Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Athletic Club dan Luka Sejarah di Era Diktator Franco

Stadion San Mames, Bilbao, Spanyol jelang Derby Basque
Stadion San Mames, Bilbao, Spanyol jelang Derby Basque (IDN Times/Margith Damanik)
Intinya sih...
  • Perubahan nama Athletic Club terjadi karena paksaan rezim Franco yang melarang penggunaan bahasa asing dan memaksa klub menggunakan bahasa Spanyol atau Castilian.
  • Kebijakan ini mencerminkan upaya rezim Franco untuk menyeragamkan identitas nasional dan menekan ekspresi budaya lokal, yang membuat periode ini dikenang sebagai masa penekanan budaya.
  • Berakhirnya rezim Franco membuka jalan bagi pemulihan identitas, dan klub segera kembali ke nama aslinya: Athletic Club, sebuah pernyataan identitas, sejarah, dan kebanggaan komunitas Basque.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bilbao, IDN Times - Athletic Club bukan sekadar klub sepak bola. tim sepak bola yang telah sudah berusia kurang lebih 128 tahun ini menyimpan sejarah panjang yang erat dengan politik, identitas budaya, dan perlawanan masyarakat Basque.

Salah satu kisah paling penting adalah soal perubahan nama klub, yang terjadi bukan karena pilihan, melainkan paksaan rezim.

Berikut kisah lengkap perubahan nama Athletic Club Bilbao, yang kini menjadi salah satu klub paling bersejarah di LaLiga.

1. Perubahan nama di bawah bayang-bayang diktator Franco

markas Athletic Club Bilbao, Stadion San Mames (IDN Times/Margith Damanik)
Jersey pertama Athletic Club yang dipajang di stadion dalam markas Athletic Club Bilbao, Stadion San Mames (IDN Times/Margith Damanik)

Perubahan nama Athletic Club bukan urusan estetika atau pemasaran. Ini merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan politik negara.

Pada masa pemerintahan diktator Francisco Franco (1939–1975), pemerintah Spanyol menerapkan aturan ketat. Semua nama institusi publik, termasuk klub sepak bola, wajib menggunakan bahasa Spanyol atau Castilian. Nama asing dilarang.

Athletic Club, yang menggunakan istilah bahasa Inggris, menjadi salah satu korban kebijakan tersebut.

“Jadi ada sebuah periode selama sekitar 40 tahun, semasa diktatorship Franco, di mana klub terpaksa mengubah namanya, dari klub atletik ke Atletico de Vila, tapi kemudian setelah undang-undang itu ditinggalkan, klub terubah menjadi klub atletik,” kata Direktur Bisnis dan Stadion Operations Athletic Club Bilbao, Borja Gonzalez, ditemui IDN Times di Museum Stadion San Mames, Jumat (30/1/2026).

Kebijakan ini mencerminkan upaya rezim Franco untuk menyeragamkan identitas nasional dan menekan ekspresi budaya lokal.

2. Identitas budaya Basque yang ditekan

Gambaran suasana akademi Athletic Club Bilbao, Lezama, di Spanyol
Gambaran suasana akademi Athletic Club Bilbao, Lezama, di Spanyol (IDN Times/Margith Damanik)

Sejak 1941 hingga 1972, nama resmi klub berubah menjadi Atletico de Bilbao, mengikuti aturan pemerintah pusat.
Perubahan tidak hanya terjadi pada nama, tetapi juga pada lambang klub dan simbol-simbol identitas lainnya.

Bagi pendukung Athletic Club dan masyarakat Basque, periode ini dikenang sebagai masa penekanan budaya. Basque dikenal memiliki bahasa, tradisi, dan identitas yang kuat, berbeda dari mayoritas wilayah Spanyol.

Meski berada di bawah tekanan politik, Athletic Club tetap bertahan. Klub ini terus menjadi simbol kebanggaan dan perlawanan kultural masyarakat Basque, bahkan di tengah keterbatasan.

3. Kembali ke nama asli dan identitas sejati

markas Athletic Club Bilbao, Stadion San Mames (IDN Times/Margith Damanik)
Logo Athletic Club dalam markas Athletic Club Bilbao, Stadion San Mames (IDN Times/Margith Damanik)

Berakhirnya rezim Franco membuka jalan bagi pemulihan identitas. Larangan penggunaan nama asing dicabut, dan klub segera kembali ke nama aslinya: Athletic Club.

Langkah ini memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar administrasi. Ini adalah pernyataan identitas, sejarah, dan kebanggaan komunitas Basque.

Hingga kini, Athletic Club dikenal sebagai salah satu klub paling konsisten di Spanyol. Mereka menjadi satu dari tiga klub yang tidak pernah terdegradasi dari kasta tertinggi LaLiga, bersama Real Madrid dan Barcelona.

Lebih dari itu, Athletic Club tetap teguh pada filosofi uniknya: hanya merekrut pemain yang berasal dari wilayah Basque. Sebuah prinsip yang membuat klub ini bukan hanya tim sepak bola, tetapi simbol budaya yang hidup.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Latest in Sport

See More

Potret Megahnya Stadion San Mames, Tur Markas Athletic Club

07 Feb 2026, 09:05 WIBSport