Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal PM2.5, Partikel Polutan Udara yang Berbahaya Bagi Kesehatan

7 min read
Mengenal PM2.5, Partikel Polutan Udara yang Berbahaya Bagi Kesehatan
ilustrasi melakukan kegiatan dengan masker (magnific.com/tirachardz)
  • PM2.5 merupakan partikel sangat kecil yang dapat mencapai bagian terdalam paru-paru dan berpotensi masuk ke aliran darah.

  • Sumber PM2.5 meliputi kendaraan, industri, pembakaran, aktivitas rumah tangga, kebakaran, serta proses alami di atmosfer.

  • Paparan PM2.5 berkaitan dengan gangguan pernapasan dan kardiovaskular, sehingga pemantauan kualitas udara serta pengurangan emisi diperlukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia kembali mengingatkan masyarakat terhadap bahaya polusi udara. Kepulan asap yang menyebar tidak hanya membuat langit terlihat kelabu dan mengurangi jarak pandang, tetapi juga membawa partikel-partikel berbahaya yang dapat masuk ke dalam tubuh. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah PM2.5, partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang tidak mudah terlihat oleh mata manusia.

Ukuran PM2.5 yang sangat kecil membuat partikel ini dapat terhirup hingga mencapai bagian terdalam paru-paru. Namun, sumbernya tidak hanya berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan. Aktivitas kendaraan bermotor, emisi industri, pembakaran sampah, hingga reaksi kimia berbagai polutan di atmosfer juga dapat menghasilkan PM2.5. Artinya, partikel berbahaya ini bisa ditemukan dalam udara yang kita hirup sehari-hari, bahkan ketika langit terlihat cerah dan tidak ada asap yang tampak.

Menurut IQAir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta State of Global Air, PM2.5 menjadi salah satu polutan yang perlu mendapat perhatian karena kemampuannya menembus jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan partikel halus ini berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari masalah pernapasan hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, terutama jika terjadi dalam jangka panjang. Karena itu, memahami sumber PM2.5, cara mengukur konsentrasinya, serta dampaknya terhadap tubuh menjadi penting, khususnya ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.

  1. 1. PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil

    Ilustrasi Polusi Udara Jakarta.
    Ilustrasi Polusi Udara Jakarta. (IDN Times/Chaesya Pricilla)

    PM2.5 adalah istilah untuk particulate matter atau materi partikulat yang memiliki diameter aerodinamis sebesar 2,5 mikrometer atau kurang. Sebagai gambaran, ukuran partikel ini jauh lebih kecil dibandingkan diameter rambut manusia sehingga sulit diamati secara langsung. Partikel tersebut dapat terdiri dari berbagai bahan, termasuk debu, jelaga, asap, serta senyawa kimia yang melayang di udara.

    Ukuran yang sangat kecil menjadi salah satu alasan PM2.5 mendapatkan perhatian khusus dalam pemantauan kualitas udara. Berbeda dari partikel yang lebih besar dan cenderung tertahan di saluran pernapasan bagian atas, PM2.5 dapat bergerak lebih jauh ketika terhirup. Partikel tersebut dapat mencapai bagian terdalam paru-paru dan berpotensi memicu gangguan kesehatan ketika konsentrasinya tinggi atau paparannya berlangsung terus-menerus.

    IQAir menjelaskan bahwa PM2.5 termasuk kategori partikel halus yang dapat berasal dari berbagai sumber alami maupun aktivitas manusia. Komposisinya juga tidak selalu sama karena bergantung pada sumber emisi dan proses yang terjadi di atmosfer. Karena itu, dua wilayah dengan konsentrasi PM2.5 yang serupa belum tentu memiliki komposisi partikel yang identik.

  2. 2. Kendaraan bermotor dan aktivitas pembakaran menjadi sumber PM2.5

    PM2.5 dapat terbentuk melalui dua mekanisme utama, yaitu emisi langsung ke udara dan pembentukan sekunder di atmosfer. Partikel primer dilepaskan secara langsung dari sumbernya, seperti kendaraan bermotor, pembangkit listrik, aktivitas industri, dan pembakaran biomassa. Sementara itu, partikel sekunder terbentuk ketika gas pencemar mengalami reaksi kimia di atmosfer dan menghasilkan materi partikulat baru.

    State of Global Air menjelaskan bahwa sumber PM2.5 dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya. Pembakaran bahan bakar fosil, aktivitas rumah tangga, transportasi, industri, serta kebakaran merupakan beberapa sumber yang berkontribusi terhadap konsentrasi partikel halus di udara. Besarnya kontribusi masing-masing sumber dipengaruhi oleh aktivitas manusia, penggunaan energi, dan kondisi lingkungan setempat.

    Selain sumber yang berkaitan dengan aktivitas manusia, PM2.5 juga dapat berasal dari fenomena alam. Kebakaran vegetasi, debu yang terbawa angin, dan proses alami lainnya dapat menyumbang partikel halus ke atmosfer. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencemaran PM2.5 tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga dapat memengaruhi wilayah lain ketika partikel terbawa oleh pergerakan udara.

  3. 3. PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan aliran darah

    Deretan gedung perkotaan yang tertutup kabut asap polusi udara tebal
    pemandangan sudut kota yang terselimuti kabut polusi udara tebal (pexels.com/Nikolai Kolosov)

    Bahaya utama PM2.5 berkaitan dengan kemampuannya menembus sistem pertahanan alami tubuh. Ketika terhirup, partikel halus dapat mencapai bagian terdalam paru-paru dan sebagian komponennya berpotensi masuk ke aliran darah. IQAir menjelaskan bahwa ukuran mikroskopis tersebut menjadi salah satu alasan PM2.5 memiliki risiko kesehatan yang serius, terutama ketika seseorang terpapar dalam konsentrasi tinggi.

    Dalam jangka pendek, paparan PM2.5 dapat menimbulkan iritasi pada tenggorokan dan saluran pernapasan. Gejala yang muncul dapat berupa batuk, rasa tidak nyaman ketika bernapas, hingga kesulitan bernapas. Tingkat keparahan keluhan dapat berbeda antara satu orang dan lainnya, terutama jika seseorang sudah memiliki gangguan kesehatan sebelumnya.

    Paparan jangka panjang berkaitan dengan risiko penyakit yang lebih serius, termasuk penyakit jantung, penyakit paru-paru, bronkitis, dan penurunan fungsi paru-paru. IQAir juga mencatat hubungan paparan PM2.5 dengan serangan jantung, gangguan irama jantung, asma, hingga kematian dini. Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru menjadi kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi partikel.

  4. 4. PM2.5 dan PM10 memiliki ukuran serta karakteristik berbeda

    PM2.5 sering disebut bersamaan dengan PM10 dalam laporan kualitas udara, tetapi keduanya merujuk pada kelompok partikel dengan ukuran berbeda. PM2.5 mencakup partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau kurang, sedangkan PM10 mencakup partikel berdiameter hingga 10 mikrometer. Artinya, PM2.5 merupakan bagian dari kelompok PM10, bukan jenis polutan yang sepenuhnya terpisah.

    Perbedaan ukuran tersebut memengaruhi bagaimana partikel berinteraksi dengan sistem pernapasan manusia. Partikel yang lebih besar cenderung lebih mudah tertahan oleh mekanisme pertahanan tubuh, termasuk melalui batuk dan bersin. Sebaliknya, PM2.5 dapat menembus lebih jauh ke dalam paru-paru sehingga memiliki potensi dampak kesehatan yang lebih luas.

    Meski PM2.5 menjadi perhatian khusus, bukan berarti PM10 tidak berbahaya. IQAir menjelaskan bahwa paparan PM10 juga berkaitan dengan gangguan kesehatan, termasuk kerusakan jaringan paru-paru dan asma. Karena itu, kedua kelompok partikel tetap menjadi bagian penting dalam pemantauan pencemaran udara.

  5. 5. Polusi PM2.5 juga dapat memengaruhi kualitas udara dalam ruangan

    Paparan PM2.5 tidak hanya terjadi ketika seseorang berada di jalan raya atau kawasan industri. Partikel halus dari luar ruangan dapat masuk ke dalam bangunan melalui celah pintu, jendela, dan bagian lain yang memungkinkan pertukaran udara. Karena ukurannya kecil, keberadaan PM2.5 di dalam ruangan tidak selalu dapat dikenali melalui pengamatan langsung.

    Selain berasal dari udara luar, aktivitas rumah tangga juga dapat menghasilkan PM2.5. IQAir menyebutkan beberapa sumber yang perlu diperhatikan, seperti kegiatan memasak menggunakan bahan bakar tertentu, pembakaran lilin dan dupa, penggunaan perapian, serta asap rokok. Bahkan, penggunaan bahan pembersih dan penyegar udara tertentu dapat menghasilkan polutan gas yang kemudian bereaksi dan berkontribusi terhadap pembentukan partikel halus.

    Kondisi ini menunjukkan bahwa menjaga kualitas udara dalam ruangan tidak cukup hanya dengan menutup pintu dan jendela. Sumber polutan yang berasal dari aktivitas di dalam rumah juga perlu diperhatikan agar konsentrasi partikel tidak terus meningkat. Pemantauan kualitas udara dan pengurangan aktivitas yang menghasilkan emisi menjadi bagian penting dalam mengendalikan paparan PM2.5.

  6. 6. PM2.5 dapat menyebar jauh dan berdampak pada lingkungan

    Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan
    Kondisi kabut asap di kota Palembang yang tiba-tiba gelap ditutupi polusi kebakaran hutan dan lahan (IDN Times/Rangga Erfizal)

    Salah satu karakteristik PM2.5 adalah kemampuannya bertahan di atmosfer dan terbawa oleh pergerakan udara. IQAir menjelaskan bahwa partikel halus dapat tetap melayang selama berhari-hari hingga berminggu-minggu dalam kondisi tertentu. Pergerakan angin memungkinkan partikel tersebut menyebar dari sumber emisi menuju wilayah lain, bahkan melintasi batas negara.

    Penyebaran tersebut membuat pencemaran PM2.5 tidak selalu berasal dari aktivitas yang terjadi di sekitar lokasi pengamatan. Konsentrasi tinggi pada suatu wilayah dapat dipengaruhi oleh sumber emisi setempat maupun polutan yang terbawa dari kawasan lain. Karena itu, State of Global Air menekankan pentingnya memahami kontribusi berbagai sumber pencemaran dalam upaya mengurangi paparan PM2.5.

    Selain memengaruhi kesehatan manusia, partikel halus juga dapat menimbulkan dampak lingkungan. IQAir mencatat bahwa polusi partikulat berkaitan dengan kerusakan material dan bangunan, pengendapan asam, serta gangguan pada vegetasi ketika partikel mengendap di permukaan tanaman. Partikel yang terbawa ke perairan juga dapat memengaruhi keseimbangan nutrisi dalam ekosistem.

  7. 7. Mengurangi sumber emisi menjadi langkah penting untuk menekan paparan PM2.5

    Pengendalian PM2.5 membutuhkan perhatian terhadap berbagai sumber emisi yang berkontribusi terhadap pencemaran udara. Pada tingkat individu, IQAir menyarankan pengurangan penggunaan kendaraan pribadi, menghindari pembakaran sampah dan kayu, serta tidak merokok di dalam ruangan. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi pelepasan partikel halus dari aktivitas sehari-hari.

    Untuk lingkungan dalam ruangan, pengendalian sumber polutan dapat dilakukan melalui kebiasaan membersihkan rumah menggunakan kain lembap dan penyedot debu dengan filter HEPA. Penggunaan perangkat pembersih udara yang mampu menyaring partikel halus juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi konsentrasi PM2.5 di dalam ruangan. Namun, pengurangan sumber emisi tetap menjadi bagian penting karena partikel dapat terus terbentuk selama aktivitas penyebab pencemaran berlangsung.

    Pada skala yang lebih luas, pengendalian polusi membutuhkan kebijakan yang menyasar sektor transportasi, industri, pembangkit listrik, dan aktivitas pembakaran lainnya. Perbedaan sumber PM2.5 di setiap wilayah membuat strategi pengendaliannya perlu disesuaikan dengan kondisi setempat. Informasi mengenai kontribusi sumber pencemaran serta hasil pemantauan kualitas udara menjadi dasar penting untuk menentukan langkah yang paling relevan.

    PM2.5 menjadi salah satu polutan yang perlu mendapat perhatian karena ukurannya sangat kecil, sumbernya beragam, dan dampaknya dapat melibatkan berbagai organ tubuh. Memahami karakteristik partikel ini membantu masyarakat membaca informasi kualitas udara secara lebih tepat, termasuk data yang disediakan BMKG. Pada akhirnya, pengurangan emisi dan pemantauan kualitas udara secara berkala menjadi bagian penting dalam upaya menekan risiko kesehatan akibat paparan PM2.5.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More