Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Siapa yang Menemukan Mesin Cetak? Ini Sejarah Lengkapnya!

4 min read
Siapa yang Menemukan Mesin Cetak? Ini Sejarah Lengkapnya!
ilustrasi mesin cetak (pixabay.com/fsHH)
  • Perkembangan mesin cetak dimulai di China sejak abad ke-8 melalui blok kayu; Bi Sheng kemudian memperkenalkan huruf lepas dari tanah liat, disusul inovasi meja berputar Wang Chen.
  • Korea memakai huruf lepas berbahan logam seperti perunggu atau timah pada abad ke-14, menghasilkan buku Buddhis “Jikji” pada 1377, meski teknologinya lama mencapai popularitas.
  • Johannes Gutenberg mengembangkan mesin cetak modern di Jerman pada 1440-an, dengan huruf logam dan tinta minyak; Alkitab 1452 menjadi mahakaryanya serta memperluas produksi buku dan penyebaran informasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mesin cetak adalah penemuan paling bermanfaat, utamanya untuk penyebaran informasi. Tanpa mesin cetak, informasi dan ilmu pengetahuan hanya tersebar terbatas untuk kalangan tertentu. Pasalnya, pada zaman tersebut informasi ditulis secara manual sehingga produksinya tidak bisa cepat dan massal.

Belum diketahui pasti, siapa yang menemukan mesin cetak pertama kali. Namun, perkembangan mesin cetak sudah terjadi mulai abad ke-8 di China. Kemudian semakin berkembang hingga nama Johannes Gutenberg dikenal melalui penemuan mesin cetaknya  yang revolusioner. Untuk lebih lengkapnya, berikut sejarah mesin cetak yang perlu diketahui.

  1. 1. Perkembangan mesin cetak di China

    ilustrasi huruf cetak
    ilustrasi huruf cetak (unsplash.com/kaori kubota)

    Dikutip dari helloprint, teks tertua ditemukan di gua dekat kota Dunhuang, China berasal dari abad ke-8. Teks tersebut dibuat dengan mesin cetak yang menggunakan blok kayu, diukir tangan dengan karakter terbalik. Buku yang terbit dengan mesin cetak ini adalah buku “The Diamond Sutra”, terbit tahun 868 M. Pada 877 M, hasil cetak semakin bervariasi, ada kalender, bagan matematika, kamus, almanak, panduan pemakaman dan pernikahan, materi pendidikan hingga panduan kosakata.

    Pada abad ke-11, ilmuwan Bi Sheng dari Yinshan, Hubei, China, membuat mesin cetak dengan konsep berbeda. Mesin cetak yang awalnya panel blok diganti menjadi karakter individual sehingga bisa dipindah dan digunakan kembali. Huruf tersebut dibuat dari tanah liat yang dibakar, disusun pada bingkai dan plat besi. 

    Pemilihan bahan dasar tanah liat, karena kayu memiliki beberapa kelemahan. Seperti tekstur tidak konsisten, mudah menyerap kelembapan hingga masalah tinta yang menempel. Berkat penemuan ini, buku menjadi hal umum bagi kalangan terpelajar dan menjadi simbol status kelas kaya pada masa tersebut.

    Berlanjut sekitar 1297 hingga 1313, Wang Chen yang merupakan hakim China membuat mesin cetak yang bisa bergerak. Bahan yang digunakan kayu dan meja yang bisa diputar sehingga percetakan jadi lebih efisien. Mesin cetak dengan meja berputar ini mencetak buku pertanian dan praktik bercocok tanam bernama “Nung Shu”.

  2. 2. Perkembangan di Korea

    ilustrasi mesin
    ilustrasi mesin (pixabay.com/RodrigoAlabart)

    Tak hanya China, tetangganya yaitu Korea juga menciptakan mesin cetak huruf lepas. Namun bedanya, bukan menggunakan tanah liat atau kayu, tapi menggunakan logam. Perunggu atau timah menjadi bahan baku utama.

    Buku yang terbit menggunakan mesin ini berjudul “Jikji” yang berisi kumpulan pepatah Buddha. Buku ini diterbitkan oleh seorang biksu dari Korea bernama Bae Gun pada abad ke-14 atau sekitar 1377. Walaupun begitu, mesin cetak ini butuh waktu panjang untuk mencapai popularitasnya.

  3. 3. Inovasi mesin cetak di Jerman

    ilustrasi huruf cetak
    ilustrasi huruf cetak (pixabay.com/Gelly___)

    Di Jerman, nama Johannes Gutenberg dikenal berkat teknologi mesin cetak modern. Dikutip dari History, Gutenberg berhasil mengembangkan mesin cetak pada 1440. Setelah melalui beberapa perkembangan pada 1450, mesin cetak tersebut akhirnya memiliki sebutan Mesin Cetak Gutenberg. Tak hanya mesin, tintanya juga dibuat secara khusus.

    Dalam pembuatannya, Gutenberg menggunakan konsep pengecoran replika. Huruf dibuat terbalik dalam kuningan, kemudian replika dibuat dengan menuangkan timah cair. Dikutip dari History, sejumlah peneliti menduga Gutenberg juga menerapkan sistem pengecoran pasir. Gunanya agar bentuk dan ukuran huruf konsisten.

    Selain mesin cetak, Gutenberg juga membuat tinta khusus. Tinta yang digunakan terbuat dari bahan dasar minyak agar menempel di logam. Selain itu, Gutenberg juga menyempurnakan metode meratakan kertas cetak menggunakan alat pemeras anggur.

  4. 4. Mahakarya Gutenberg

    Bible Gutenberg
    Bible Gutenberg (pixabay.com/zeeh)

    Berkat mesin cetak yang dibuat oleh Gutenberg, aksesibilitas karya tulis semakin mudah. Tak hanya itu, produksi buku jadi lebih cepat sehingga distribusi informasi semakin luas. Pada tahun tersebut, semakin banyak orang yang melek huruf dan berpendidikan di Eropa.

    Salah satu mahakarya yang dibuat dari Mesin Cetak Gutenberg adalah Alkitab yang tercetak pada tahun 1452. Setidaknya, Gutenberg sudah mencetak 180 eksemplar dengan 1.300 halaman dan setiap halamannya terdiri dari 42 baris teks huruf Gotik. Untuk mencetak Alkitab tersebut, Gutenberg membutuhkan 300 blok huruf cetak serta 50.000 lembar kertas. 

  5. 5. Berkenalan dengan Johann Gutenberg

    Patung Johanner Gutenberg
    Patung Johanner Gutenberg (unsplash.com/Achim Hube )

    Lantas, seperti apa latar belakang Johannes Gutenberg? Johannes Gutenberg atau dikenal dengan Johann Gutenberg lahir pada 1400 di Kota Mainz, Jerman. Gutenberg adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari kalangan bangsawan. Dikutip dari Historyhit, ayahnya merupakan tukang emas untuk uskup di Mainz.

    Ayahnya Friele Gensfleisch zur Laden merupakan pedagang bangsawan. Sedangkan ibunya Else Wyrich adalah anak dari pemilik toko. Mereka tinggal di rumah Gutenberg di Mainz. Namun karena ada pemberontakan pengrajin melawan kelas bangsawan, mereka diasingkan dan pindah ke Strasbourg, Prancis.

    Berkat penemuannya tersebut, Uskup Agung Mainz yaitu Adolf van Nassau-Wiesbaden, memberikan gelar Hofmann pada Gutenberg pada 1465. Gutenberg kemudian meninggal pada 3 Februari 1468 dan dimakamkan di Gereja Fransiskan di Mainz. Namun karena Perang Dunia Kedua, makan Gutenberg tidak diketahui keberadaannya. 

    Siapa yang menemukan mesin cetak hingga perkembangannya sudah dibahas secara lengkap. Mesin cetak menjadi penemuan revolusioner yang membantu perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan. Berkat mesin cetak, semakin banyak bangsa terdidik dan melek huruf.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More