Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sains di Balik Hewan Peramal Piala Dunia, Mitos atau Fakta?
ilustrasi anjing dan bola (pexels.com/David Kanigan)
  • Hewan peramal Piala Dunia sebenarnya hanya memilih berdasarkan rangsangan dan pengalaman, bukan benar-benar meramal hasil pertandingan atau mengetahui masa depan.
  • Kecerdasan gurita dan hewan lain sering disalahartikan sebagai kemampuan meramal, padahal perilaku mereka merupakan hasil evolusi untuk bertahan hidup, bukan membaca masa depan.
  • Kepercayaan pada hewan peramal muncul karena confirmation bias manusia yang cenderung mencari pola dari kebetulan, menjadikannya lebih sebagai hiburan daripada bukti ilmiah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Piala Dunia 2026 yang tengah berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko kembali menyita perhatian jutaan penggemar sepak bola di beberapa negara. Selain pertandingan yang penuh drama, tradisi menghadirkan hewan peramal untuk menebak pemenang juga kembali ramai diperbincangkan. Fenomena ini mengingatkan banyak orang pada Paul si gurita, bintang luar lapangan yang berhasil menebak sejumlah hasil pertandingan Piala Dunia 2010 dengan tepat.

Sejak saat itu, berbagai hewan lain, mulai dari gajah, panda, unta, hingga kucing, juga kerap dilibatkan dalam prediksi pertandingan sepak bola. Meski terdengar menarik, benarkah hewan-hewan tersebut memiliki kemampuan meramal hasil pertandingan? Lalu, adakah  penjelasan ilmiah yang membuat fenomena ini tampak begitu meyakinkan? Yuk, temukan jawabannya di bawah ini!


1. Hewan sebenarnya tidak sedang meramal pemenang

ilustrasi kucing dan bendera (unsplash.com/Reba Spike)

Fenomena hewan peramal Piala Dunia sebenarnya tidak berarti hewan tersebut mampu mengetahui hasil pertandingan di masa depan. Dalam banyak kasus, hewan hanya diminta memilih satu di antara dua kotak atau wadah makanan yang mewakili masing-masing tim. Sebagai contoh, dilansir Smithsonian Ocean, gurita merupakan hewan yang sangat cerdas dan mampu belajar melalui pengalaman, termasuk menghubungkan suatu pilihan dengan hadiah berupa makanan.

Kemampuan belajar inilah yang membuat pilihan gurita sering terlihat istimewa di mata manusia. Padahal, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa gurita atau hewan lainnya memiliki kemampuan untuk memprediksi hasil pertandingan sepak bola. Dengan kata lain, yang dilakukan hewan tersebut lebih tepat disebut sebagai perilaku memilih berdasarkan rangsangan dan pengalaman, bukan meramal masa depan.


2. Kecerdasan hewan sering disalahartikan sebagai ramalan

ilustrasi gurita (pexels.com/Pia B)

Salah satu alasan gurita sering dikaitkan dengan kemampuan meramal adalah karena hewan ini memang memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa. Mengutip dari Scientific American, gurita termasuk hewan dengan sistem saraf yang sangat kompleks dan memiliki sekitar 500 juta neuron, jumlah yang tergolong besar untuk hewan tak bertulang belakang. Gurita juga mampu memecahkan masalah, membuka tutup wadah, mengenali manusia, bahkan belajar dari pengalaman yang pernah dialaminya. 

Menariknya, sebagian besar neuron gurita justru berada di lengannya, sehingga setiap lengan dapat merasakan dan merespons lingkungan dengan sangat baik. Kemampuan inilah yang membuat setiap gerakan dan pilihannya sering terlihat begitu terarah dan seolah-olah sudah dipikirkan sebelumnya. Namun, kecerdasan tersebut merupakan hasil evolusi untuk membantu gurita bertahan hidup, seperti mencari makan atau menghindari predator, bukan untuk memprediksi hasil pertandingan sepak bola.

Hingga saat ini, belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan bahwa gurita memiliki kemampuan melihat atau mengetahui peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Jadi, meski kecerdasannya memang mengagumkan, menyebut gurita sebagai peramal lebih merupakan bagian dari tradisi dan hiburan saat Piala Dunia. Hal ini juga berlaku pada hewan lainnya, seperti gajah, panda, kucing, dan unta yang kerap ikut meramaikan fenomena tersebut.


3. Otak manusia memang suka mencari pola

ilustrasi lumba-lumba (pexels.com/ Emilio Sánchez Hernández)

Meski tidak ada bukti ilmiah bahwa hewan dapat memprediksi hasil pertandingan, banyak orang tetap mempercayai ramalan mereka. Dilansir Britannica, hal ini berkaitan dengan confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang lebih mudah mengingat informasi yang sesuai dengan keyakinannya dibandingkan yang bertentangan. Misalnya, ketika seekor gurita berhasil menebak pemenang beberapa kali, keberhasilan itu akan lebih diingat daripada prediksi-prediksi yang meleset.

Akibatnya, orang mulai menganggap hewan tersebut memiliki kemampuan khusus untuk melihat hasil pertandingan di masa depan. Padahal, bisa saja hasil yang benar itu merupakan bagian dari peluang atau kebetulan yang kemudian dianggap sebagai pola. Itulah sebabnya fenomena hewan peramal Piala Dunia lebih banyak dijelaskan oleh cara kerja pikiran manusia daripada kemampuan meramal yang dimiliki hewan itu sendiri.

Pada akhirnya, hewan peramal Piala Dunia lebih merupakan fenomena yang menarik untuk diikuti sebagai hiburan daripada bukti bahwa mereka bisa memprediksi masa depan. Di balik kisah-kisah tersebut, sains justru membantu kita memahami perilaku hewan sekaligus cara kerja otak manusia dalam memaknai sebuah kebetulan. Jadi, yang bekerja bukan kemampuan meramal, melainkan perilaku hewan dan cara manusia memaknainya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article