Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Afrika Selatan yang Menyatukan Negara Lewat Piala Dunia 1998
ilustrasi pertandingan sepak bola (unsplash.com/Amr Taha)
  • Piala Dunia 1998 menjadi simbol kebangkitan Afrika Selatan pasca runtuhnya apartheid, menandai kembalinya mereka ke panggung internasional setelah puluhan tahun dikeluarkan dari FIFA.
  • Meski kalah 0-3 dari Prancis di laga pembuka, Bafana Bafana menunjukkan semangat tinggi dan belajar menghadapi level tertinggi sepak bola dunia.
  • Afrika Selatan mencetak sejarah dengan gol pertama Benni McCarthy dan dua hasil imbang yang memperkenalkan semangat persatuan mereka kepada dunia meski gagal lolos fase grup.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi sebuah negara yang baru saja keluar dari cengkeraman sistem apartheid (pemisahan rasial) seperti Afrika Selatan, sepak bola bukan sekadar permainan 90 menit di atas lapangan. Olahraga tersebut adalah pemersatu, penyembuh luka, dan mempertegas wajah baru negara di mata internasional. Misi itu yang dibawa Afrika Selatan saat menginjakkan kaki di Prancis untuk berjuang di Piala Dunia 1998.

Dijuluki Bafana Bafana (Anak-Anak Lelaki), turnamen ini menjadi debut mereka pada putaran final Piala Dunia setelah puluhan tahun dikucilkan dari kancah global. Dipimpin kapten sekaligus bek tengah Lucas Radebe, kisah mereka di Negeri Eiffel cocok adalah bangkitnya sebuah negara baru yang sempat terpecah belah.

1. Sepak bola Afrika Selatan akhirnya merasakan kebebasan setelah rezim apartheid runtuh

Untuk memahami besarnya makna Piala Dunia 1998 bagi Afrika Selatan, kita harus menengok ke belakang. Akibat politik apartheid yang diskriminatif, FIFA menjatuhkan sanksi skorsing kepada Afrika Selatan sejak 1961 hingga akhirnya resmi dikeluarkan pada 1976. Praktis, generasi-generasi terbaik sepak bola mereka hanya bisa bermain di liga domestik tanpa pernah mencicipi atmosfer internasional.

Dilansir South African History Online, FIFA memulihkan status keanggotaan Afrika Selatan pada 1992 setelah rezim apartheid runtuh dan Nelson Mandela terpilih sebagai presiden. Empat tahun berselang, mereka mengejutkan pencinta sepak bola dengan menjuarai Piala Afrika 1996. Kelolosan ke Prancis 1998 menjadi puncak dari selebrasi persatuan. Dilansir Sunday Independent, barisan pemain berkulit hitam yang sedang menanjak, seperti Lucas Radebe (Leeds United) dan Quinton Fortune (Atletico Madrid), bahu-membahu dengan penggawa berkulit putih, seperti Hans Vonk (Heerenveen) serta Mark Fish (Bolton Wanderers).

2. Afrika Selatan langsung menghadapi tim tuan rumah, Prancis, di laga pertama fase grup

Hasil pembagian grup langsung memberi ujian berat untuk sang debutan di laga perdana Grup C pada 12 Juni 1998. Bermain di Stade Veodrome, Marseille, Afrika Selatan harus menantang sang tuan rumah yang nantinya keluar sebagai juara, Prancis. Namun, para pemain Afrika Selatan tetap menyambut duel ini dengan antusias.

Dilansir National Football Teams, pertandingan berjalan penuh tekanan untuk anak asuh Philippe Troussier. Skuad Prancis yang bertabur bintang, seperti Zinedine Zidane dan Thierry Henry, menggempur pertahanan Afrika Selatan tanpa ampun. Meski Lucas Radebe tampil spartan di lini belakang, Afrika Selatan harus menyerah dengan skor telak 0-3. Setelah itu, mereka mendapat pelajaran berharga tentang level sepak bola tertinggi.

3. Mendapat poin pertama di Piala Dunia saat menahan imbang Denmark dengan skor 1-1

Alih-alih ambruk setelah dihajar Prancis, Afrika Selatan justru menunjukkan determinasi luar biasa pada laga kedua melawan Denmark di Bordeaux. The Danish Dynamite saat itu diperkuat deretan pemain berkualitas, seperti Brian Laudrup, Ebbe Sand, serta Thomas Helveg. Pertandingan ini berjalan sangat keras dan intens. Ada 3 kartu merah yang melayang dari saku wasit, John Toro Rendon, 2 di antaranya untuk Denmark.

Denmark sempat unggul cepat lewat gol Allan Nielsen pada menit ke-12. Namun, babak kedua menjadi panggung pembuktian ketajaman striker legendaris Afrika Selatan yang saat itu memperkuat Ajax Amsterdam, Benni McCarthy. Pada menit ke-51, McCarthy melepaskan tembakan mendatar yang dianggap cerdik, melewati sela kaki kiper, Peter Schmeichel. Gol bersejarah itu adalah gol pertama Afrika Selatan di Piala Dunia sekaligus mengamankan poin perdana lewat hasil imbang 1-1.

4. Gagal lolos dari fase grup, Afrika Selatan tetap berhasil memperkenalkan diri di panggung dunia

Asa lolos ke babak 16 besar terjaga hingga laga pemungkas fase grup melawan Arab Saudi. Bermain di bawah guyuran hujan deras di Lescure Stadium, Bordeaux, Afrika Selatan tampil menyerang. Mereka berhasil unggul lebih dulu melalui sontekan Shaun Bartlett pada menit ke-18.

Namun, drama penalti ganda membuat Arab Saudi membalikkan kedudukan menjadi 1-2. Di ambang kekalahan, mentalitas pantang menyerah Afrika Selatan kembali berbicara. Pada detik-detik akhir injury time, mereka mendapat hadiah penalti yang berhasil dieksekusi oleh Bartlett. Skor berakhir imbang 2-2, tapi total 2 poin membuat Afrika Selatan finis di peringkat 3 Grup C. Meski gagal melaju ke fase gugur, media Afrika Selatan yakni Eyewitness News menyebut para talenta Bafana Bafana berhasil memperkenalkan diri ke dunia di Piala Dunia 1998.

Berselang 28 tahun kemudian, Afrika Selatan mencatatkan sejarah. Mereka berhasil lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah setelah finis sebagai peringkat kedua Grup A Piala Dunia 2026. Anak asuh Hugo Broos secara mengejutkan menekuk Korea Selatan dengan skor 1-0 pada Kamis (25/6/2026) lalu. Bertemu Kanada di babak 32 besar, Ronwen Williams dan kawan-kawan siap meneruskan semangat generasi Bafana Bafana tahun 1998.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article