Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa yang Terjadi jika Populasi Kucing Liar Membludak?
kucing (commons.wikimedia.org/NIAID)
  • Populasi kucing liar yang meningkat dapat menyebarkan kotoran di ruang publik, memicu risiko toksoplasmosis, infeksi, gangguan pencernaan, dan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan.
  • Kucing liar berpotensi membawa serta menularkan penyakit melalui gigitan atau cakaran, sekaligus mengganggu aktivitas warga lewat pencurian makanan, kerusakan properti, kebisingan, dan dampak ekonomi.
  • Sebagai predator, kucing liar dapat menekan populasi satwa lokal, merusak rantai makanan dan ekosistem; pengendalian melalui steril massal, sweeping, serta pemeliharaan kucing di rumah diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mau itu di tengah kota, perumahan, hingga pasar, semuanya sudah dikuasai oleh kucing liar atau feral (Felis catus). Hewan dari famili Felidae tersebut merupakan spesies domestik. Artinya, ia bukan hewan yang muncul secara alami. Justru kucing liar merupakan hewan yang "diciptakan" oleh manusia dari proses perkawinan selektif dan domestikasi yang dilakukan selama ribuan tahun.

Sebagai spesies domestik, kucing liar tak sepantasnya berkeliaran bebas di alam, perkotaan, atau permukiman. Jika dibiarkan, keseimbangan ekosistem akan terganggu dan kehidupan manusia bisa terkena dampaknya. Populasi kucing liar juga mulai membludak dan hal tersebut menjadi masalah baru. Kira-kira, apa saja dampak jika populasi kucing liar membludak? Berikut pembahasannya!

1. Kotoran kucing akan bertebaran di berbagai tempat

kucing (commons.wikimedia.org/TylerMascola)

Seperti hewan lain, tentunya kucing bisa buang air, entah itu besar atau kecil. Jika populasi kucing liar membludak maka kotoran mereka juga bertebaran di mana-mana, mulai dari kebun, pinggir sungai, selokan, pasir, hingga pekarangan rumah. Tak cuma bau, kotor, dan menjijikkan, kotoran kucing liar juga cukup berbahaya bagi manusia, lho.

Dilansir dari berbagai sumber, kotoran kucing liar bisa menyebabkan beberapa penyakit, seperti toksoplasmosis, infeksi, gangguan pencernaan, hingga gangguan pernapasan. Jika tidak diatasi, maka penyakit-penyakit tersebut bisa berakibat fatal, khususnya bagi lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Jadi, kamu tak boleh membiarkan kucing liar buang air sembarangan.

2. Penyakit berbahaya akan menyebar dengan mudah

kucing (commons.wikimedia.org/nekonomania)

Selayaknya hewan lain, kucing liar tak selalu bersih. Sebaliknya ia merupakan hewan yang kotor. Di alam, kucing sering masuk ke semak-semak, bermain di pasir, mengeruk tempat sampah, sampai mengotori tubuh dengan air kotor. Karena kebiasaan tersebut, kucing liar bisa membawa penyakit yang berbahaya, entah ke manusia atau hewan lain.

Artikel di jurnal Author Manuscript menjelaskan bahwa salah satu penyakit yang disebarkan oleh kucing liar adalah rabies. Biasanya rabies bisa menyebar lewat gigitan atau cakaran. Selain rabies, penyakit yang disebabkan oleh virus juga bisa disebarkan oleh kucing liar. Terakhir, kucing liar juga bisa menyebabkan infeksi yang cukup parah jika cakaran atau gigitannya tidak ditangani dengan baik.

3. Populasi satwa lokal bisa terancam

kucing (commons.wikimedia.org/Prasan Shrestha)

Kucing liar merupakan predator ganas yang bisa memangsa apa pun. Mau itu hewan darat, air, sampai unggas yang bisa terbang, semuanya bisa dimangsa oleh mamalia tersebut. Hal tersebut menimbulkan masalah tersendiri karena kucing liar bisa memburu, memangsa, dan mengancam eksistensi satwa lokal.

Di Australia, kucing liar mampu membunuh jutaan ekor reptil, amfibi, burung, dan mamalia kecil. Laman American Bird Conservancy juga menjelaskan kalau kucing liar sanggup membunuh 2,4 miliar ekor burung setiap tahunnya di Amerika Serikat. Efeknya mungkin tak akan terasa secara langsung, tapi penurunan populasi tersebut akan berdampak besar terhadap hewan, ekosistem, dan manusia.

4. Aktivitas manusia bisa terganggu

kucing (commons.wikimedia.org/torne)

Secara luas, kehadiran kucing liar bisa mengganggu kehidupan manusia, entah itu dalam hal kecil atau dalam skala yang besar. Contohnya, kucing liar bisa mencuri makanan yang ada di dapur. Terkadang kucing liar juga bisa memanjat rumah atau merusak properti pribadi. Tak cuma itu, kucing liar yang berkelahi juga berisik dan membuat lingkungan terasa kurang nyaman.

Laman Threatened Species Recovery Hub juga menjelaskan bahwa kehadiran kucing liar bisa membawa dampak besar bagi perekonomian. Tercatat, tiap tahunnya Australia merugi hingga 12 juta dolar akibat kucing liar. Dalam hal ini, kucing liar bisa memangsa hingga membunuh hewan ternak, bahkan merusak ladang yang digarap oleh petani.

5. Bencana ekologis akan terjadi

kucing (commons.wikimedia.org/Barbara-Ingeborg)

Dilansir NSW Government, kucing liar merupakan ancaman yang besar bagi keseimbangan ekosistem. Spesifiknya, kehadiran kucing liar mampu merusak rantai makanan, mengganggu pertumbuhan tanaman, hingga merusak tatanan ekosistem lokal. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat buruk karena bisa menyebabkan bencana ekologis. Tak cuma kepunahan satwa lokal, nantinya kucing liar bisa menyebabkan pencemaran, kerusakan habitat, hingga kelumpuhan ekosistem.

Sebelum populasi kucing liar membludak, pengontrolan jumlah kucing liar merupakan langkah terbaik untuk mencegah dan menanggulangi berbagai dampak negatifnya. Steril massal, sweeping, dan menjaga kucing peliharaan di dalam rumah merupakan beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan. Semua langkah tersebut harus dilakukan oleh banyak pihak, entah itu pemerintah atau masyarakat secara luas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article