Kenapa Kawah Gunung Berapi Bisa Berubah Bentuk?

- Tekanan magma, gas, dan fluida vulkanik di bawah permukaan dapat mendeforasi kawah sebelum erupsi, seperti perubahan dasar Kawah Gunung Agung lebih dari 15 sentimeter pada 2017.
- Letusan membentuk ulang kawah melalui ledakan, keluarnya material, pertumbuhan kerucut, perubahan elevasi, dan runtuhan; pengamatan Gunung Shishaldin 2019–2020 mencatat perubahan permukaan hingga skala meter.
- Longsoran dinding, runtuhan material, serta pertumbuhan kubah lava membuat kawah tidak permanen; erupsi Gunung St. Helens 1980 menghasilkan kawah tapal kuda yang kemudian berubah lagi.
Kawah merupakan salah satu bagian gunung berapi yang bentuknya bisa berubah seiring aktivitas vulkanik berlangsung. Perubahan tersebut dapat terjadi ketika tekanan magma di bawah permukaan meningkat atau ketika material dari dalam gunung dikeluarkan saat erupsi. Bentuk kawah juga bisa berubah setelah letusan karena adanya longsoran batuan, runtuhan dinding kawah, atau penumpukan material vulkanik.
Oleh karena itu, kawah yang terlihat pada suatu waktu belum tentu memiliki bentuk yang sama beberapa tahun atau bahkan beberapa hari kemudian. Perubahan bentuk tersebut menjadi salah satu tanda yang dapat diamati untuk memahami aktivitas sebuah gunung api. Lantas, apa saja yang bisa membuat bentuk kawah gunung berapi berubah? Yuk, simak penjelasan lebih lanjutnya di bawah ini!
1. Magma di bawah gunung bisa mengubah bentuk kawah

ilustrasi magma (pexels.com/David Zherdenovsky) Pergerakan magma dan zat cair (fluida) vulkanik di bawah permukaan dapat menyebabkan perubahan bentuk pada bagian atas gunung api, termasuk area kawah. Sebagai contoh, penelitian yang terbit dalam Journal of Geophysical Research: Solid Earth pada 2023 menemukan adanya deformasi pada dasar kawah Gunung Agung sebelum erupsi pada 2017. Menggunakan data radar satelit beresolusi tinggi, peneliti menemukan dasar kawah mengalami perubahan lebih dari 15 sentimeter pada September–Oktober 2017.
Perubahan bentuk tersebut dikaitkan dengan peningkatan tekanan pada sistem hidrotermal dangkal akibat masuknya gas dan fluida magmatik. Beberapa hari sebelum erupsi, peneliti juga mendeteksi perubahan tambahan sekitar 3–5 sentimeter di dalam kawah yang berkaitan dengan interaksi sistem hidrotermal dan magma yang naik menuju permukaan. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas magma di bawah permukaan dapat membuat bagian dalam kawah mengalami perubahan bahkan sebelum letusan terjadi.
2. Letusan dapat membuat kawah makin lebar atau dalam

ilustrasi erupsi gunung berapi (pexels.com/Gylfi Gylfason) Erupsi atau letusan dapat mengubah bentuk kawah karena ledakan dan keluarnya material dari dalam gunung api bisa mengikis atau merombak bagian dinding kawah. Penelitian U.S. Geological Survey (USGS) terhadap Gunung Shishaldin di Alaska menunjukkan adanya perubahan morfologi kawah selama erupsi 2019–2020. Data radar memperlihatkan proses pertumbuhan kerucut vulkanik, perubahan elevasi, serta runtuhan yang berkaitan dengan ledakan selama periode erupsi.
Perubahan tersebut bahkan bisa mencapai skala meter sehingga bentuk permukaan kawah terlihat berbeda dibandingkan sebelum erupsi. Artinya, setiap kali aktivitas erupsi berlangsung, material yang keluar maupun bagian gunung yang runtuh dapat secara bertahap membentuk ulang kawah. Perubahan bentuk kawah pun bisa menjadi salah satu petunjuk untuk memahami bagaimana aktivitas erupsi berkembang.
3. Longsoran dan runtuhan material bisa mengubah bentuk kawah

ilustrasi kawah gunung berapi (pexels.com/hery ansyah) Bentuk kawah juga bisa berubah ketika bagian dinding atau material di dalam gunung berapi mengalami runtuhan. Salah satu contohnya terlihat pada Gunung St. Helens, ketika erupsi besar pada 1980 disertai longsoran raksasa yang mengubah bentuk puncak gunung dan menghasilkan kawah berbentuk tapal kuda. Setelah itu, aktivitas vulkanik kembali membentuk bagian dalam kawah melalui pertumbuhan kubah lava.
USGS mencatat bahwa kubah lava tersebut terus tumbuh secara bertahap dan menambah volume material di dasar kawah. Proses seperti pertumbuhan lava dan runtuhan material membuat bentuk kawah tidak bersifat permanen. Jadi, perubahan kawah bisa terjadi bukan hanya karena ledakan saat erupsi, tetapi juga karena material di sekitar kawah terus mengalami penambahan dan pengurangan.
Kawah gunung berapi bukanlah bentuk yang selalu tetap karena aktivitas vulkanik dapat terus mengubah permukaan di sekitarnya. Perubahan tersebut bisa terjadi akibat tekanan dan pergerakan magma, erupsi, pertumbuhan material, hingga runtuhan bagian kawah. Menurutmu, apakah perubahan bentuk kawah bisa menjadi petunjuk penting untuk memprediksi aktivitas gunung api berikutnya?




















