Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengapa Gerhana Bulan Tidak Terjadi Setiap Bulan?

5 min read
Mengapa Gerhana Bulan Tidak Terjadi Setiap Bulan?
ilustrasi gerhana bulan parsial(pexels.com/Santhosh Adiga)
  • Gerhana Bulan terjadi saat Matahari, Bumi, dan Bulan hampir segaris pada fase purnama, sehingga Bulan memasuki bayangan Bumi.

  • Orbit Bulan miring sekitar 5 derajat terhadap ekliptika, membuat Bulan purnama biasanya melintas di atas atau bawah bayangan Bumi.

  • Gerhana muncul saat purnama dekat simpul orbit dalam musim gerhana yang berlangsung kira-kira setiap enam bulan; cakupannya total atau sebagian bergantung posisi Bulan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gerhana Bulan menjadi salah satu fenomena langit yang menarik untuk diamati. Fenomena ini terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan sehingga Bulan masuk ke dalam bayangan Bumi. Namun, meski Bulan purnama muncul hampir setiap bulan, gerhana Bulan tidak ikut terjadi setiap kali Bulan mencapai fase tersebut.

Alasannya ternyata berkaitan dengan kemiringan orbit Bulan. Orbit Bulan mengelilingi Bumi miring sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Kemiringan inilah yang membuat Bulan biasanya melewati sedikit di atas atau di bawah bayangan Bumi, bukan tepat melintasinya.

  1. 1. Bagaimana geometri gerhana Bulan?

    Gerhana Bulan hanya dapat terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam posisi yang hampir segaris. Kondisi ini paling mungkin terjadi ketika Bulan sedang dalam fase purnama karena pada saat tersebut Bumi berada di antara Matahari dan Bulan.

    Jika posisi ketiganya cukup tepat, Bulan akan memasuki bayangan Bumi. Ketika seluruh permukaan Bulan masuk ke bayangan inti Bumi atau umbra, terjadilah gerhana Bulan total. Sementara itu, jika hanya sebagian Bulan yang masuk ke umbra, fenomena yang terjadi adalah gerhana Bulan sebagian.

    Masalahnya, orbit Bulan tidak berada persis pada bidang yang sama dengan orbit Bumi mengelilingi Matahari. Bidang orbit Bumi ini disebut ekliptika, sedangkan orbit Bulan memiliki kemiringan sekitar 5,1 derajat terhadapnya.

    Akibat kemiringan tersebut, Bulan sering kali tidak melewati bayangan Bumi meskipun sedang purnama. Posisi Bulan bisa sedikit lebih tinggi atau lebih rendah dari jalur bayangan tersebut.

  2. 2. Orbit bulan miring, jadi tidak selalu masuk bayangan Bumi

    Gerhana Bulan terjadi ketika Bulan masuk ke dalam bayangan Bumi. Sayangnya, posisi Bulan tidak selalu tepat berada di jalur bayangan tersebut.

    Penyebabnya adalah orbit Bulan yang miring sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Karena kemiringan ini, Bulan dapat berada sedikit lebih tinggi atau lebih rendah dari bidang orbit Bumi ketika mengelilingi planet kita.

    Akibatnya, saat Bulan purnama tiba, Bulan sering kali berada di luar jalur bayangan Bumi. Ini membuat Bulan tetap terlihat bulat penuh dari Bumi, tetapi tidak mengalami gerhana.

    Jadi, Bulan purnama memang terjadi hampir setiap 29,5 hari, tetapi gerhana Bulan hanya terjadi ketika Bulan purnama berada pada posisi yang tepat untuk masuk ke bayangan Bumi. 

  3. 3. Mengapa gerhana Bulan bisa total atau sebagian?

    ilustrasi gerhana bulan parsial yang lebih aman diamati
    ilustrasi gerhana bulan parsial (pexels.com/Priscilla)

    Ketika Bulan akhirnya masuk ke dalam bayangan Bumi, gerhana yang terjadi tidak selalu sama. Ada gerhana Bulan total dan ada gerhana Bulan sebagian, tergantung seberapa jauh Bulan masuk ke dalam bayangan inti Bumi atau umbra.

    Pada gerhana Bulan total, seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam umbra. Bulan tidak benar-benar menghilang, tetapi biasanya berubah menjadi kemerahan karena sebagian cahaya Matahari masih dapat mencapai permukaannya setelah melewati atmosfer Bumi.

    Sementara itu, pada gerhana Bulan sebagian, hanya sebagian permukaan Bulan yang masuk ke dalam umbra. Bagian Bulan yang berada di dalam bayangan akan tampak lebih gelap, sedangkan bagian lainnya tetap terkena cahaya Matahari.

    Perbedaan ini kembali bergantung pada posisi Bulan ketika melewati bayangan Bumi. Jadi, bahkan ketika syarat untuk terjadinya gerhana sudah terpenuhi, posisi Bulan tetap menentukan apakah seluruh atau hanya sebagian permukaannya yang tertutup bayangan Bumi.

  4. 4. Musim Gerhana dan titik simpul orbit Bulan

    Lantas, kapan gerhana Bulan bisa terjadi? Kuncinya berada pada dua titik khusus yang disebut simpul orbit atau nodes. Titik ini merupakan lokasi ketika orbit Bulan memotong bidang ekliptika.

    Gerhana Bulan dapat terjadi ketika Bulan purnama berada cukup dekat dengan salah satu titik tersebut. Pada kondisi ini, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan memungkinkan Bulan melewati bayangan Bumi.

    Periode ketika kondisi tersebut memungkinkan terjadinya gerhana disebut musim gerhana (eclipse season). Periode ini berlangsung kira-kira setiap enam bulan.

    Dalam satu musim gerhana, gerhana Matahari dan gerhana Bulan bahkan dapat terjadi dalam rentang beberapa minggu. Gerhana Matahari berlangsung saat Bulan berada di antara Matahari dan Bumi ketika fase Bulan baru, sedangkan gerhana Bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan saat Bulan purnama.

    Di luar musim gerhana, Bulan purnama tetap bisa terjadi seperti biasa. Hanya saja, lintasannya tidak berpotongan dengan bayangan Bumi sehingga gerhana Bulan tidak terbentuk.

  5. 5. Mengapa gerhana Bulan terasa jarang?

    Bulan sebenarnya mengelilingi Bumi dengan cepat. Satu kali orbit terhadap bintang-bintang berlangsung sekitar 27,3 hari, sedangkan siklus fase Bulan dari satu Bulan baru ke Bulan baru berikutnya berlangsung sekitar 29,5 hari.

    Namun, kedua siklus tersebut belum cukup untuk membuat gerhana terjadi setiap bulan. Ada syarat tambahan yang harus terpenuhi, yaitu posisi Bulan harus berada dekat dengan salah satu simpul orbit ketika terjadi Bulan purnama.

    Dengan kata lain, Bulan purnama saja belum cukup untuk menghasilkan gerhana Bulan. Posisi Bulan terhadap bidang orbit Bumi juga harus tepat.

    Karena itu, sebagian besar Bulan purnama hanya berlalu seperti biasa. Pada beberapa tahun, tidak ada gerhana Bulan total sama sekali. Pada tahun lainnya, bisa terjadi lebih dari satu gerhana Bulan total.

    Jadi, meskipun Bulan purnama memiliki jadwal yang relatif teratur, gerhana Bulan membutuhkan kebetulan posisi yang jauh lebih spesifik. Kemiringan orbit Bulan sekitar 5 derajat dan keberadaan simpul orbit membuat Bulan biasanya “melintas” di atas atau di bawah bayangan Bumi.

    Itulah sebabnya gerhana Bulan tidak terjadi setiap bulan. Fenomena ini baru muncul ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan benar-benar berada pada konfigurasi yang tepat.

    Referensi

    Discover Wildscience. Diakses pada September 2026. Why Lunar Eclipses Don’t Happen Every Month
    Phys.org. Diakses pada September 2026. Why aren't There Eclipses Every Month?
    Rice Space Institute. Diakses pada September 2026. Lunar Eclipse FAQ
    The Weather Network. Diakses pada September 2026. What is a Lunar Eclipse and Why Don't We See Them Every Month

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More