Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Ayah dan Anak Populer yang Pernah Tampil di Piala Dunia
Dallas Stadium di Texas, Amerika Serikat (pexels.com/Caleb Oquendo)
  • Tujuh pasangan ayah dan anak dari berbagai negara tercatat pernah tampil di Piala Dunia, menunjukkan warisan bakat sepak bola lintas generasi yang menginspirasi dunia.
  • Dari Maldini hingga Thuram, setiap pasangan menorehkan kisah unik—mulai dari posisi bertahan hingga penyerang—yang memperlihatkan dedikasi dan konsistensi mereka di level tertinggi.
  • Kisah-kisah ini menegaskan bahwa kerja keras dan semangat keluarga mampu melahirkan legenda baru di panggung Piala Dunia, menjadikan sepak bola sebagai warisan emosional antargenerasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sepanjang sejarah sepak bola dunia, terdapat beberapa nama besar yang sukses meneruskan tongkat estafet kejayaan orangtua mereka di Piala Dunia. Mereka tidak sekadar mendompleng nama sang ayah, tetapi juga mampu mengukir cerita sendiri di bawah sorot lampu stadion. Sebagai gambaran, berikut tujuh pasangan ayah dan anak populer yang tercatat pernah mencicipi ketatnya atmosfer Piala Dunia per 2026.

1. Cesare dan Paolo Maldini menjadi simbol tembok pertahanan kokoh Timnas Italia

Dinasti keluarga Maldini di panggung sepak bola internasional merupakan salah satu cerita paling dihormati para pencinta olahraga di seluruh dunia. Sang ayah, Cesare Maldini, mengawali warisan emas ini dengan mengawal lini belakang Timnas Italia di Piala Dunia 1962. Ia tercatat membukukan dua penampilan sepanjang turnamen akbar tersebut sebelum akhirnya memutuskan pensiun dari lapangan hijau. Langkah awal Cesare inilah yang membuka jalan bagi generasi penerusnya untuk tampil gemilang.

Langkah legendaris sang ayah kemudian berhasil dilewati dengan sangat fenomenal oleh sang putra kandung, Paolo Maldini. Paolo menjelma sebagai salah satu bek kiri, bek tengah, serta kapten terbaik sepanjang masa. Ia sukses tampil dalam empat edisi Piala Dunia berbeda pada 1990 hingga 2002 dengan total rekor 23 penampilan tanpa putus. Catatan fantastis ini membuat namanya diakui sebagai salah satu bek paling disegani dalam sejarah sepak bola.

2. Peter dan Kasper Schmeichel sukses meneruskan tongkat estafet penjaga gawang legendaris Denmark

Jika Italia memiliki dinasti pemain bertahan, maka Denmark memiliki warisan takhta pengawal mistar gawang yang luar biasa tangguh. Peter Schmeichel merupakan sosok kiper legendaris yang menjadi pilar utama Timnas Denmark di Piala Dunia 1998. Kiper bertubuh raksasa ini sukses mencatatkan lima penampilan sebelum menyudahi karier internasionalnya di tingkat dunia. Refleks kilat, kepemimpinan vokal, serta mentalitasnya selalu membekas di hati para pendukung Denmark.

Bakat hebat dalam menghalau si kulit bundar tersebut rupanya menurun penuh kepada sang anak, Kasper Schmeichel. Kasper berhasil membuktikan kapasitas dirinya sebagai suksesor yang sepadan dengan mengawal gawang Timnas Denmark di turnamen besar. Ia tercatat menjadi kiper nomor satu di Piala Dunia 2018 serta Piala Dunia 2022 dengan menorehkan total tujuh penampilan. Melalui kerja kerasnya, Kasper berhasil lepas dari bayang-bayang sang ayah yang begitu masif.

3. Danny dan Daley Blind membuktikan dedikasi tinggi mereka untuk kejayaan Timnas Belanda

Hubungan darah antara Danny dan Daley Blind menjadi potret nyata dari kesuksesan kerja keras lintas generasi di skuad De Oranje. Danny Blind senior merupakan bagian dari generasi emas lini pertahanan Belanda yang dibawa ke Piala Dunia 1990 dan 1994. Meskipun tidak sempat mencatatkan menit bermain di dua edisi tersebut, namanya tetap dihormati sebagai figur pemimpin yang kuat. Pengalamannya di ruang ganti menjadi modal berharga yang kelak ia tularkan kepada sang anak.

Cerita berbeda yang jauh lebih bersinar berhasil diukir sang anak kandung, Daley Blind, pada era sepak bola modern. Daley menjelma sebagai sosok bek kiri yang sangat diandalkan, rajin membantu serangan, serta rutin mengisi kesebelasan utama Belanda. Lewat partisipasinya di Piala Dunia 2014 dan 2022, ia sukses mengoleksi 12 penampilan serta menyumbang 2 gol penting bagi negaranya. Penampilan konsisten Daley membuktikan dirinya sebagai pemain kelas dunia yang cerdas secara taktik.

4. Javier Hernandez Gutierrez dan Chicharito menjadi duet penyerang tajam beda era kebanggaan Meksiko

Meksiko memiliki kisah romantis tersendiri mengenai pasangan ayah dan anak yang sama-sama berposisi sebagai juru gedor. Sang ayah yang bernama Javier Hernandez Gutierrez merupakan penyerang andalan yang masuk skuad El Tri di Piala Dunia 1986. Sayangnya ia tidak memperoleh kesempatan turun bertanding di atas lapangan hijau sepanjang gelaran di rumah sendiri tersebut. Meski hanya duduk di bangku cadangan, ambisinya untuk melihat nama keluarga bersinar di panggung dunia tidak pernah padam.

Rasa penasaran sang ayah untuk beraksi di panggung dunia akhirnya dibayar tuntas sang putra, Javier Hernandez alias Chicharito. Ia tampil sangat tajam dan menjelma sebagai salah satu penyerang paling mematikan yang pernah dimiliki Meksiko. Mantan penyerang Manchester United ini sukses bermain di tiga edisi Piala Dunia berbeda dengan koleksi 12 penampilan serta 4 gol. Kecepatan, kelincahan, serta ketajamannya di depan gawang lawan berhasil membuat sang ayah tersenyum bangga di tribun.

5. Jean dan Youri Djorkaeff sukses menyumbangkan trofi bergengsi bagi publik Prancis

Kisah manis dari tanah Prancis ini menjadi penutup yang sangat indah mengenai kesuksesan relasi ayah dan anak di panggung dunia. Sang ayah, Jean Djorkaeff, merupakan bek tangguh yang dipercaya mengawal lini pertahanan Timnas Prancis di Piala Dunia 1966. Sepanjang turnamen tersebut, ia tampil konsisten dalam tiga laga fase grup meskipun langkah timnya harus terhenti lebih awal. Ketangguhannya dalam menjaga area pertahanan menjadi warisan berharga bagi generasi sepak bola Prancis berikutnya.

Tiga dekade berselang, sang putra, Youri Djorkaeff, berhasil mengangkat derajat prestasi keluarga ke titik tertinggi dunia. Youri yang bermain sebagai gelandang serang tampil sangat kreatif, visioner, serta cerdas dalam menyusun skema serangan. Ia bermain di dua edisi Piala Dunia pada 1998 serta 2002 dan sukses membawa Les Bleus mengangkat trofi 1998. Keberhasilan Youri ini menyempurnakan mimpi besar yang dahulu sempat dirintis sang ayah.

6. Mazinho dan Thiago Alcantara mengukir cerita unik dua tim nasional berbeda

Catatan sejarah Piala Dunia juga diwarnai kisah unik ayah dan anak yang membela negara berbeda di tingkat internasional. Sang ayah, Mazinho, merupakan gelandang bertahan tangguh yang menjadi andalan utama Timnas Brasil. Ia sukses mencatatkan namanya dalam sejarah emas sepak bola dengan membantu Selecao merengkuh trofi juara di Piala Dunia 1994. Ketenangan taktis serta visi bermainnya yang kuat di lini tengah menjadi inspirasi besar bagi anak-anaknya kelak.

Langkah sang ayah untuk mencicipi atmosfer turnamen akbar tersebut kemudian diikuti sang anak kandung, Thiago Alcantara. Berbeda dengan sang ayah yang setia kepada Brasil, Thiago memilih untuk menggunakan paspor Spanyol sepanjang karier sepak bolanya. Ia berhasil menembus skuad utama Spanyol dan tampil kompetitif di Piala Dunia 2018 Rusia. Perbedaan bendera yang mereka bela menjadi bukti unik bahwa bakat sepak bola keluarga ini mampu bersinar di dua belahan dunia yang berbeda.

7. Lilian dan Marcus Thuram menjadi bukti nyata dari regenerasi lini serang dan bertahan Prancis

Kisah hebat dari skuad Les Bleus kembali melengkapi daftar dinasti sepak bola terbaik yang pernah ada di dunia. Sang ayah, Lilian Thuram, merupakan bek legendaris yang menjadi pilar kokoh Prancis saat menjuarai Piala Dunia 1998. Tidak hanya tangguh bertahan, ia bahkan sempat mencetak dua gol krusial pada semifinal melawan Kroasia. Reputasinya sebagai salah satu pemain bertahan paling disiplin di dunia menjadi standar tinggi yang luar biasa.

Prestasi menawan tersebut berhasil dilanjutkan oleh sang anak kandung, Marcus Thuram. Berbeda dengan posisi sang ayah, Marcus tumbuh sebagai penyerang sayap yang sangat lincah serta tajam di lini depan. Ia sukses menembus skuad utama Prancis di Piala Dunia 2022 dan berhasil membawa negaranya melaju hingga ke final. Kehadiran Marcus di lapangan membuktikan bahwa mentalitas pemenang keluarga Thuram tetap menyala pada era sepak bola modern.

Perjalanan karier para pesepak bola di atas menjadi bukti bahwa bakat besar tidak akan pernah mengkhianati usaha keras antargenerasi. Mulai dari fondasi awal sang ayah hingga prestasi hebat sang anak, semuanya kini tercatat abadi dalam sejarah sepak bola. Panggung Piala Dunia selalu berhasil melahirkan drama keluarga yang penuh dengan emosi, kebanggaan, serta inspirasi bagi jutaan pasang mata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article