Jakarta, IDN Times - Piala Dunia 2026 tinggal 100 hari lagi digelar di Amerika Serikat (AS), Meksiko, dan Kanada. Namun, alih-alih hal positif, hal-hal negatif justru meliputi ajang ini, mulai dari kartel, perang, ada tim yang mau mundur, hingga kontroversi.
Terbaru, FIFA merilis poster 100 hari jelang Piala Dunia 2026. Bukannya mendapat respons positif, poster ini justru mendapat persepsi negatif dari para warganet. Hal itu tak lepas dari panasnya situasi di luar lapangan.
Jika edisi Qatar disebutkan sebagai yang tak ramah dengan hak asasi manusia, akibat adanya dugaan pelanggaran, tapi untuk penyelenggaraan 2026, Amerika Serikat dan Meksiko justru bermasalah. Amerika Serikat bahkan menjadi representasi nyata dari kekerasan dan pelanggaran kedaulatan sebuah negara.
Secara serampangan, mereka telah menyerang sejumlah negara, dan terbaru adalah Iran. Sebelumnya, mereka sudah menyerang Venezuela hingga menangkap Nicolas Maduro, untuk ditempatkan ke penjara dengan sistem keamanan tinggi.
Kemudian, Meksiko diselimuti situasi mencekam. Itu terjadi setelah bos kartel Jalisco New Generation (CJNG), Nemesio Oseguera alias El Mencho, tewas dalam operasi penumpasan oleh aparat gabungan militer serta polisi.
Setelah kematian El Mencho, jalanan di Jalisco, Guadalajara, berubah menjadi medan perang. Bahkan, jalan utama ke stadion penyelenggara Piala Dunia 2026, Estadio Akron, menjadi wilayah yang paling menegangkan karena sejumlah kendaraan roda empat dan beberapa SPBU dibakar oleh pasukan El Mencho, menciptakan suasana yang mencekam.
