Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa yang Salah dengan Tottenham Hotspur pada Awal 2026/2027?
potret logo Tottenham Hotspur (unsplash.com/Winston Tjia)
  • Tottenham menghabiskan 332 juta pound untuk 10 pemain baru, tetapi masih tertahan di papan bawah setelah empat pekan dan gagal mencetak gol selama 407 menit.
  • Perombakan skuad, rotasi delapan perubahan dalam tiga laga, kebugaran tertinggal, serta penempatan pemain yang tidak biasa menghambat chemistry dan keseimbangan permainan De Zerbi.
  • Spurs kesulitan membongkar pertahanan rendah; xG per tembakan terendah liga, kondisi rumput terganggu, dan mental rapuh diperburuk trauma hasil buruk serta ketegangan ruang ganti.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tottenham Hotspur jadi bukti bahwa uang bukan segalanya. Meski agresif dalam perburuan bursa transfer 2026 dengan menghabiskan dana hingga 332 juta pound sterling (Rp7,914 triliun), awal musim 2026/2027 justru berubah menjadi periode kelam bagi klub London Utara tersebut. Alih-alih mampu bersaing di papan atas, performa Spurs tidak menunjukkan perbaikan hingga terseok-seok di papan bawah klasemen per pekan ke-4 English Premier League (EPL).

Lebih buruknya lagi, skuad asuhan Roberto De Zerbi bahkan mengukir rekor buruk tanpa mencetak satu pun gol selama 407 menit. Lantas, kambing hitam mana lagi yang bakal ditunjuk kali ini? Mungkinkah Mateus Fernandes yang mendadak dituduh membawa kutukan hanya gara-gara hobi bermain di klub dengan kata 'ham', atau malah menyalahkan Jay-Z karena rumput stadion rusak usai dipakai konser?

1. Sepuluh pemain baru justru membuat Roberto De Zerbi pusing dalam memantapkan komposisi skuad

Ambisi bangkit membuat Tottenham Hotspur menggelontorkan dana fantastis hingga 332 juta pound sterling sepanjang bursa transfer musim panas 2026. Deretan nama mentereng, seperti Sandro Tonali, Mateus Fernandes, Savio, Omar Marmoush, Andrew Robertson, hingga Jan Paul van Hecke diboyong ke London. Sepuluh pemain baru ini digadang-gadang menjadi solusi nyata usai klub nyaris terdegradasi pada musim sebelumnya.

Bukannya langsung padu, Pelatih Roberto De Zerbi justru terang-terangan mengaku timnya belum memiliki fondasi permainan yang utuh. Perombakan drastis dengan menjejalkan 6 sampai 10 pemain baru sekaligus malah membuat sang pelatih kesulitan membangun chemistry di lapangan. Tanpa ikatan emosional dan memori kolektif antarpemain, alur permainan Spurs tampak kaku serta mudah dibaca lawan.

Masalah kian rumit lantaran De Zerbi terlalu sering membongkar pasang susunan pemain dengan melakukan delapan perubahan di tiga laga awal Premier League. Kondisi kebugaran makin kedodoran akibat beberapa pemain baru bergabung mepet usai Piala Dunia 2026 dan tur pramusim Australia yang tidak maksimal. Akibatnya, stamina dan ketajaman fisik para pemain Spurs sangat jomplang jika dibandingkan dengan intensitas rival di Premier League.

Menyatukan sedemikian banyak individu asing dalam waktu singkat terbukti menjadi beban teramat berat bagi De Zerbi. Sosok muda seperti Archie Gray bahkan mendadak diberi tanggung jawab memimpin rekan-rekannya sebagai kapten menggantikan Micky van de Ven. Momen transisi yang penuh ketidakpastian ini akhirnya melumpuhkan koordinasi antarlini dan memicu hasil buruk sepanjang awal 2026/2027.

Filosofi ofensif yang diusung Roberto De Zerbi mendadak tak berkutik tiap kali berhadapan dengan lawan yang menerapkan garis pertahanan rendah. Kegagalan menyarangkan satu gol pun dari empat laga awal menelanjangi kelemahan taktis Tottenham Hotspur dalam membongkar benteng lawan. Alur bola selalu mandek saat memasuki area sepertiga akhir karena para pemain tampak ragu mengambil keputusan penyelesaian akhir.

Menariknya, data Opta Analyst menunjukkan, Spurs sebenarnya mencatatkan rerata dribel sukses tertinggi di liga, mencapai 11,5 kali per laga. Namun, aksi individu dari penyerang seperti Savio, Omar Marmoush, maupun Mohammed Kudus gagal memberikan ancaman nyata di dalam kotak penalti. Ketergantungan pada aksi solo tersebut berdampak pada nilai expected goals (xG) per tembakan yang anjlok ke angka terendah liga, yakni 0,066.

Penurunan aspek fisik kian kentara saat catatan jarak lari Spurs konsisten dikalahkan oleh setiap lawan yang mereka hadapi. Kebingungan taktis bertambah parah akibat penempatan posisi yang tak biasa, seperti memainkan Mateus Fernandes sebagai gelandang nomor sepuluh. Keputusan mendorong Pedro Porro menjadi penyerang sayap dan menugaskan Archie Gray di bek kanan kian merusak keseimbangan permainan.

Masalah teknis di lapangan ternyata diperparah oleh buruknya kondisi rumput Stadion Tottenham Hotspur. Konser Jay-Z yang diselenggarakan pada 5 September 2026 membuat permukaan lapangan yang rusak serta tidak rata di beberapa titik. Cacat pada permukaan lapangan ini dinilai mengganggu aliran umpan pendek cepat yang menjadi ruh permainan De Zerbi dari lini tengah.

3. Mentalitas yang rapuh turut memengaruhi performa tim di lapangan

Roberto De Zerbi secara terbuka menyentil kondisi psikologis anak asuhnya dengan menegaskan bahwa mentalitas tidak bisa dibeli di bursa transfer. Bayang-bayang kelam akibat finis di peringkat ke-17 selama 2 musim beruntun meninggalkan trauma yang belum sepenuhnya sembuh. Kerapuhan mental ini membuat kepala para pemain langsung tertunduk begitu lawan berhasil membobol gawang mereka lebih dulu.

Catatan 41 kekalahan dari 78 laga terakhir menjadi bukti betapa mudahnya pertahanan psikologis tim ini runtuh di bawah tekanan. Atmosfer stadion yang makin tegang justru memicu kepanikan hingga pemain kehilangan kontrol emosi saat pertandingan berlangsung. Emosi yang meluap terlihat dari insiden adu mulut Pedro Porro, Mateus Fernandes, serta Dominic Solanke dengan Newcastle United pada pekan ke-2 Premier League.

Situasi di luar lapangan tidak kalah keruh akibat isu kepindahan pemain, salah satunya Kevin Danso. Ketidakjelasan nasib Richarlison yang akhirnya dicoret dari daftar skuad Premier League turut memperuncing suasana ruang ganti. Striker asal Brasil ini hanya bisa tertunduk lesu di tribun penonton saat menyaksikan rekan-rekannya berjuang tanpa arah di lapangan.

Emosi pemain yang sensitif dalam menghadapi masa krusial menjadi pekerjaan rumah terberat yang harus dibenahi De Zerbi. Spurs membutuhkan ketahanan mental yang kokoh untuk mampu bangkit dari tekanan publik serta rasa frustrasi yang menumpuk. Pemulihan keyakinan diri bakal menjadi penentu utama apakah mereka sanggup memutus rentetan hasil buruk ini atau makin terpuruk.

Gelontoran dana yang jor-joran pada musim panas 2026 membuktikan, uang melimpah bukanlah jaminan instan untuk meraih kejayaan. Roberto De Zerbi kini diuji untuk segera membenahi taktik sekaligus merajut kembali mentalitas tim sebelum ancaman degradasi benar-benar terulang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article