. Karena itu, memahami El Nino bukan sekadar mengetahui bahwa fenomena ini dapat membawa kekeringan. Informasi iklim dan peringatan dini dapat membantu petani menyesuaikan waktu tanam, memilih varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan atau panas, serta mempersiapkan sumber air sebelum dampaknya semakin besar. 

    Referensi

    Credendo. Diakses pada September 2026. Agriculture Sector: El Nino Returns at a Challenging Time for Global Agriculture
    FAIRR. Diakses pada September 2026. The Financial Impact of El Nino on Food is Here to Stay: What do Investors Need to Know?
    Famine Early Warning System Network. Diakses pada September 2026. As El Nino Strengthens, What Could It Mean for Food Production in South America?
    Iizumi, T., Luo, J.-J., Challinor, A. J., Sakurai, G., Yokozawa, M., Sakuma, H., Brown, M. E., & Yamagata, T. (2014). Impacts of El Niño Southern Oscillation on the global yields of major crops. Nature Communications, 5, Article 3712. https://doi.org/10.1038/ncomms471
    Seed World. Diakses pada September 2026. AgroENSO Maps El Nino Impacts on Argentina Crops
    SunSirs. Diakses pada September 2026. SunSirs: El Nino, Geopolitics and Global Grain Market Volatility

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More