Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengenal Sepak Bola Cape Verde dari Kompetisi ke Andil Diasporanya

Mengenal Sepak Bola Cape Verde dari Kompetisi ke Andil Diasporanya
Kiper Cape Verde, Vozinha, merayakan keberhasilan tahan imbang Spanyol (AFP / Roberto Schmidt)
Intinya Sih
  • Cape Verde tampil mengejutkan di Piala Dunia 2026 dengan menahan imbang Uruguay dan Spanyol, serta hanya kalah tipis dari Argentina di babak 32 besar.
  • Seluruh pemain timnas Cape Verde berkarier di luar negeri karena liga domestik masih semi-profesional, sementara diaspora mereka mencapai 700 ribu jiwa—lebih banyak dari populasi dalam negeri.
  • Federasi sepak bola Cape Verde mengadopsi sistem Swiss untuk kompetisi nasional dan mulai membangun infrastruktur modern lewat bantuan FIFA guna mengembangkan talenta lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Penampilan luar biasa Cape Verde di Piala Dunia 2026 masih menjadi buah bibir. Meski kalah tipis 2-3 dari Argentina pada babak 32 besar, mereka membuktikan bahwa kejutan masih ada di panggung sepak bola internasional. Anak asuh Pelatih Bubista ini bahkan bisa menahan imbang dua juara dunia pada fase penyisihan grup, yaitu Uruguay serta Spanyol.

Keberhasilan negara kepulauan kecil di lepas pantai barat Afrika ini menembus babak 32 besar tentu mengundang rasa penasaran. Bagaimana bisa sebuah negara berpenduduk sekitar 600 ribu jiwa mampu melahirkan tim nasional yang bermain militan? Berikut beberapa fakta menarik tentang sepak bola Cape Verde.

1. Kompetisi domestik unik yang mengadopsi sistem Swiss ala Liga Champions Eropa

Cape Verde memiliki format kompetisi domestik yang unik akibat kondisi geografis mereka. Federasi Sepak Bola Cape Verde (FCF) baru saja merombak format kompetisi sepak bola mereka, Campeonato Nacional. Sejak 2025, mereka resmi mengadopsi sistem kompetisi tunggal ala format baru Liga Champions Eropa (sistem Swiss) untuk fase nasional sekaligus penentuan juara.

Dilansir RSSSF.com, kompetisi ini diikuti 10 hingga 12 tim terbaik dari 9 pulau berpenghuni. Seluruh tim peserta dikelompokkan berdasarkan wilayah geografis mereka, tetapi bertarung dalam klasemen yang sama. Menariknya, tiap tim hanya melakoni enam pertandingan pada fase reguler. Setelah itu, 4 tim teratas di klasemen akhir akan melaju ke semifinal dan 2 pemenang semifinal akan bentrok di partai puncak untuk menentukan juara nasional.

2. Timnas Cape Verde berisi 100 persen pemain yang berkarier di luar negeri

Fakta lain Timnas Cape Verde yang berlaga di Piala Dunia 2026 adalah klub asal para pemainnya. Dilansir Diario AS, tidak ada 1 pun dari 26 pemain yang bermain di liga domestik mereka sendiri. Seluruh penggawa yang dipanggil Bubista adalah para pesepak bola profesional yang berkarier di luar negeri.

Mereka tersebar di liga-liga Eropa seperti Portugal, Prancis, Spanyol, Siprus, Belanda, hingga kawasan Timur Tengah. Ini lantaran kompetisi domestik Cape Verde masih berstatus amatir atau semiprofesional. Alhasil, banyak pesepak bola harus merantau ke luar negeri sejak usia muda jika ingin berkembang secara profesional.

3. Jumlah diaspora Cape Verde di luar negeri lebih banyak daripada penduduk negeri sendiri

Mengapa ada begitu banyak pemain berkualitas Cape Verde di luar negeri? Jawabannya ada pada riwayat migrasi penduduknya. Dilansir situs resmi International Organization of Migration, mereka merantau ke luar demi mengatasi kesulitan ekonomi. Alhasil, jumlah populasi Cape Verde yang tinggal di luar negeri mencapai 700 ribu orang. Lebih banyak ketimbang penduduk yang masih menetap di dalam negeri yakni hanya sekitar 600 ribu jiwa.

Tak pelak, diaspora pun mendominasi Timnas Cape Verde. Sebanyak 14 pemain, termasuk sang kapten, Ryan Mendes, lahir dan tumbuh besar dalam sistem pembinaan sepak bola Eropa. Selain itu, berkat kedekatan sejarah sebagai bekas koloni, para pemain muda Cape Verde dengan mudah mendapatkan akses kepada klub-klub Portugal sejak usia dini. Ini jelas berguna untuk mengasah pemahaman taktik, visi bermain, dan ketahanan fisik mereka.

4. Beberapa bintang sepak bola dunia memiliki ikatan dengan Cape Verde melalui keluarga

Dilansir The Guardian, karena masifnya jumlah diaspora, beberapa legenda sepak bola dunia yang memilih membela negara lain sebenarnya memiliki ikatan dengan negeri kepulauan tersebut. Patrick Vieira, sang legenda Arsenal dan Prancis yang menjuarai Piala Dunia 1998, memiliki ibu yang berasal dari Cape Verde. Turut pula Henrik Larsson, legenda Swedia, yang ayahnya lahir di Cape Verde.

Lalu, ada Nani, mantan winger lincah Manchester United dan Portugal, yang lahir di Praia, ibu kota Cape Verde, sebelum bermigrasi ke Portugal. Terakhir, Cristiano Ronaldo, megabintang Al-Nassr, yang diketahui memiliki ikatan dengan negeri kepulauan tersebut dari nenek buyut pihak ibunya yang berasal dari Sao Vicente, salah satu pulau di Cape Verde.

5. Infrastruktur sepak bola masih berkembang, tapi mendapat dana bantuan dari FIFA

Meski timnasnya mampu tampil militan dengan intensitas pressing tinggi di Piala Dunia 2026, infrastruktur sepak bola di dalam negeri Cape Verde sebenarnya masih dalam tahap berkembang. Mayoritas klub lokal bermain di atas lapangan berumput sintetis. Ini akibat keterbatasan pasokan air bersih untuk merawat rumput alami di kepulauan gersang tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, pihak federasi mulai membangun pusat pelatihan modern dan merenovasi sejumlah stadion menggunakan bantuan dana dari program FIFA Forward. Hal ini agar bakat-bakat lokal Cape Verde diasah sejak usia dini dan bisa disalurkan kepada klub-klub luar negeri. Dengan kata lain, Cape Verde perlahan-lahan sedang membangun reputasi sebagai penghasil talenta sepak bola.

Sebelum itu, Cape Verde sendiri telah membuktikan diri sebagai tim luar biasa. Mereka tidak pernah kalah sampai bertemu Argentina, juara bertahan Piala Dunia. Itu pun dengan tampil menekan hingga Argentina mesti melewati babak tambahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra

Related Articles

See More