Kontribusi Matheus Cunha tidak berhenti saat menyerang. Ia juga merupakan pemain yang aktif dalam fase defensif. Dalam statistik pressing, ia menempati peringkat ke-3 untuk intersepsi dan ke-6 untuk perebutan bola di antara penyerang Premier League. Etos kerja ini akan sangat diapresiasi Ruben Amorim yang menuntut pressing tinggi dan kerja kolektif dari semua pemain depan.
Namun, Cunha bukan tanpa cela. Ia sempat absen dalam enam pertandingan musim lalu akibat dua insiden disipliner yang mencoreng reputasinya. Kejadian pertama adalah kartu merah dalam laga Piala FA 2024/2025 melawan AFC Bournemouth. Kejadian kedua adalah konflik dengan staf keamanan lawan usai laga kontra Ipswich Town. Meski hanya 1 yang berujung kartu merah, 2 kasus ini cukup menjadi catatan penting bagi tim pelatih.
Rekam jejaknya tidak menunjukkan masalah disipliner kronis sebenarnya. Namun, ini menjadi pertama kalinya Cunha menerima lebih dari lima kartu kuning sejak 2020/2021. Maka sebab itu, Amorim dan staf kepelatihannya perlu mengendalikan sisi flamboyan Cunha. Ini penting agar tidak mengganggu keharmonisan ruang ganti Manchester United yang sedang dalam proses pembangunan kembali.
Dengan potensi teknis dan statistik yang impresif, Matheus Cunha adalah rekrutan yang sangat logis untuk mengatasi berbagai masalah Manchester United. Namun, keberhasilan transfer ini tetap bergantung kepada bagaimana Ruben Amorim mengelola bakat sekaligus karakter sang pemain.