Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Bangsawan Eropa Dulu Menyewa Nanas Hanya untuk Pamer di Pesta?
Nana (pexels.com/SHVEST)
  • Dulu, nanas dianggap simbol kemewahan ekstrem di Eropa karena langka dan sulit dibudidayakan, bahkan nilainya setara emas serta hanya dimiliki kalangan bangsawan.
  • Pada abad ke-16 hingga 17, nanas menjadi tren sosial di Inggris; orang kaya menyewanya untuk pamer di pesta sebagai tanda status tinggi dan prestise.
  • Kini, nanas mudah didapat dan identik dengan budaya tropis seperti Hawaii, bukan lagi lambang kekayaan atau kemewahan seperti masa lalu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tahukah kamu bahwa buah nanas yang biasa kita jumpai dulunya adalah barang berharga yang nilainya setara dengan emas. Hanya orang-orang kalangan atas yang mampu membeli buah nanas, sementara kalangan bawah hanya bisa menyewa untuk per jamnya saja.

Yup, kamu tidak salah baca! Buah nanas ini disewakan saat seseorang akan menghadiri acara pesta. Layaknya sebuah gaun mahal yang akan dikenakan demi menarik perhatian. Bagaimana kisah si buah kuning hingga bisa menjadi simbol kekayaan ini? Berikut penjelasannya!

Nanas dianggap sebagai simbol kekayaan ekstrem

Nanas (pexels.com/Engin)

Dahulu kala nanas merupakan tanaman tropis Amerika Selatan yang sangat mewah karena sulit untuk didapatkan. Buah ini ditemukan oleh penjajah ternama yaitu Christopher Columbus, dalam melakukan pelayaran keduanya di Karibia pada tahun 1493. Sosok Columbus kemudian dikenal luas dalam sejarah sebagai pelopor kedatangan bangsa Eropa di Benua Amerika.

Sebelumnya, Christopher dan anak buahnya tidak pernah melihat buah nanas. Sampai pada akhirnya mereka melabeli nanas dengan nama 'pina', nama ini diambil karena menurutnya buah nanas hampir dengan buah pinus.

Rasa curiga pun menyelimuti Christopher dan anak buahnya saat penduduk asli mendekat dengan kano demi menawarkan air bersih dan makanan untuk diperdagangkan. Mereka awalnya was-was karena khawatir jika nanas dapat memicu penyakit mematikan. Namun, di tengah keraguannya, keunikan buah nanas justru berhasil menarik perhatian mereka.

Buah pertama yang ditemukan di Guadeloupe adalah jenis nanas liar yang ukurannya kecil. Tidak hanya itu, beberapa jenis nanas budidaya yang lebih besar dan lezat pun terlihat di sana.

Suku Tupinambá mengolah buah nanas dengan berbagai cara, mulai dari menikmatinya secara langsung, mengolah dengan cara dibakar, mengeringkannya, dan memfermentasikannya menjadi anggur.

Ketika Christopher Columbus menginjakkan kaki di dunia baru, budidaya nanas telah meluas berkat peran penduduk asli Amerika selama berabad-abad. Buah ini telah tersebar ke beberapa wilayah seperti Brazil, Guyana, Kolombia, dan sebagian Amerika Tengah.

Dahulu, nanas adalah barang mewah dan hanya kalangan atas lah yang dapat membelinya. Sayangnya, penduduk Eropa kurang menghargai keahlian penduduk Amerika dalam budidaya nanas karena dianggap metode penanaman yang dilakukan sembarangan dan tidak rapi.

Alih-alih mengakui kerja keras petani lokal, para penjelajah ini lebih percaya bahwa kelimpahan nanas adalah murni anugerah Tuhan. Bahkan, di mata Christopher Columbus nanas bukan sekadar makanan, melainkan simbol keeksotisan dan kemewahan yang menjadikannya dijuluki sebagai raja dari segala buah.

Fenomena sewa menyewa nanas di Inggris

Nanas (unsplash.com/Justine)

Pada abad ke-16 dan ke-17 menyaksikan sejumlah makanan dan produk eksotis di bawa kembali ke Eropa dan dunia baru, dan nanas tidak hanya tampak lezat di zamannya, namun juga menawarkan kesan eksotis dengan 'mahkota' yang memberi kesan agung. Kepopuleran nanas tidak usah diragukan lagi, bahkan Raja Charles II begitu terpikat oleh nanas sehingga ia memesan potret dirinya sedang diberi nanas.

Memperoleh nanas merupakan tantangan besar bagi penduduk Inggris. Mayoritas kapal pengangkut memiliki kecepatan yang rendah dan kondisi yang tidak memadai bagi nanas untuk tetap awet selama perjalanan. Selain itu, upaya membudidayakan nanas di Inggris pun terus menemui kegagalan selama bertahun-tahun.

Di Inggris, nanas dengan cepat menjadi simbol kekayaan dan naik status. Nanas diukir menjadi furnitur, dibuat menjadi ornamen, dilukis di kereta, dan dipahat di bangunan, alas, dan kuil taman. Pada masa itu, mendapatkan nanas asli nilainya setara dengan mendapatkan sekantong emas.

Uniknya lagi, bagi mereka yang tidak mampu membayar atau membeli nanas, masih ada harapan. Di mana nanas dapat disewa per jam dan akan disewa berkali-kali selama seminggu sebelum akhirnya dijual kepada orang yang beruntung yang benar-benar bisa memakannya.

Saat ini nanas tidak lagi dikaitkan dengan pesta mewah

Nanas (pexels.com/SHVETS)

Karena kelangkaan dan harganya, nanas awalnya hanya disajikan kepada tamu-tamu yang paling dihormati. Gagasan itu kemudian diwujudkan dalam gambar nanas sehingga mereka yang tidak mampu membeli buahnya tetap dapat merasakan sentimen tersebut. Kota-kota, tempat penginapan, rumah tangga pribadi akan memajang gambar atau ukiran buah nanas sebagai bentuk menyampaikan rasa sambutan.

Saat ini fenomena tersebut tidak lagi dapat ditemukan, sebab keberadaan buah nanas sudah mendunia dan siapapun dapat menikmatinya. Saat ini nanas dikaitkan dengan Hawaii. Negara bagian Aloha ini mampu menghasilkan sepertiga dari nanas dunia dan 60% produk nanas kalengan.

Diketahui produksi nanas dalam skala besar baru dimulai pada tahun 1800 an. Meskipun demikian, saat ini di Amerika orang cenderung mengaitkan citra nanas dengan pesta luau, koktail tropis, dan kemeja bermotif hawaii. Nanas tidak lagi dikaitkan dengan pesta-pesta mewah seperti pada masa bangsawan dulu.

Sebagai penutup, nanas sempat menjadi buah yang diagung-agungkan pada masanya. Hal ini dikarenakan keberadaan buah nanas yang masih langka dan metode penanaman yang terus mengalami kegagalan. Nanas sering dijadikan objek sewa menyewa di acara pesta demi status sosial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team