Bagi sebuah negara yang baru saja keluar dari cengkeraman sistem apartheid (pemisahan rasial) seperti Afrika Selatan, sepak bola bukan sekadar permainan 90 menit di atas lapangan. Olahraga tersebut adalah pemersatu, penyembuh luka, dan mempertegas wajah baru negara di mata internasional. Misi itu yang dibawa Afrika Selatan saat menginjakkan kaki di Prancis untuk berjuang di Piala Dunia 1998.
Dijuluki Bafana Bafana (Anak-Anak Lelaki), turnamen ini menjadi debut mereka pada putaran final Piala Dunia setelah puluhan tahun dikucilkan dari kancah global. Dipimpin kapten sekaligus bek tengah Lucas Radebe, kisah mereka di Negeri Eiffel cocok adalah bangkitnya sebuah negara baru yang sempat terpecah belah.
