Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Joshua Van Bawi Bicara Soal Rematch Lawan Pantoja dan Ambisinya di UFC

Joshua Van Bawi Bicara Soal Rematch Lawan Pantoja dan Ambisinya di UFC
Joshua Van Bawi Thawng. (Instagram/@thefearlessmma1).
Intinya Sih

  • Joshua Van Bawi Thawng menjadi juara kelas terbang UFC Asia Tenggara pertama setelah menumbangkan Alexandre Pantoja di UFC 323.

  • Joshua siap untuk rematch lawan Pantoja dan yakin hasilnya tidak akan berbeda, serta bersedia mengambil risiko tinggi layaknya seorang penantang.

  • Menolak mitos bahwa petarung Asia harus berguru di Amerika Serikat atau Rusia, Joshua percaya bahwa lokasi latihan bukanlah faktor utama kesuksesan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Joshua Van Bawi Thawng sukses mengukir sejarah baru di UFC. Pria asal Myanmar itu menjadi petarung Asia Tenggara pertama yang menjadi juara kelas terbang UFC.

Gelar itu didapat usai menumbangkan Alexandre Pantoja di UFC 323, awal Desember 2025. Joshua menang TKO tanpa mengucurkan banyak keringat, lantaran hanya berduel selama 26 detik.

Joshua membuat Pantoja tidak bisa melanjutkan pertempuran. Ia menangkis tendangan Pantoja dan mendorongnya ke kanvas. Dorongan yang menjadi petaka buat Pantoja, karena mengalami dislokasi saat terjatuh.

Kemenangan itu sempat memicu perdebatan di kalahan pencinta combat sport. Joshua menjawabnya dalam wawancara eksklusif bersama sejumlah media ternama Indonesia, termasuk IDN Times.

Apa saja yang dibahas Joshua? Berikut IDN Times sajikan untuk kamu.

1. Sudah menjadi takdir tuhan

Gelar Joshua sempat menjadi perdebatan karena sebagian pihak menyebut jatuhnya Pantoja hingga cedera adalah sebuah kecelakaan. Joshua pun dianggap menang hanya modal keberuntungan.

Namun, bagi petarung berusia 24 tahun itu, tidak ada yang namanya keberuntungan di dalam oktagon. Apalagi, Pantoja pemegang sabuk hitam dan berpengalaman dalam bertarung.

"Dia itu pemegang sabuk hitam. Pada akhirnya, dia seharusnya tahu cara jatuh. Saya yang membuat momen itu terjadi. Tuhan adalah perencana yang sempurna, sabuk ini diberikan kepada saya karena suatu alasan," kata Joshua.

2. Rematch lawan Pantoja? Siapa takut!

Joshua siap membuktikan kualitasnya dan tidak akan menolak bila UFC mempertemukannya kembali dengan Pantoja. Ia tidak akan menghindar. Dengan penuh rasa percaya diri, Joshua yakin hasilnya tidak akan berbeda.

"Jika orang-orang ingin melihat tanding ulang, kita bisa melakukannya. Saya rasa hasilnya akan sama, saya tetap akan menang," tantang Joshua.

3. Haram hukumnya main aman untuk pertahankan sabuk

Biasanya, seorang petarung yang sudah memegang gelar akan cenderung bermain aman, atau memilih-milih lawan demi menjaga tahtanya. Namun, filosofi itu tidak berlaku di kamus hidup seorang Joshua.

Joshua berjanji akan tetap menjadi The Fearless (julukannya). Ia akan tetap mengambil risiko tinggi layaknya seorang penantang.

"Saya tinggal di gym, saya selalu berlatih. Jadi kenapa tidak bertarung? Saya ingin tetap aktif selagi muda. Biarkan mereka mencoba mengambil sabuk ini dari saya. Saya bertarung dengan cara yang sama di setiap pertarungan. Saya akan bertarung layaknya seorang penantang. Jadi, mari kita lakukan. Biarkan mereka mencoba mengambil sabuk ini dari saya!" tantang Joshua.

4. Mitos juara harus ke Amerika

Dalam dunia combat sport, ada stigma kalau petarung Asia harus berguru di Amerika Serikat atau Rusia untuk bisa sukses di dalam oktagon. Namun, Joshua tidak setuju dengan anggapan tersebut.

Menurutnya, lokasi latihan hanya geografi semata. Etos latihan dan lingkungan sekitar menjadi faktor utama. Ia mencontohkan legenda tinju Manny Pacquiao dan Team Lakay dari Filipina yang sukses mendunia meski berlatih di tanah kelahirannya sendiri.

"Tidak masalah di mana Anda berlatih. Jika Anda berlatih sekeras mungkin dan dikelilingi orang yang tepat, Anda akan berhasil. Banyak juga petarung di AS yang gagal masuk UFC. Kuncinya ada di diri sendiri," ucap Joshua.

Menariknya, Joshua sukses merantau ke Negeri Paman Sam. Namun, ia bukan pergi ke Amerika bukan karena demi menjadi petarung. Ia baru mengenal UFC saat berusia belasan tahun. Jika tak merantau dan mengenal UFC di sana, Joshua tak yakin bisa menjadi petarung.

"Saya tidak tahu apa itu MMA sampai usia 16 atau 17 tahun. Jika saya tetap di Myanmar, hidup saya akan benar-benar berbeda. Saya tidak akan pernah tahu apa itu UFC," kenang Joshua.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Sport

See More