Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jelang JRF 2026, Febby Rastanty Ungkap Makna Seven Star Finisher

3 min read
Jelang JRF 2026, Febby Rastanty Ungkap Makna Seven Star Finisher
Febby Rastanty telah menyelesaikan tujuh ajang maraton dunia (World Marathon Majors). (IDN Times/Tino).
  • Febby Rastanty meraih gelar Seven Star Finisher setelah menyelesaikan tujuh ajang maraton dunia pada usia 29 tahun.

  • Ia menyebut lari sebagai ruang untuk menjaga kebahagiaan dan kewarasan di tengah padatnya jadwal syuting.

  • Pengalaman maraton membuat Febby belajar konsisten dan berkomitmen, sementara pemula didorong untuk mulai dengan perlengkapan yang ada.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Aktris sekaligus pelari, Febby Rastanty, telah menorehkan pencapaian luar biasa dengan meraih gelar Seven Star Finisher. Gelar prestisius ini menandakan dirinya berhasil menyelesaikan tujuh ajang maraton dunia (World Marathon Majors) pada usia 29 tahun.

Atas prestasi tersebut, HOKA Indonesia resmi menggandeng Febby sebagai duta merek terbaru mereka jelang Jakarta Running Festival (JRF) 2026. Di balik medali dan rekornya, Febby membagikan kisah personal tentang alasannya mencintai olahraga lari.

  1. 1. Lari jadi sarana healing

    Bagi Febby, motivasi awalnya untuk berlari bukan semata-mata demi mengejar medali atau rekor waktu tertentu, melainkan untuk kebahagiaan pribadinya. Di tengah padatnya jadwal syuting, lari menjadi ruang aman untuk melepas penat dan menjaga kewarasan.

    "Lari itu menurut aku healing banget, I run for my happiness, I run for my sanity," kata Febby saat lari di HOKA 5,27K Social Run yang masuk bagian dari rangkaian JRF 2026, Kamis (23/10/2026).

  2. 2. Titik balik jatuh cinta di Tokyo Marathon

    Dari ketujuh bintang maraton yang diraihnya, Febby menyebut Tokyo Marathon yang diikutinya pada 2023 lalu menjadi pengalaman paling berkesan. Ajang tersebut merupakan lari jarak jauh pertamanya, sekaligus menjadi titik balik yang membuatnya jatuh cinta pada olahraga ini.

    Alih-alih merasa tersiksa, Febby justru sangat menikmati setiap kilometer perjalanannya di Tokyo. Kehadiran keluarga dan banyaknya suporter Indonesia di rute lari membuatnya lupa dengan rasa sakit yang menggerogoti otot kakinya.

    "Dari Seven Star, yang paling berkesan di Tokyo, karena itu pertama kalinya banget. Itu bener-bener titik balik aku kayak, "Oh, aku suka lagi lari maraton. Oh, aku pengen lagi lari maraton lagi dan lagi," gitu. Bener-bener titik baliknya. Selama perjalanan 42 km tuh I was very, very happy. Aku bener-bener menikmati," ujar Febby.

    Pengalaman maraton telah mengubahnya menjadi pribadi yang jauh lebih konsisten dan berkomitmen dalam menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Dia juga membuktikan jadwal kerja yang tak menentu bukanlah alasan untuk mangkir dari program latihan yang sudah disusun.

    "Banyak sih perbedaannya, karena aku juga banyak belajar dari lari maraton khususnya. Salah satunya adalah tentang konsisten dan komitmen. Karena marathon is a different game, beneran. Jadi ya itu mengajarkan aku untuk bisa menyelesaikan juga apa yang udah dimulai dan konsisten sih," ucap Febby.

  3. 3. Pesan untuk pemula: Mulai aja dulu!

    Bagi mereka yang baru ingin mencoba olahraga lari, Febby menekankan agar tidak perlu pusing memikirkan sepatu berteknologi karbon atau baju olahraga yang mahal di awal perjalanan. Yang penting mulai lebih dulu dan menikmatinya.

    "Pakai sepatu lari dan baju apa pun yang kamu punya dulu, temuin dulu kecintaannya sama lari," ucap Febby.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More