Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kota di Dunia yang Andalkan Menara Pemurni Udara untuk Lawan Polusi
ilustrasi kota di dunia yang mengandalkan menara pemurni udara (unsplash.com/Pedro Lastra)
  • Lima kota—Xi'an, New Delhi, Rotterdam, Beijing, dan Kraków—memakai menara pemurni udara untuk menyaring polutan di tengah tingkat kabut asap dan polusi yang tinggi.
  • Menara di Xi'an diklaim menghasilkan lebih dari 10 juta meter kubik udara bersih per hari, sementara sistem di kota lain menyasar partikel seperti PM2.5 dan PM10.
  • Teknologi ini dinilai sebagai mitigasi darurat di titik padat aktivitas, bukan solusi akar masalah; pengendalian emisi, ruang hijau, dan transisi energi bersih tetap diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kabut asap dan polusi udara yang semakin pekat telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat di berbagai belahan bumi, memaksa sejumlah kota metropolitan berpikir keras untuk mencari solusi instan di luar penanaman pohon konvensional. Di tengah kepungan langit abu-abu yang menyesakkan, beberapa kota besar ini melirik teknologi futuristik berupa menara pemurni udara raksasa atau smog tower sebagai garda terdepan untuk menyaring partikel berbahaya dan mengembalikan kesegaran oksigen di ruang publik.

Bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah dalam film berlatar dystopia, inovasi pembersih udara skala besar ini berdiri di tengah-tengah kawasan padat aktivitas untuk melindungi jutaan warga dari bahaya mikroplastik dan polutan mematikan. Mulai dari jantung kota mode dunia hingga megapolitan Asia yang sibuk. Berikut adalah lima kota di dunia yang mengandalkan menara pemurni udara demi menyuguhkan napas lega bagi warganya.

1. Xi'an, China

ilustrasi Xi'an, China (unsplash.com/Camillo Corsetti Antonini)

China membangun menara pemurni udara raksasa setinggi lebih dari 100 meter atau setara dengan gedung 20 lantai. Menara ini terletak di Kota Xian untuk mengatasi masalah kabut asap atau smog yang begitu parah, terutama saat musim dingin akibat penggunaan pemanas batu bara. Dilansir laman The Economic Times, menara eksperimental ini dirancang sebagai pemurni udara terbesar di dunia dan diklaim mampu menghasilkan lebih dari 10 miljoen meter kubik udara bersih setiap harinya. Cara kerja menara ini memanfaatkan energi matahari melalui jaringan rumah kaca di sekitar dasar menara. Udara kotor ditarik ke dalam rumah kaca, dipanaskan oleh matahari, lalu dialirkan ke atas melewati berbagai lapisan filter untuk menyaring polutan berbahaya, seperti partikel halus PM2.5 yang memicu gangguan kesehatan.

2. New Delhi, India

ilustrasi New Delhi, India (unsplash.com/Laurentiu Morariu)

Pemasangan menara pembersih udara pertama di New Delhi, tepatnya di kawasan Pasar Sentral Lajpat Nagar, diinisiasi oleh Asosiasi Pedagang Lajpat Nagar bersama anggota parlemen setempat sebagai langkah respon darurat terhadap tingkat polusi udara yang masuk ke dalam kategori parah. Menara silindris setinggi sekitar 24 kaki dirancang untuk menyedot udara kotor serta menyaring polutan berbahaya seperti PM2.5 dan PM10 di area sekitar. Dari segi spesifikasi teknis dan jangkauan, alat ini dioperasikan menggunakan tenaga listrik dengan biaya perawatan bulanan yang ditanggung oleh pihak asosiasi pedagang. Menara ini diklaim mampu memproses ratusan ribu meter kubik udara per hari dan membersihkan udara dalam radius ratusan meter guna menyediakan udara yang lebih segar bagi ribuan pengunjung pasar setiap harinya.

3. Rotterdam, Belanda

ilustrasi Rotterdam, Belanda (unsplash.com/Daniel Agudelo)

Daan Roosegaarde seniman inovatif dalam mendirikan Smog Free Tower setinggi 23 kaki atau sekitar 7 meter di sebuah taman publik di Rotterdam. Menara ini beroperasi menggunakan teknologi ionisasi positif yang dirancang khusus untuk menarik dan menangkap partikel polusi halus dari udara. Dengan konsumsi daya yang sangat efisien hanya menggunakan listrik setara dengan pemanas air rumah tangga, alat ini mampu membersihkan hingga 30.000 meter kubik udara per jam di area sekitarnya. Partikel karbon murni yang tersaring tidak dibuang menjadi sampah berbahaya, melainkan dipadatkan dengan tekanan tinggi untuk diubah menjadi batu permata buatan yang elegan. Batu-batu karbon hitam ini kemudian dijadikan perhiasan seperti cincin dan manset, di mana setiap pembelian perhiasan tersebut secara simbolis menyumbangkan ribuan meter kubik udara bersih kembali ke kota.

4. Beijing, China

ilustrasi Beijing, China (unsplash.com/Ling Tang)

Smog Free Project yang ada di Beijing juga digagas oleh seniman Roosegaarde. Menara ini juga sama dari segi bentuk dan fungsinya yang ada di Belanda. Menara ini dirancang khusus untuk mengatasi polusi parah di perkotaan Beijing dengan kemampuan menyedot dan menyaring 30.000 meter kubik udara per jam menggunakan teknologi ion ramah lingkungan. Proyek ini tidak hanya membersihkan sekitar 75% partikel polusi berbahaya di sekitarnya, tetapi juga berfungsi sebagai bentuk inspirasi visual bagi warga, pemerintah, dan industri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kesadaran bersama akan pentingnya udara bersih dan memotivasi masyarakat agar mulai merancang serta mewujudkan kota-kota masa depan yang bebas dari kabut asap.

5. Kraków, Polandia

ilustrasi Kraków, Polandia (unsplash.com/Tomasz Tomal)

Kraków, Polandia menghadapi krisi polusi udara yang parah akibat kombinasi emisi perkotaan, industri, serta penggunaan tungku batu bara rumah tangga yang buruk secara musiman. Kondisi geografis kota yang berada di cekungan dengan sirkulasi angin yang minim memperburuk situasi, menjadikan musim dingin sebagai periode sarat kabut asap beracun yang berdampak buruk pada kesehatan warga. Smog Free Tower yang berasal dari seniman dan desainer Belanda juga menghadirkan menara ini di Jordan Park, Krakow. Menggunakan teknologi yang sama, menara ini mampu menyedot dan membersihkan ribuan meter kubik udara per jam, sekaligus mendaur ulang partikel polusi yang terkumpul menjadi perhiasan simbolis.

Meski demikian, para ahli terus memperingatkan bahwa menara pemurni udara ini bukanlah solusi jangka panjang yang bisa menyelesaikan akar masalah polusi secara menyeluruh. Keberadaannya dinilai lebih efektif sebagai pertolongan pertama atau langkah mitigasi darurat guna menekan konsentrasi partikel berbahaya di titik-titik krusial perkotaan yang padat aktivitas. Banyak pihak juga berpendapat bahwa anggaran fantastis untuk menara ini jauh lebih optimal jika dialihkan untuk memperketat regulasi emisi industri, memperluas ruang terbuka hijau, serta mempercepat transisi energi bersih.

 

 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article