Casemiro Pergi, Bagaimana MU Menutup Lubang yang Ditinggalkannya?

- Casemiro mampu menunjukkan adaptasi permainan yang lebih efektif
- Kepergian Casemiro bakal menimbulkan efek domino secara sistemik di lini tengah MU
- Kandidat pengganti Casemiro yang layak dipertimbangkan meski tak sepenuhnya mirip dengan profil Casemiro
Manchester United bakal memasuki fase baru ketika Casemiro akan meninggalkan Old Trafford pada akhir musim 2025/2026. Keputusan ini menandai akhir pengabdian seorang gelandang senior sekaligus menutup satu bab penting dalam upaya stabilisasi lini tengah dari ketidakpastian struktural. Bersamaan dengan kepergiannya, MU berada dalam agenda efisiensi finansial dan rekonstruksi skuad yang lebih berorientasi jangka panjang.
Selama 4 musim berseragam Setan Merah, Casemiro bukan sekadar menjadi nama besar dari Real Madrid yang singgah di English Premier League (EPL). Ia hadir sebagai solusi instan atas problem kronis MU di sektor number 6, sekaligus menjadi tolok ukur bagaimana sebuah tim bertahan dan mengatur ruang tanpa bola. Pertanyaan utamanya kini bukan lagi soal siapa yang pergi, melainkan apa yang sebenarnya ditinggalkan.
1. Meski menurun secara fisik, Casemiro mampu menunjukkan adaptasi permainan yang lebih efektif
Manchester United merekrut Casemiro pada musim panas 2022 karena kebutuhan yang sangat spesifik, bukan karena dorongan simbolik. Klub membutuhkan gelandang bertahan murni yang mampu memutus transisi lawan, menjaga ruang di depan bek tengah, dan memberi struktur defensif yang sebelumnya tidak pernah stabil. Dalam peran spesialis number 6, Casemiro langsung mengisi kekosongan tersebut dengan pendekatan pragmatis yang sesuai dengan kondisi Premier League saat itu.
Dampak langsung terasa pada musim debutnya ketika MU finis di posisi ketiga liga dan menjuarai Carabao Cup. Casemiro tidak hanya mencetak gol penting di final, tetapi juga menjadi jangkar yang membuat sistem pada era Erik Ten Hag bekerja lebih rapi. Jarak antarlini menjadi lebih terkontrol, bek tengah tidak lagi terlalu sering bertahan sambil mundur, dan MU mampu mengelola fase tanpa bola dengan struktur yang lebih jelas.
Namun, fase berikutnya memperlihatkan batas alami dari solusi jangka pendek tersebut. Ketika pendekatan taktik MU berubah menjadi lebih terbuka dan transisional, ruang yang harus dijaga Casemiro otomatis melebar secara signifikan. Penurunan mobilitas karena faktor usia membuatnya lebih sering terekspos, terutama ketika jarak vertikal antarlini tidak terjaga dan tempo pertandingan meningkat.
Menariknya, pada fase akhir kariernya di Old Trafford, Casemiro justru menunjukkan adaptasi yang cerdas. Penurunan fisik ia kompensasi dengan kecerdasan posisional, timing duel yang lebih selektif, serta kepemimpinan struktural di lapangan. Kontribusinya kian terasa dalam aspek nonstatistik, seperti komunikasi defensif, kontrol tempo tanpa bola, dan efek domino terhadap performa bek tengah yang kembali bermain lebih agresif. Dalam kerangka inilah, Casemiro terbukti sebagai solusi jangka pendek yang membuahkan hasil, meski mahal secara finansial.
2. Kepergian Casemiro bakal menimbulkan efek domino secara sistemik di lini tengah Manchester United
Kepergian Casemiro tidak sekadar berarti kehilangan satu gelandang bertahan dalam rotasi. Manchester United kehilangan fungsi spesifik yang selama ini menambal banyak kelemahan sistemik di lini tengah. Fungsi utama tersebut adalah screening alami di depan back four, terutama dalam melindungi half-space dan zona 14 yang kerap menjadi titik serang lawan.
Tanpa figur seperti Casemiro, pertanyaan mendasar muncul mengenai siapa yang akan mengemban tanggung jawab proteksi ruang tersebut. Kobbie Mainoo, meski memiliki kecerdasan bermain yang tinggi, masih berada dalam fase perkembangan dan belum teruji sebagai penjaga struktur defensif utama. Beban ini berpotensi menghambat eksplorasi progresifnya jika ia dipaksa bermain terlalu defensif.
Dampak lanjutan juga dirasakan oleh Bruno Fernandes. Selama Casemiro berada di belakangnya, Fernandes dapat lebih fokus pada kreasi dan progresi serangan. Tanpa perlindungan tersebut, risiko eksploitasi ruang oleh lawan kembali muncul ketika ia harus terlalu sering turun menutup celah, yang pada akhirnya mengurangi efektivitasnya di sepertiga akhir lapangan.
Masalah klasik MU tanpa Casemiro sudah terlihat dalam beberapa periode sebelumnya. Transisi negatif menjadi lambat, jarak vertikal antarlini melebar, dan bek tengah dipaksa bertahan sambil mundur menghadapi serangan cepat lawan. Jika ditilik lebih lanjut, kepergian Casemiro bakal memunculkan problem utama MU yang bersifat struktural, bukan sekadar persoalan rotasi pemain. Lantas, apakah klub masih membutuhkan number 6 murni, atau justru harus beralih ke double pivot berbasis kontrol?
3. Kandidat yang layak dipertimbangkan meski tak sepenuhnya mirip dengan profil Casemiro
Mencari pengganti Casemiro bukan berarti menemukan replika 1 banding 1. Manchester United justru dihadapkan pada kesempatan untuk mendefinisikan ulang profil lini tengah mereka. Kriteria ideal yang muncul dari berbagai laporan adalah gelandang yang lebih muda, memiliki intensitas tinggi, progresi bola yang lebih baik, serta tetap mampu menutup ruang yang luas.
Carlos Baleba menjadi salah satu kandidat paling menonjol dalam konteks ini. Gelandang Brighton & Hove Albion ini dikenal dengan atletisitas, agresivitas, dan kemampuan ball-carrying yang kuat, sehingga cocok untuk gaya transisi vertikal dengan intensitas tinggi. Namun, profil Baleba juga merepresentasikan perubahan pendekatan, dari stabilisator defensif menuju gelandang dinamis yang mampu membawa bola keluar dari tekanan.
Adam Wharton menawarkan karakter berbeda. Ia lebih dekat dengan profil pengontrol tempo melalui distribusi progresif dan pemahaman ruang yang matang untuk usianya. Dalam skema yang cenderung mengandalkan dominasi bola, Wharton berpotensi menjadi pilar baru yang memungkinkan MU mengatur ritme pertandingan, bukan sekadar bereaksi terhadapnya.
Hayden Hackney muncul sebagai opsi menarik untuk menggantikan Casemiro, mengingat rekam jejaknya sebagai mantan anak asuh Michael Carrick di Middlesbrough. Hampir serupa dengan Wharton, ia unggul dalam progresi bola dengan jangkauan mobilitas yang luas. Kendati terjangkau secara harga, tetapi statusnya sebagai pemain Divisi Championship membuatnya diragukan untuk siap tampil di level Premier League.
Opsi lain, seperti Elliot Anderson, Amadou Onana, dan Angelo Stiller menghadirkan variasi pendekatan yang lebih luas. Anderson menawarkan fleksibilitas dan intensitas pressing, Onana memberikan kekuatan duel dan perlindungan fisik, sementara Stiller membawa kualitas deep-lying playmaker dengan disiplin posisi yang baik. Ragam profil ini menegaskan jika MU bakal menghadapi dilema besar untuk mencari pengganti Casemiro.
Pertanyaan kunci kemudian mengerucut pada arah filosofi. Apakah MU ingin mengganti fungsi Casemiro secara langsung, atau justru menggunakan momen ini untuk mengubah struktur lini tengah secara total. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan bukan hanya siapa yang akan datang, tetapi bagaimana Setan Merah bermain dalam beberapa musim ke depan.
Kepergian Casemiro menutup satu fase stabilisasi yang mahal tetapi fungsional bagi Manchester United. Tantangan berikutnya bukan menemukan sosok yang sama, melainkan membangun struktur yang lebih berkelanjutan dan relevan dengan tuntutan sepak bola modern.

















