ilustrasi penggunaan gas air mata (unsplash.com/Pawel Janiak)
Menjelang Perang Dunia I selesai, Fries, pemimpin Chemical Warfare Service, mulai mempromosikan gas air mata sebagai temuan senjata kimia untuk penggunaan sehari-hari. Dalam majalah perdagangan Gas Age Record edisi 26 November 1921, penulis teknologi Theo M. Knappen menjelaskan bahwa Fries mengampanyekan gas air mata sepanjang tahun 1920-an sebagai alat memelihara ketertiban, melansir The Atlantic.
Pada promosinya, Fries menjelaskan fungsi gas air mata yang jauh lebih 'manusiawi' dibandingkan senjata tajam lain. Hanya sesaat setelah dilepaskan, senyawa kimia di dalamya bisa memengaruhi fisik dan sisi psikologis sehingga massa bisa membubarkan diri.
Pada akhir tahun 1920-an, departemen kepolisian di New York, Philadelphia, Cleveland, San Francisco, dan Chicago membeli pasokan gas air mata. Bukan hanya itu, penjualan juga dilakukan ke luar negeri meliputi wilayah jajahan di India, Panama, dan Hawaii.
Adanya permintaan baru ini membuat bentuk gas air mata juga diperbarui. Kartrid gas air mata menggantikan model peledak awal yang sering kali pelempar. Mekanisme penggunaannya ditingkatkan dengan pistol, granat, dan bahkan tongkat biliar yang berfungsi ganda sebagai pelontar gas air mata.
Selanjutnya, gas air mata segera menjadi senjata pilihan bagi sipir penjara, bahkan bankir. Alat-alat yang diisi gas air mata dipasang di brankas untuk menghentikan perampokan, dan diikat ke langit-langit aula penjara untuk mencegah kerusuhan.