Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Leo/Daniel: Kisah The Golden Boys Kampiun Asian Games 2026
Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin di final Asian Games 2026 Aichi-Nagoya (dok.PP PBSI)

  • Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin meraih emas beregu dan perorangan Asian Games 2026 meski dipanggil mendadak saat berada di peringkat 36 dunia.
  • Setelah sempat dipisah dan Daniel pulih dari cedera serius, The Babies kembali dipasangkan pelatih lalu menumbangkan pasangan nomor satu dunia Korea Selatan.
  • Emas Asian Games menjadi motivasi menuju Olimpiade; Leo/Daniel membatasi euforia, menyiapkan investasi bonus Rp3 miliar, serta membidik gelar Super 750 dan 1000.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Target mana yang paling menarik untuk Leo/Daniel?
Vote Now
2026

Leo/Daniel meraih dua medali emas Asian Games 2026 dari nomor beregu dan perorangan. Mereka juga mengalahkan Kim Won Ho/Seo Seung Jae di semifinal.

6 Oktober 2026

Daniel menyampaikan cerita tentang panggilan ke skuad Asian Games 2026 saat ditemui di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Target mana yang paling menarik untuk Leo/Daniel?
Vote Now
  • What?
    Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin meraih dua medali emas Asian Games 2026 dari nomor beregu dan perorangan.
  • Who?
    Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin, pasangan ganda putra Indonesia.
  • Where?
    Asian Games 2026 Aichi-Nagoya; wawancara dilakukan di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur.
  • When?
    Asian Games 2026; wawancara berlangsung Selasa, 6 Oktober 2026.
  • Why?
    Leo/Daniel memaksimalkan kesempatan setelah mendapat panggilan mendadak ke skuad Asian Games 2026.
  • How?
    Mereka kembali dipasangkan oleh tim kepelatihan ganda putra Pelatnas PBSI dan melewati pertandingan hingga mencapai podium tertinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Target mana yang paling menarik untuk Leo/Daniel?
Vote Now

Leo dan Daniel dipanggil mendadak untuk bermain di Asian Games. Mereka sempat tidak menjadi pasangan, lalu kembali bermain bersama. Mereka menang dan mendapat dua medali emas untuk Indonesia. Sekarang mereka lebih waspada karena lawan mempelajari permainan mereka. Mereka juga ingin berusaha untuk bermain di Olimpiade.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Target mana yang paling menarik untuk Leo/Daniel?
Vote Now

Pencapaian Leo/Daniel menunjukkan bahwa kesempatan yang datang mendadak tetap dapat dimaksimalkan melalui usaha, doa, dan perjuangan. Setelah sempat dipisah dan menghadapi cedera, mereka kembali membangun kerja sama hingga meraih dua emas. Prestasi itu juga mereka jadikan motivasi untuk terus berkembang, bukan beban dalam menghadapi turnamen berikutnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Target mana yang paling menarik untuk Leo/Daniel?
Vote Now

Jakarta, IDN Times - Tak banyak yang menyangka nama Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin akan berdiri di podium tertinggi Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Bahkan, pasangan berjuluk The Babies itu pun sama sekali tidak menduganya.

Di atas kertas, mereka bukanlah unggulan utama. Per 6 Oktober 2026, Leo/Daniel bertengger di peringkat 36 dunia, tertinggal jauh di bawah rekan-rekan senegaranya.

Namun, hasil akhir berkata lain. Leo/Daniel pulang membawa dua medali emas dari nomor beregu dan perorangan. Mereka mencatatkan sejarah sebagai satu-satunya pasangan ganda putra yang mampu mengawinkan medali emas Asian Games 2026 cabor bulu tangkis.

Sepanjang turnamen, permainan mereka begitu nyaman. Mereka bahkan sukses menumbangkan pasangan ranking satu dunia asal Korea Selatan, Kim Won Ho/Seo Seung Jae.

Kepada IDN Times, Leo/Daniel membeberkan kisah lengkap di balik kejayaan tersebut. Mulai dari kabar mendadak masuk skuad, masa-masa sulit sebelum kembali disatukan, hingga euforia kemenangan yang ternyata hanya bertahan empat jam.

1. Dipanggil last minute, tanpa pernah menyangka

Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menembus final Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. (Dok. PP PBSI)

Daniel mengaku kaget saat tahu namanya dan Leo masuk dalam skuad Asian Games 2026. Daftar nama atlet yang akan berangkat sebenarnya sudah final, di mana posisi mereka masih berada di bawah dua pasangan Indonesia lainnya, yakni Sabar Karyaman Gutama/Moh. Reza Pahlevi Isfahani dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.

“Yang pasti kami nggak nyangka ya, karena kan kami rankingnya baru di sekitar 40-an. Terus juga kan di atas kami kan ada ada Sabar/Reza dan juga ada Raymond/Joaquin,” kata Daniel kepada IDN Times saat ditemui di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (6/10/2026).

Kabar itu datang sangat mepet atau last minute. Meski demikian, Leo/Daniel memilih melihatnya sebagai peluang emas yang tidak akan datang dua kali.

“Yang pasti, pas kita last minute ya dikasih tahunya, ya kita pasti senang dan juga ya ini kesempatan gitu. Jadi nggak mungkin datang dua kali, kan. Jadi ya kami rasa kan kami harusnya tidak bermain ya, tapi mungkin pengurus dan pelatih punya maksud dan tujuan yang tertentu buat kami berdua. Jadi ya kami maksimalkan sih kesempatan itu,” ujar Daniel.

2. Sempat dipisah, lalu kembali di pasangkan

Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin di final Asian Games 2026 Aichi-Nagoya (dok.PP PBSI)

Perjalanan Leo/Daniel tidak selalu mulus. Pasangan yang akrab disapa The Babbies itu sempat dipisah. Daniel sempat berpasangan dengan Muhammad Shohibul Fikri sebelum jeda panjang karena cedera serius, dan Leo kala itu berpasangan dengan Bagas Maulana.

Prestasi terakhir Leo/Bagas adalah juara Super 300 Thailand Masters 2026, sebelum pengurus PBSI dan pelatih mulai mempertanyakan perkembangan Leo/Bagas.

“Tapi kan dari sebelumnya juga sudah mungkin diwanti-wanti lah sama pengurus dan pelatih, 'Gimana prestasi kalian? Kok bisa stuck di sini? Nanti kalau misalnya kenapa-kenapa, PBSI kan pastinya bertanggung jawab kan ya.' Jadi saya mengikuti juga apa arahannya pelatih dan pengurus juga,” kata Leo.

Di sisi lain, Daniel sedang berjuang menghadapi cedera yang membuatnya lama absen. Daniel mengaku sempat berkali-kali semangat, tapi jatuh lagi. “Soalnya kan cukup lama juga saya nggak bermain, terus juga ada masa-masa saya sudah semangat tapi jatuh lagi. Yang pasti, ya, itu ujian buat saya, dan yang pasti saya selalu berjuang, berdoa, dan berusaha yang terbaik untuk diri saya sendiri, biar nanti ke depannya tuh orang lain yang melihat sendiri,” kata Daniel.

Leo lalu bercerita, keputusan untuk kembali berpasangan datang dari tim kepelatihan ganda putra Pelatnas PBSI. Leo yang saat itu masih berpasangan dengan Bagas pun, berusaha untuk menjaga komunikasi hingga keputusan ditetapkan tim pelatih.

“Dan ternyata tuh waktu di akhir-akhir ada Daniel tuh ternyata udah siap untuk bertanding, bilangnya, ya kalau saya sih mengikuti aja lah. Jadi kan kita juga hasil saya dengan Daniel kan juga nggak ada yang tahu ya. Jadi ya saya berusaha aja sebaik mungkin. Jadi saya juga komunikasi dengan Mas Bagas kan juga saya sama dia kan komunikasinya juga cukup bagus ya. Jadi, kayak kalau misalnya ada masalah apa selalu diomongin di awal,” kata Leo.

Leo mengaku menerima keputusan pelatih. Bagi Leo, dalam tim dia hanya seorang prajurit yang akan selau siap untuk menerima siapapun pasangan mainnya. “Ya, saya bilang, saya kalau di sini saya sebagai prajurit aja kan. Jadi kalau misalnya mau di-partner-kan dengan siapa aja, saya sementara siap dulu aja gitu kan. Karena kan hasil saya dengan Daniel atau Mas Bagas, kita kan ke depan juga nggak ada yang tahu,” kata Leo.

Leo mengaku, percakapan dengan Daniel justru kembali dilakukan setelah keputusan tim pelatih untuk kembali memasangkan The Babies diberikan. “Kalau ngobrolnya itu malah setelah sudah, sesudah itu. Karena kan saya juga nggak mau mendahului dulu kan. Karena kan saya juga menghargai perasaannya Mas Bagas juga gitu kan. Jadi, untuk saling menghargai, ya tunggu aja dulu dari pelatih. Pelatih nyampein ke saya. Saya baru bilang kalau udah fix ke Daniel, gitu,” kata Leo.

2. Sempat Dipisah, Lalu Kembali Dipasangkan

Perjalanan karier Leo dan Daniel tidak selalu mulus. Sebelum momen kejayaan ini, The Babies sempat dipisah oleh pelatnas.

Daniel sempat berpasangan dengan Muhammad Shohibul Fikri sebelum mengalami jeda panjang akibat cedera serius. Sementara itu, Leo berpasangan dengan Bagas Maulana dan sukses menjuarai Super 300 Thailand Masters 2026.

Meski berprestasi, pengurus PBSI dan tim pelatih mulai mengevaluasi perkembangan duet Leo/Bagas.

“Tapi kan dari sebelumnya juga sudah mungkin diwanti-wanti lah sama pengurus dan pelatih, 'Gimana prestasi kalian? Kok bisa stuck di sini? Nanti kalau misalnya kenapa-kenapa, PBSI kan pastinya bertanggung jawab kan ya.' Jadi saya mengikuti juga apa arahannya pelatih dan pengurus juga,” beber Leo mengenangnya.

Di sisi lain, Daniel harus berjuang keras melewati masa pemulihan cedera yang membuatnya lama absen dari lapangan.

“Soalnya kan cukup lama juga saya nggak bermain, terus juga ada masa-masa saya sudah semangat tapi jatuh lagi. Yang pasti, ya, itu ujian buat saya, dan yang pasti saya selalu berjuang, berdoa, dan berusaha yang terbaik untuk diri saya sendiri, biar nanti ke depannya tuh orang lain yang melihat sendiri,” kata Daniel.

Ketika Daniel dinyatakan siap bertanding, tim pelatih ganda putra Pelatnas PBSI mengambil keputusan untuk kembali memasangkan The Babies. Leo menyikapi keputusan tersebut dengan profesionalisme tinggi.

“Dan ternyata tuh waktu di akhir-akhir ada Daniel tuh ternyata udah siap untuk bertanding, bilangnya, ya kalau saya sih mengikuti aja lah. Jadi kan kita juga hasil saya dengan Daniel kan juga nggak ada yang tahu ya. Jadi ya saya berusaha aja sebaik mungkin. Jadi saya juga komunikasi dengan Mas Bagas kan juga saya sama dia kan komunikasinya juga cukup bagus ya. Jadi, kayak kalau misalnya ada masalah apa selalu diomongin di awal,” ucap Leo.

Bagi Leo, dalam tim nasional, ia memposisikan dirinya sebagai seorang prajurit.

“Ya, saya bilang, saya kalau di sini saya sebagai prajurit aja kan. Jadi kalau misalnya mau di-partner-kan dengan siapa aja, saya sementara siap dulu aja gitu kan. Karena kan hasil saya dengan Daniel atau Mas Bagas, kita kan ke depan juga nggak ada yang tahu ya,” tambahnya.

Komunikasi dengan Daniel baru terjalin setelah keputusan resmi dari pelatih keluar demi menghargai perasaan rekan main sebelumnya.

“Kalau ngobrolnya itu malah sudah, sesudah itu. Karena kan saya juga nggak mau mendahului dulu kan. Karena kan saya juga menghargai perasaannya Mas Bagas juga gitu kan. Jadi, untuk saling menghargai, ya tunggu aja dulu dari pelatih. Pelatih nyampein ke saya. Saya baru bilang kalau udah fix ke Daniel, gitu,” kata Leo.

3. Mantra: Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin di final Asian Games 2026 Aichi-Nagoya (dok.PP PBSI)

Malam sebelum final perorangan Asian Games 2026 jauh dari kesan tegang. Leo dan Daniel menghabiskan waktu dengan bercanda dan bermain gim bersama teman sekamar mereka, Amri Syahnawi, atlet ganda campuran Indonesia yang sukses meraih medali perak bersama Nita Violina Marwah.

“Ngobrolnya malah waktu itu sama Amri malah ya,” kata Leo tertawa ringan.

“Bercanda-canda aja sih palingan, bercanda terus main PS gitu-gitu aja sih,” lanjut Daniel.

Target awal Daniel pun sangat realistis. Ia hanya ingin mempersembahkan medali untuk Indonesia, mengingat pada edisi sebelumnya mereka pulang dengan tangan hampa.

“Kalau sebenarnya sih, dari saya pribadi, kan target saya pribadi kan minimal medali. Perunggu atau perak juga, yang penting kami berdua dapat medali. Karena kan kami tahu sendiri kan, lawan-lawan di Asian Games kan nggak mudah, terus juga yang pasti kami berharapnya kami dapat medali dulu. Karena di Asian Games sebelumnya kan kami nggak dapat medali. Jadi, kami memasang target untuk mendapatkan medali. Eh, saya sendiri memasang target untuk dapat medali,” papar Daniel.

Begitu sukses menumbangkan unggulan pertama asal Korea Selatan, Kim/Seo, di semifinal dan memastikan medali perunggu di tangan, sebuah 'mantra' muncul di benak mereka jelang partai puncak.

“Terus pas sudah pasti dapat perunggu, terus juga pas di semifinal menang juga, ya saya pikir tanggung lah. Kalau nggak sekarang, ya kapan lagi? Maksudnya, nggak mungkin momen ini tuh bisa terulang lagi karena kan ya yang saya bilang tadi dari awal kan dipanggilnya aja last minute kan, jadi ya mungkin ini udah jalannya, terus juga kami nggak mau menyia-nyiakan itu, nggak mau menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang sudah diberikan,” ujar Daniel.

Sementara itu, Leo memilih fokus meredam ekspektasi tinggi demi menjaga ketenangan mental di lapangan.

“Iya pastinya sih maunya emas ya karena udah final. Cuma karena saya tidak mau berekspektasi tinggi karena takutnya malah jadi beban atau gimana. Kalau saya sih, bermain yang penting sebagus mungkin, sebaik mungkin untuk membawa nama Indonesia. Jadi, untuk masalah hasilnya juara atau tidaknya, itu nomor dualah. Yang penting saya berusaha dulu, berdoa dulu gitu,” ucap Leo.

4. Tak ada pertandingan mudah di Asian Games

Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin di final Asian Games 2026 Aichi-Nagoya (dok.PP PBSI)

Bagi The Babies, tidak ada satu pun laga yang terasa ringan di ajang multievent empat tahunan ini. Semua kontingen hadir dengan tekad merajai lapangan.

Contoh nyata tersaji saat mereka menghadapi wakil Thailand, Peeratatchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul, di babak 16 besar nomor perorangan. Sempat unggul jauh 8-2 di gim pertama, Leo/Daniel dipaksa kerja keras hingga fase deuce dan menang ketat 24-22 di gim kedua.

“Jadi kan memang di Asian Games itu nggak ada yang tahu lah. Jadi, tahu-tahu saya aja bisa saya sama Daniel malah jadi yang juara, kan. Jadi, siapa yang menyangka,” ucap Leo.

Di sisi lain, Daniel memandang kepercayaan pelatih sebagai pertanda takdir baik yang harus dibayar tuntas di atas lapangan.

“Yang paling berkesan ya karena kita dikasih kepercayaan sih, jadi 'Oh ini berarti udah jalannya nih,' saya percaya dan ya kalau ya itu ya, kalau udah jalannya tuh kita juga sebenarnya mau gimana pun ya tetap ada jalannya, jadi gimana ya jelasinnya? Yang penting kita berusaha. Kita terus juga, pas di final, kan kita set pertama udah kalah juga. Tapi ya itu, kita percaya kalau kita bisa, dan kita sama-sama kan pengin juara juga, terus juga buat kebanggaan nama Indonesia. Jadi, yang pasti kita selalu berusaha dan berjuang,” ujar Daniel.

5. Euforia empat jam dan lahirnya julukan The Golden Boys

Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin di final Asian Games 2026 Aichi-Nagoya (dok.PP PBSI)

Bagi pasangan ini, medali emas Asian Games 2026 bukanlah ajang pembuktian kepada pihak luar, melainkan batu loncatan penting untuk menatap Olimpiade.

“Bukan untuk pembuktian atau gimana, cuman kayak kalau buat diri saya pribadi kayak untuk motivasi buat diri sendiri untuk mengukir sejarah buat pribadi tentunya, saya dengan Daniel ya kan. Karena Asian Games kan juga turnamen yang sangat sakral, ya, belum tentu semua orang bisa mengikuti. Jadi bukan untuk ajang pembuktian atau cari yang paling bagus mana gitu kan. Jadi, untuk Asian Games kemarin, cuma batu loncatan aja ke Olimpiade, untuk hasil yang lebih bagus lagi. Jadi setelah Asian Games ini ya udah. Saya sih, kalau saya pribadi, merasanya biasa aja. Jadi saya karena memang ya nothing to lose aja gitu,” kata Leo.

Hebatnya lagi, euforia kemenangan akbar tersebut tidak dirayakan berlebihan. Batas waktu perayaan mereka sangat singkat.

“Biasa aja sih ya (bisa mengawinkan medali emas beregu dan perorangan). Iya, biasa aja. Euforia sih cuma berapa jam? Empat jam ya? Paling empat jam. Pokoknya lewat dari jam 12:00 nggak boleh ya. Biasa saja,” kata Leo sambil tertawa.

Prestasi fenomenal ini melahirkan julukan baru bagi mereka: The Golden Boys. Gelar itu melekat setelah Leo/Daniel konsisten menyumbang emas di ajang bergengsi mulai dari Piala Suhandinata, Piala Thomas, SEA Games, hingga Asian Games.

“Ya, responnya alhamdulillah pastinya. Terima kasih yang sudah mendoakan kami, yang memberi julukan, dan pastinya semoga jadi motivasi buat kita berdua lah, bukan buat jadi beban atau gimana. Jadi itu kan cuma istilah julukan lah, ibaratkan kan, cuma buat semangat kita berdua aja,” beberr Leo bersyukur.

6. Bonus Rp3 miliar dan rencana investasi sederhana

Fajar Alfian, Daniel Marthin, Leo Rolly Carnando, dan Muhammad Shohibul Fikri, usai meraih medali di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya (dok.PP PBSI)

Pemerintah Indonesia telah menetapkan bonus sebesar Rp3 miliar bagi peraih medali emas Asian Games 2026. Menanggapi rezeki nomplok tersebut, Leo sudah menyiapkan rencana matang untuk masa depannya di luar dunia bulu tangkis.

“Ya pastinya buat investasi untuk masa depan ya. Jadi nggak selamanya juga saya, Daniel, berada di bulu tangkis ini, tapi tentunya kan kita kan bisa sampai tua mungkin ya di bulu tangkis, tapi kan nggak selalu jadi pemain. Jadi untuk investasi ke depan, kita ya baik-baik menabunglah, jangan berfoya-foya dulu gitu. Ya, kalau itu ada kepikiran begitu, cuma kalau untuk di daerah sini belum. Mungkin nanti ada di daerah Klaten atau di Solo mungkin. Rencana sih Papa mau bikin apa tuh namanya, gedung serbaguna gitu sama ada lapangan bulu tangkisnya, tapi terpisah. Kayak ballroom gitu,” tutur Leo merinci mimpinya.

Sementara itu, Daniel menanggapinya dengan santai dan penuh canda, termasuk tradisi traktir makan untuk sektor ganda putra.

“Yang pasti, yang penting ada dulu lah (bonusnya). Nanti setelahnya baru mikir. Yang penting ada dulu aja. Ya kan belum ada ini. Kalau belum ada, kan nggak tahu mau apa. Yang penting ada dulu dan yang penting nominalnya segitu,” kata Daniel tertawa.

“Pasti dong (makan-makan dengan ganda putra). Yang pasti, makan-makan semuanya PBSI. Kalau sudah ada,” ujarnya.

7. Waspada tinggi dan siap menatap Olimpiade

Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin meraih medali emas di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya (dok.PP PBSI)

Keberhasilan merajai Asia tidak membuat The Babies lengah. Kehidupan mereka tidak berubah drastis, kecuali tingkat kewaspadaan di turnamen-turnamen berikutnya.

“Tapi kita lebih waspada karena mungkin musuh-musuh juga banyak mempelajari permainan kita, dan kita harus lebih siap lagi dan harus bisa mengantisipasi kelebihan dan kekurangan lawan,” ujar Daniel.

Target besar selanjutnya sudah dicanangkan. Leo/Daniel mengincar gelar juara di turnamen level Super 750 dan 1000 yang belum pernah mereka menangkan, serta berambisi menembus Piala Sudirman dan Olimpiade.

“Yang pasti, kami ingin juara di Super 750 dan 1000, karena kami kan belum pernah juara. Terus juga ya kami harus berusaha sih, pengin juara di Super 750 dan 1000. Ya, semoga ajalah Sudirman dan kita berdua bisa main di Olimpiade dan bisa mewujudkan itu,” beber Daniel.

Sebagai penutup, Leo memilih fokus menjalani tahapan demi tahapan turnamen secara konsisten tanpa terbebani target jangka panjang yang terlalu jauh.

“Ya targetnya sih untuk yang dekat ini dulu, karena ada tur Eropa ini kan. Jadi kan itu di situ kan ada 750 juga. Jadi itu kan juga sebagian dari target. Jadi untuk bulan ini sampai akhir tahun, ya kita insyaallah semua ambil target-target. Kalau untuk masalah tahun depan, Januari sampai Desember, itu kan beda lagi ya. Jadi step by step aja. Jadi biar nggak terlalu banyak pikirannya ke mana-mana ya. Jadi, selalu berusaha aja di setiap turnamennya,” kata Leo.

Ikut pilih target Leo/Daniel berikutnya

Target mana yang paling menarik untuk Leo/Daniel?

See More
Gelar Super 750
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
Gelar Super 1000Sudirman CupOlimpiade

Curated For You

Editorial Team

Related Article