3 Dampak Letusan Gunung Berapi bagi Kehidupan

- Letusan gunung berapi dapat menghancurkan permukiman, lahan, pangan, satwa, dan infrastruktur melalui lava serta lahar, sekaligus menimbulkan luka bakar parah bagi orang yang terpapar.
- Abu vulkanik berupa pecahan batuan tajam yang sulit dibersihkan dan berisiko memicu gangguan pernapasan, peradangan berkepanjangan, fibrosis paru, hingga kanker, terutama pada penderita asma.
- Gas letusan yang mencapai stratosfer dapat mengubah iklim: karbon dioksida memanaskan atmosfer, sedangkan sulfur dioksida membentuk aerosol yang memantulkan cahaya matahari dan menurunkan suhu.
Peringatan, jika ada gunung berapi yang hendak meletus, sebaiknya jangan berada di dekatnya, ya. Usahakan untuk mengevakuasi diri sedini mungkin. Yap, seperti yang terjadi kepada penduduk La Palma, pulau paling barat di Kepulauan Canaria yang terletak di sebelah barat Maroko.
Pada 2021, gunung berapi di La Palma meletus selama berbulan-bulan tanpa henti. Aliran lavanya yang "encer" menyelimuti bentang alam dan rumah-rumah. Adapun tumpukan abu setinggi beberapa meter menyesakkan pulau tersebut. Kemudian, batuan cair tumpah ke laut disertai pelepasan gas beracun.
Nah, secara umum, kehidupan 80.000 penduduk pulau itu pun musnah, sebagaimana dilaporkan BBC. Ajaibnya, tidak ada satu pun orang yang tewas atau bahkan terluka. Pemerintah Spanyol pun mengalokasikan dana sebesar 225 juta euro atau sekitar Rp4,6 triliun untuk pemulihan pulau tersebut.
Tak hanya Spanyol kala itu. Di Indonesia sendiri, Anak Gunung Krakatau mengalami erupsi sejak September 2026 yang disertai dengan gemuruh dan dentuman kuat. Semburan lava (lava fountain) serta letusan beruntun pun berlanjut. Dampak abu vulkanik menyebar ke wilayah pesisir Lampung, Banten, Jabodetabek, hingga perairan Selat Sunda. Sementara itu, warga net mengaku mendengar suara dentuman keras di wilayah Pandeglang dan sekitarnya, menurut laporan situs Kementerian ESDM.
Letusan gunung berapi dahsyat dalam sejarah

ilustrasi letusan Gunung Krakatau (commons.wikimedia.org/Anonymous) Dampak letusan gunung berapi semacam itu bukanlah hal baru. Kota Pompeii di zaman Romawi Kuno merupakan contoh paling jelas karena diabadikan lewat orang-orang yang terjebak dalam dampak letusan gunung berapi, seperti yang dijelaskan History.
Pada 79 Masehi, Gunung Vesuvius memuntahkan abu dan mengubur seluruh Kota Pompeii. Kota itu pertama kali digali kembali sekitar 1.670 tahun kemudian, tepatnya pada 1748. Kehancuran akibat Gunung Vesuvius terjadi sangat cepat, tidak terduga, dan menyeluruh. Kamu pun bisa melihat jasad 12.000 penduduk Pompeii yang masih utuh. Mereka terbungkus abu saat menemui ajalnya.
Menurut studi yang ditulis Christoph C Raible, dkk., berjudul "Tambora 1815 as a Test Case for High Impact Volcanic Eruptions: Earth System Effects" (2016), dalam jurnal Wiley Interdiscip Rev Clim Change, dari sejarah peradaban modern sendiri, letusan Gunung Tambora pada 1815 menjadi letusan gunung paling dahsyat. Indeks letusannya mencapai VEI-7 (Volcanic Explosivity Index). Tinggi letusannya mencapai 30-40 kilometer ke stratosfer, melontarkan material vulkanik sekitar 100 hingga 150 kilometer kubik. Adapun tiga kerajaan pada masa itu punah akibat letusan dahsyat Tambora yang menelan korban jiwa sekitar 71.000-92.000 jiwa.
Dilansir Natural History Museum, selain Gunung Tambora, Gunung Krakatau pertama kali meletus dengan dahsyat pada 26–27 Agustus 1883. Letusannya meluluhlantakkan sebagian besar pulau, memicu tsunami setinggi 40 meter, dan menewaskan lebih dari 36.000 jiwa. Dentuman suara letusan Gunung Krakatau tercatat sebagai suara terkeras dalam sejarah modern karena mencapai sekitar 310 desibel. Pelaut yang berada puluhan kilometer, bahkan gendang telinganya sampai pecah.
Gunung berapi merupakan contoh sempurna betapa rapuhnya tubuh, kehidupan, dan peradaban manusia. Gunung berapi hanyalah salah satu fenomena geologis alami di Bumi dan, bersama gempa bumi, telah membentuk tanah tempat kita berpijak, sebagaimana dijelaskan oleh British Geological Survey. Namun, bagi mereka yang hidup, gunung berapi membawa malapetaka, penderitaan, dan kematian dalam berbagai bentuk.
1. Gunung meletus memiliki lava dan lahar yang bisa porakporandakan segala hal

Semburan lava pijar (lava fountain) pada fase erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, pada September 2026. (commons.wikimedia.org/Pemprov Lampung) Gunung berapi biasanya menyemburkan percikan lava bersuhu sekitar 1.160 derajat Celsius, seperti dilansir Live Science. Namun, percikan itu bisa berubah menjadi semburan deras atau bahkan aliran yang merambat pelan. Nah, jika ada manusia yang berada di dekatnya, tentu saja orang itu tidak selamat.
Pasalnya, kecepatan aliran lava mencapai 30 mil per jam (sekitar 48 km/jam). Itu artinya, aliran lava lebih cepat ketimbang seseorang berlari untuk menyelamatkan diri. Meski demikian, ribuan wisatawan berbondong-bondong untuk melihat gunung berapi aktif setiap tahun. Mereka mendaki lereng berbatu demi mengintip ke dalam "mulut" sang dewa yang sedang tertidur.
Harus diakui bahwa satu sentuhan lava tidak akan serta-merta melenyapkan daging manusia. Seperti yang dijelaskan oleh Oregon State University, orang yang terkena lava akan mengalami luka bakar yang parah. Namun, tingkat keparahannya bergantung pada seberapa luas area tubuh yang terkena lava dan berapa lama kontak tersebut berlangsung. Itu artinya, semakin lama kontaknya, semakin parah dampaknya.
Hal ini terjadi karena lava mulai mendingin saat keluar dan membentuk lapisan luar yang keras, yang bisa memerangkap benda-benda di dalamnya, yang disebut lahar. Aliran lava pada dasarnya melahap segala sesuatu yang dilewatinya: rumah dan harta benda, lahan pertanian dan persediaan pangan, satwa liar beserta habitatnya, tanaman, dan apa pun itu. Nah, dampaknya bisa jauh lebih parah ketimbang kerusakan akibat kontak langsung dengan lava itu sendiri.
2. Bahayanya abu vulkanik

Seorang warga sedang menyapu abu di jalan akibat letusan Gunung Kelud pada tahun 2014. (commons.wikimedia.org/Crisco 1492) Tahukah kamu bahwa abu vulkanik mengandung mineral atau pecahan batu berukuran mikron? Jadi, abu vulkanik bukanlah abu biasa. Mungkin kamu membayangkan abu vulkanik mirip dengan abu hasil pembakaran, yaitu material halus seperti bubuk yang tersisa setelah sesuatu dibakar. Abu pembakaran sendiri terdiri dari kalsium karbonat, nitrogen, potas, serta berbagai mineral dan oksida.
Sebaliknya, abu vulkanik terdiri dari pecahan-pecahan kecil yang kasar dan tajam dari material batuan yang dimuntahkan oleh "embusan napas" Bumi saat terjadi letusan gunung berapi. Material ini tidak larut—tidak hancur saat terkena air—sehingga tidak bisa sekadar dibilas atau dibersihkan dengan air. Endapan abu ini harus disingkirkan dengan cara dikeruk sedikit demi sedikit dan dibuang dengan prosedur yang tepat.
Jadi, orang yang terpapar hujan abu dapat mengalami masalah pernapasan dan tenggorokan kronis. Risiko ini jauh lebih tinggi bagi mereka yang sudah memiliki gangguan paru-paru, seperti asma. Bahkan, American Lung Association menyarankan untuk mengantisipasi kemungkinan masalah paru-paru yang memburuk dan merekomendasikan agar menyiapkan persediaan obat tambahan, asuransi jiwa, rencana tindakan penanganan asma (untuk digunakan oleh diri sendiri atau orang lain), dan sebagainya. Mereka juga menyarankan untuk tetap berada di dalam ruangan dan menggunakan masker.
Selain itu, David E. Damby, dkk., menulis jurnal berjudul "Volcanic Ash Activates the NLRP3 Inflammasome in Murine and Human Macrophages" (2017) dalam Frontiers in Immunology yang menjelaskan bagaimana abu vulkanik dapat menyebabkan peradangan berkepanjangan, fibrosis paru, dan kanker akibat tertahannya partikel silikat—yang telah disebutkan sebelumnya—di dalam paru-paru.
3. Perubahan iklim akibat letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi Raikoke di Semenanjung Kamchatka pada 22 Juni 2019 (commons.wikimedia.org/NASA Earth Observatory) Sejauh ini kita sudah membahas tentang lava dan abu vulkanik, tetapi letusan gunung berapi dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih serius dan luas terhadap kehidupan manusia yang melampaui peristiwa letusan itu sendiri. United States Geological Survey (USGS) dan NASA membahas bagaimana letusan gunung berapi bisa begitu dahsyat hingga mampu mengubah iklim Bumi. Sebagian besar abu yang terlontar ke atmosfer akan jatuh kembali ke permukaan dalam hitungan hari atau mungkin minggu. Namun, bagaimana dengan gas yang terlepas hingga ke lapisan stratosfer? Ceritanya bisa jauh berbeda.
Nah, dari semua gas yang dimuntahkan dari perut Bumi saat terjadi letusan, ada dua jenis gas yang punya dampak kuat dan saling bertolak belakang terhadap iklim Bumi. Karbon dioksida, sebagaimana yang kita ketahui, adalah gas rumah kaca yang memanaskan atmosfer, sehingga memperparah masalah seperti pemanasan global. Kemudian, sulfur dioksida justru mengembun menjadi kabut halus—berupa aerosol sulfat—yang memantulkan sinar matahari dan menurunkan suhu Bumi. Selain itu, lapisan abu kelabu yang menyelimuti langit dalam jangka pendek turut menurunkan suhu Bumi lebih jauh lagi.
Menurut data USGS, berbagai letusan gunung berapi sepanjang abad ke-20 saja tercatat telah menurunkan rata-rata suhu Bumi sebesar −17,5 derajat Celsius selama periode 1–3 tahun. Hal ini mungkin berdampak pada hasil panen. Namun, bagaimana jika terjadi letusan dari banyak gunung berapi sekaligus, atau letusan dengan kekuatan yang sangat dahsyat? Risiko yang muncul jauh lebih serius, tidak hanya bagi kehidupan dan peradaban manusia, tetapi juga bagi seluruh kehidupan di planet ini.
Jadi, apa pelajaran yang bisa kita petik? Gunung berapi memiliki kekuatan yang luar biasa. Jadi, tetap berdoa demi keselamatan kita semua. Semoga letusan gunung berapi yang terjadi di Indonesia saat ini bisa segera berlalu, ya. Dan tentunya tidak memakan korban jiwa.



















