gambar kaldera Gunung Tambora (commons.m.wikimedia.org/Jialiang Gao)
Gak hanya bertambah tinggi atau hancur karena letusannya sendiri, ketinggian gunung berapi juga bisa berkurang setelah meletus. Hal ini juga terjadi pada Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, setelah meletus hebat pada 10 April 1815 Lalu. Dilansir NASA, saat Tambora meletus, gunung ini melontarkan begitu banyak abu vulkanik ke atmosfer sehingga matahari tak terlihat selama beberapa hari, menurunkan suhu rata-rata Bumi sebanyak 0,4 hingga 3 derajat Celcius di tahun berikutnya, dan membuat belahan Bumi utara mengalami apa yang mereka sebut dengan tahun tanpa musim panas.
Di Sumbawa, sepuluh ribu orang tewas dan lebih dari 80 ribu lainnya juga meninggal dunia karena penyakit, kelaparan, dan gagal panen. Namun letusan Tambora bukan hanya menyakiti dunia. Lebih dari itu, letusan besar ini juga menghancurkan sebagian besar tubuhnya dan mengurangi ketinggiannya dari 4.300 mdpl jadi 2.851 mdpl. Menyisakan kaldera raksasa berdiameter 6 kilometer dengan kedalaman 1.100 meter.
Pertumbuhan gunung jelas gak sama dengan pertumbuhan makhluk hidup. Pertumbuhan gunung sepenuh terjadi karena aktivitas vulkanis. Semakin sering sebuah gunung erupsi, maka ketinggiannya pun akan semakin bertambah. Di sisi lain, pertambahan tinggi ini juga membuat gunung berapi semakin gak stabil yang memicu kehancurannya sendiri.