Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bagaimana Ruben Amorim Menyulap AC Milan untuk Incar Scudetto?

6 min read
Bagaimana Ruben Amorim Menyulap AC Milan untuk Incar Scudetto?
ilustrasi stadion sepak bola (unsplash.com/Bruce Barrow)
  • AC Milan mengalahkan Inter 3-1 pada derbi Serie A, meski kalah penguasaan bola dan jumlah tembakan. Diego Moreira menyumbang satu gol serta dua assist, sementara Mike Maignan membuat tujuh penyelamatan.
  • Ruben Amorim mulai membentuk identitas Milan melalui skema tiga bek, pembangunan serangan dari belakang, dan serangan sayap cepat. Namun, celah antarlini serta kelemahan bola mati masih terlihat.
  • Milan berada di posisi kelima, terpaut empat poin dari Lazio. Peluang Scudetto bergantung pada konsistensi, meski skuad terbatas dan lini serang masih mengandalkan Pulisic, Rabiot, serta Moreira.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

AC Milan menundukkan Inter Milan 3-1 dalam Derby della Madonnina pada giornata ke-10 Serie A Italia 2026/2027. Diego Moreira tampil sebagai bintang lapangan berkat 1 gol lewat tendangan bebas dan 2 assist. Kemenangan itu menjadi yang ketiga beruntun atas rival sekota mereka, sebuah pencapaian yang terakhir kali terjadi pada era Carlo Ancelotti 2 dekade silam.

Ruben Amorim, pelatih yang musim lalu gagal total bersama Manchester United, kini mulai menunjukkan taji bersama I Rossoneri sejak menggantikan Massimiliano Allegri. Pemilik klub, Gerry Cardinale, turut memberi dukungan penuh kepada pelatih asal Portugal itu berkat perubahan yang berhasil ia bawa. Pertanyaannya kemudian muncul: Apakah hasil gemilang ini cukup menjadi modal AC Milan untuk benar-benar bersaing memperebutkan gelar juara Serie A 2026/2027?

  1. 1. Meski kalah secara penguasaan bola, AC Milan sukses menangkan laga berkat efektivitas peluang

    Menurut Opta Analyst, AC Milan sejatinya kalah dalam penguasaan bola saat derbi berlangsung, hanya mencatatkan 43 persen berbanding 57 persen milik Inter Milan. Catatan tembakan pun tidak berpihak kepada tuan rumah, dengan 7 percobaan berbanding 19 upaya yang dilepaskan skuad Pelatih Cristian Chivu. Namun, angka expected goals (xG) menunjukkan AC Milan mampu mengonversi 0,62 xG mereka menjadi 3 gol nyata, sementara Inter Milan gagal memaksimalkan 1,68 xG yang mereka kumpulkan sepanjang laga.

    Christian Pulisic membuka keunggulan hanya dalam waktu 4 menit lewat sundulan memanfaatkan umpan silang Diego Moreira dari sisi kanan. Enam menit berselang, giliran Adrien Rabiot menggandakan keunggulan lewat sepak pojok kreatif yang kembali dirancang oleh winger asal Belgia itu. I Nerazzurri sempat memperkecil ketertinggalan lewat sundulan Alessandro Bastoni pada menit ke-22 sebelum Moreira menutup babak pertama dengan tendangan bebas dari jarak 25 yard.

    Kiper, Mike Maignan, turut menjadi penentu lewat tujuh penyelamatan krusial, termasuk reaksi kilat menggagalkan peluang emas Djed Spence. Di lini tengah, pengalaman Luka Modric terlihat lewat 67 umpan akurat sebagai pengatur tempo permainan I Rossoneri sepanjang laga. Koni De Winter pun tampil solid dengan 15  intersepsi bertahan, meredam ancaman Marcus Thuram yang bermain sendirian di lini depan Inter Milan.

    Kemenangan ini sekaligus memperpanjang catatan tak terkalahkan AC Milan atas Inter Milan di semua kompetisi menjadi 8 laga beruntun, dengan 6 kemenangan dan 2 keimbangan. Performa Rabiot juga mencuri perhatian, sebab pemain asal Prancis itu sudah terlibat gol dalam 5 pertandingan Serie A terakhirnya dengan torehan 4 gol dan 2 assist. Sayangnya bagi tim tamu, Chivu masih belum menang melawan rival sekota sejak menukangi Inter Milan, yang memperpanjang penantian yang sudah berlangsung sejak April 2024.

  2. 2. Pakem tiga bek Ruben Amorim mulai menemukan bentuk permainan di AC Milan

    Sejak ditunjuk sebagai pelatih AC Milan, Ruben Amorim konsisten menerapkan skema tiga bek yang kerap berubah bentuk menjadi 3-4-2-1, tergantung fase permainan timnya. AC Milan gemar membangun serangan dari lini belakang dengan memanfaatkan kemampuan distribusi bola Mike Maignan, sementara para gelandang turun menjemput bola untuk membuka ruang. Dua pemain di belakang penyerang tunggal kerap bertukar posisi secara dinamis, sehingga lawan kesulitan menandai pergerakan mereka di area sepertiga akhir.

    Gaya menyerang I Rossoneri paling berbahaya justru muncul saat tempo permainan tiba-tiba berubah cepat lewat pergerakan eksplosif dari sektor sayap. Seluruh 7 gol AC Milan di 4 laga pembuka musim ini lahir setelah turun minum, menandakan kesabaran yang dibangun Amorim baru terasa pada babak kedua. Diego Moreira menjadi salah satu buktinya, dengan kedua golnya ke gawang Lazio pada pekan ke-4 Serie A tercipta dari serangan balik cepat dengan umpan tajam dan sentuhan individu yang matang.

    Meski begitu, proses adaptasi ini tidak berjalan mulus dari awal, terutama karena Amorim butuh waktu memasukkan Christian Pulisic dan Moreira yang baru pulih dari cedera. Celah di antara lini pertahanan dan tengah masih kerap muncul, seperti terlihat saat AC Milan ditekan Benfica, Lazio, Atalanta, hingga Bologna. Pertahanan dari bola mati pun menjadi pekerjaan rumah tersendiri, dengan gol-gol yang bersarang lewat skema serupa melawan Torino, Juventus, Sassuolo, dan Bologna.

    Kekalahan 2-4 atas Bologna pekan lalu menjadi bukti konkret kerapuhan tersebut, tatkala AC Milan sempat unggul 2-1, tetapi justru kebobolan pada babak kedua. Gerry Cardinale sempat kesal atas hasil itu, meski dukungannya terhadap Amorim tidak goyah dan menegaskan tidak akan meninggalkan wingman-nya. Derbi melawan Inter Milan pun menjadi ujian sekaligus pembuktian, dan kemenangan yang diraih memberi sinyal jika fondasi taktik Amorim mulai kokoh meski perjalanannya masih panjang.

  3. 3. Meski skuad terbatas, AC Milan tetap optimistis juara Serie A asalkan konsisten

    Usai Derby della Madonnina, AC Milan tetap bertengger di posisi kelima klasemen Serie A 2026/2027, kendati hanya tertinggal empat poin dari Lazio yang resmi menjadi pemuncak klasemen sementara. Skuad Ruben Amorim juga tergolong muda dengan rata-rata usia 25,7 tahun, memadukan talenta menjanjikan seperti Alphadjo Cisse dengan pengalaman gelandang senior Luka Modric. Kehadiran Goncalo Ramos sebagai juru gedor seharga 73 juta euro (Rp1,482 triliun) pun semula diharapkan menjadi solusi jangka panjang di lini depan I Rossoneri.

    Namun, kenyataannya, Ramos baru mencetak 2 gol dalam 8 penampilan awal di Serie A, jauh dari ekspektasi sebagai pemain termahal klub. Minimnya ancaman dari sang striker membuat AC Milan lebih mengandalkan Christian Pulisic, Adrien Rabiot, dan Diego Moreira yang saling bergantian mengisi ruang serang. Catatan pertahanan mereka pun sempat menjadi yang teratas sebelum merosot ke posisi keenam usai kebobolan empat gol dari Bologna.

    Di sisi lain, Inter Milan juga tidak lepas dari masalah, mulai dari rotasi kiper yang belum klop hingga absennya Lautaro Martinez karena cedera. Kepergian Francesco Acerbi dan Stefan de Vrij turut melemahkan lini belakang mereka, sementara transisi generasi di tengah lapangan belum sepenuhnya rampung. Celah-celah inilah yang membuka peluang bagi AC Milan untuk terus menempel ketat, asalkan konsistensi performa dapat dijaga hingga paruh kedua musim.

    Faktor lain yang patut diperhitungkan adalah suntikan motivasi dari luar lapangan, termasuk perpanjangan kontrak Pulisic dan peluncuran rencana Stadion Generali pekan ini. Gerry Cardinale sendiri optimistis menyebut peluang juara bukan hal yang mustahil, meski ia mengakui pentingnya konsistensi hasil dibanding sekadar performa sesaat. Dengan kedalaman skuad yang masih terbatas dan ketergantungan pada segelintir pemain kunci, jalan AC Milan menuju gelar Scudetto tetap terbuka walaupun penuh tantangan yang harus diselesaikan satu demi satu.

    Kemenangan atas Inter Milan memang belum menjadi jaminan gelar juara Serie A 2026/2027, tetapi membuktikan proyek Ruben Amorim di Milanello mulai membuahkan hasil. Jika konsistensi itu terus terjaga hingga musim semi, bukan tidak mungkin Scudetto yang telah lama absen dari San Siro akhirnya kembali ke tangan I Rossoneri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More