Ambisi bangkit membuat Tottenham Hotspur menggelontorkan dana fantastis hingga 332 juta pound sterling sepanjang bursa transfer musim panas 2026. Deretan nama mentereng, seperti Sandro Tonali, Mateus Fernandes, Savio, Omar Marmoush, Andrew Robertson, hingga Jan Paul van Hecke diboyong ke London. Sepuluh pemain baru ini digadang-gadang menjadi solusi nyata usai klub nyaris terdegradasi pada musim sebelumnya.
Bukannya langsung padu, Pelatih Roberto De Zerbi justru terang-terangan mengaku timnya belum memiliki fondasi permainan yang utuh. Perombakan drastis dengan menjejalkan 6 sampai 10 pemain baru sekaligus malah membuat sang pelatih kesulitan membangun chemistry di lapangan. Tanpa ikatan emosional dan memori kolektif antarpemain, alur permainan Spurs tampak kaku serta mudah dibaca lawan.
Masalah kian rumit lantaran De Zerbi terlalu sering membongkar pasang susunan pemain dengan melakukan delapan perubahan di tiga laga awal Premier League. Kondisi kebugaran makin kedodoran akibat beberapa pemain baru bergabung mepet usai Piala Dunia 2026 dan tur pramusim Australia yang tidak maksimal. Akibatnya, stamina dan ketajaman fisik para pemain Spurs sangat jomplang jika dibandingkan dengan intensitas rival di Premier League.
Menyatukan sedemikian banyak individu asing dalam waktu singkat terbukti menjadi beban teramat berat bagi De Zerbi. Sosok muda seperti Archie Gray bahkan mendadak diberi tanggung jawab memimpin rekan-rekannya sebagai kapten menggantikan Micky van de Ven. Momen transisi yang penuh ketidakpastian ini akhirnya melumpuhkan koordinasi antarlini dan memicu hasil buruk sepanjang awal 2026/2027.
Filosofi ofensif yang diusung Roberto De Zerbi mendadak tak berkutik tiap kali berhadapan dengan lawan yang menerapkan garis pertahanan rendah. Kegagalan menyarangkan satu gol pun dari empat laga awal menelanjangi kelemahan taktis Tottenham Hotspur dalam membongkar benteng lawan. Alur bola selalu mandek saat memasuki area sepertiga akhir karena para pemain tampak ragu mengambil keputusan penyelesaian akhir.
Menariknya, data Opta Analyst menunjukkan, Spurs sebenarnya mencatatkan rerata dribel sukses tertinggi di liga, mencapai 11,5 kali per laga. Namun, aksi individu dari penyerang seperti Savio, Omar Marmoush, maupun Mohammed Kudus gagal memberikan ancaman nyata di dalam kotak penalti. Ketergantungan pada aksi solo tersebut berdampak pada nilai expected goals (xG) per tembakan yang anjlok ke angka terendah liga, yakni 0,066.
Penurunan aspek fisik kian kentara saat catatan jarak lari Spurs konsisten dikalahkan oleh setiap lawan yang mereka hadapi. Kebingungan taktis bertambah parah akibat penempatan posisi yang tak biasa, seperti memainkan Mateus Fernandes sebagai gelandang nomor sepuluh. Keputusan mendorong Pedro Porro menjadi penyerang sayap dan menugaskan Archie Gray di bek kanan kian merusak keseimbangan permainan.
Masalah teknis di lapangan ternyata diperparah oleh buruknya kondisi rumput Stadion Tottenham Hotspur. Konser Jay-Z yang diselenggarakan pada 5 September 2026 membuat permukaan lapangan yang rusak serta tidak rata di beberapa titik. Cacat pada permukaan lapangan ini dinilai mengganggu aliran umpan pendek cepat yang menjadi ruh permainan De Zerbi dari lini tengah.