Duet Malen-Dybala Moncer, Modal AS Roma Buru Scudetto?

- AS Roma memimpin klasemen Serie A 2026/27 dengan 12 poin sempurna dari empat laga.
- Donyell Malen mengoleksi enam gol, sedangkan Paulo Dybala mencatat empat assist untuk Roma.
- Roma menanti 26 musim untuk kembali meraih trofi Serie A, dengan persaingan masih melibatkan Inter Milan, Como 1907, dan Lazio.
Jakarta, IDN Times - Performa AS Roma di awal musim Serie A 2026/27 cukup mengesankan. Tim asuhan Gian Piero Gaspereni memimpin klasemen dengan catatan sempurna, 12 poin dari empat laga.
Ketajaman Donyell Malen dan Paulo Dybala menjadi aktor di balik kesempurnaan Giallorossi sejauh ini. Lantas, mampukah raksasa tim Ibu Kota Italia itu menjaga performanya untuk berburu Scudetto di akhir musim nanti?
1. Malen top scorer, Dybala top assist
Malen telah membukukan enam gol dalam empat giornata, sekaligus memimpin klasemen top skor. Ia mencetak hat-trick ke gawang Fiorentina dalam debutnya, membuat brace lawan Lecce pada laga kedua, lalu mencetak satu gol kontra Torino di pekan keempat.
Hanya saat melawan Atalanta Malen absen mencetak gol. Berdasarkan data Opta, Malen menjadi pemain ketiga yang mampu mencetak lebih dari lima gol dalam empat pertandingan pertamanya bersama Roma, mengikuti jejak Pedro Manfredini dan Francesco Totti.
Sementara itu, Dybala menjadi otak dalam serangan Roma di sepertiga akhir lapangan lawan, yang berbuah empat assist. Gelandang Argentina itu kini memimpin pencetak assist terbanyak di Serie A musim ini.
2. Gasperini puas dengan duet Malen-Dybala
Gasperini mengakui kombinasi Malen dan Dybala memberikan dampak besar bagi permainan Roma. Menurutnya, kedua pemain tidak hanya memiliki kualitas individu, tetapi juga mampu saling melengkapi dengan sangat baik.
"Kepuasan ini merupakan milik semua orang. Keindahan dari semua ini juga dirasakan para suporter dan pencinta sepak bola yang melihat dua pemain hebat mampu menciptakan situasi mencetak gol dan peluang-peluang yang sangat berbahaya hampir di setiap pertandingan," kata Gasperini.
"Jelas, keduanya merupakan pemain yang tidak hanya memiliki kemampuan individu yang luar biasa, tetapi juga saling melengkapi dengan sangat baik. Mereka memiliki koneksi penting satu sama lain yang mampu menciptakan peluang dan menerjemahkannya menjadi gol dalam banyak pertandingan," ujar Gasperini.
3. Roma sudah lama tak raih Scudetto
Serie A memang baru memasuki giornata keempat sehingga terlalu dini untuk membicarakan peta persaingan Scudetto. Namun, konsistensi yang ditunjukkan Roma sejak awal musim sudah menjadi sinyal bahaya bagi para rivalnya.
Apalagi, Roma sudah menanti selama 26 musim untuk kembali mengangkat trofi Serie A setelah terakhir kali menjadi juara pada musim 2000/01. Demi mewujudkannya, Giallorossi harus menjaga daya ledaknya karena Inter Milan juga masih sempurna, sementara Como 1907 dan Lazio membayangi dengan hanya terpaut dua poin.


















