ilustrasi seseorang yang kehilangan arah (pixabay.com/FlyingRaven)
Ruang liminal paling sering merujuk pada tempat fisik. Namun, konsep ini juga meluas ke ambang batas dalam hidup. Kematian orang yang dicintai, pindah ke tempat tinggal baru, perubahan karier, dan memiliki anak adalah contoh transisi dalam hidup. Yap, waktu antara kisah lama dan kisah baru. Dan hal ini bisa saja tak sesuai keinginan. Ketika keadaan tersebut menimbulkan rasa disonansi kognitif atau perasaan kehilangan arah, hal itu dianggap sebagai fase liminal psikologis.
Dikutip Cruse Scotland, bahkan, fase liminal psikologis bisa membuat seseorang kehilangan kendali, tidak yakin (kehilangan arah), dan seperti kehilangan diri mereka sendiri. Hal itu dapat memicu kesedihan atau kecemasan bagi banyak orang. Nah, biasanya, orang yang sedang berada di fase ini meresponsnya dengan membuat keputusan dan melakukan hal-hal di luar kebiasaan untuk mengakhiri ketidaknyamanan tersebut. Dan hal ini bisa saja keliru.
Berkaitan dengan ruang liminal, menghilangkan perasaan tidak nyaman itu bisa semudah mengalihkan pandangan atau meninggalkan tempat tersebut. Menghadapi fase transisi, terutama yang jangka panjang, memang lebih sulit. Kuncinya adalah tetap bersikap optimis dan sabar, serta mencari jalan keluar yang positif ketimbang memaksakan ekspektasi. Sembari menunggu rutinitas dan struktur baru terbentuk, fase transisi rupanya ada hikmahnya, seperti pelajaran hidup yang berharga.
Ruang liminal memang viral belakangan ini. Sebelum terkenal lewat creepypasta atau filmnya, ruang liminal rupanya pernah dirasakan hampir sebagain orang ketika berada di ruang tunggu, perkantoran, gedung, atau sebagainya. Kira-kira apa pengalaman kamu dengan ruang liminal, nih?