Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Como Jamu MU di Liga Champions 2026/2027, Siapa yang Lebih Unggul?

5 min read
Como Jamu MU di Liga Champions 2026/2027, Siapa yang Lebih Unggul?
potret Stadio Giuseppe Sinigaglia, markas Como 1907 (unsplash.com/Erin Doering)
  • Manchester United bertandang ke Como pada matchday ketiga Liga Champions 2026/2027 dengan sama-sama mengoleksi tiga poin, tetapi sedang tanpa kemenangan dalam enam laga dan dilanda sejumlah absensi.
  • Como menjalani debut Eropa dengan kepercayaan diri tinggi setelah menang 3-1 atas Fiorentina dan mencatat 32 kemenangan dari 40 laga kandang, didukung kreativitas Nico Paz serta Martin Baturina.
  • Pressing dan permainan antarlini Como berpotensi menguji lini tengah serta pertahanan MU yang tidak ideal, sementara Bruno Fernandes dan Bryan Mbeumo menjadi opsi ancaman bagi tim tamu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Manchester United akan melakoni laga tandang pada matchday ketiga Liga Champions Eropa (UCL) 2026/2027 ke markas Como 1907, Rabu (21/10/2026) malam WIB. Kedua tim datang dengan modal tiga poin yang sama dari dua laga awal, tetapi dengan rekam jejak berbeda. Setan Merah tengah dirundung tekanan besar akibat rentetan hasil buruk di English Premier League (EPL), sementara tuan rumah melangkah penuh percaya diri usai memetik kemenangan beruntun di Serie A Italia.

Laga ini bakal menjadi pertemuan pertama dalam sejarah bagi kedua tim, mengingat Como merupakan klub debutan di kompetisi Eropa. Bagi MU, laga ini menjadi kesempatan emas untuk menghentikan paceklik kemenangan yang telah berlangsung sejak pertengahan September lalu. Sementara bagi klub berjuluk I Lariani, duel di kandang ini bisa melanjutkan tren bagus di Stadio Giuseppe Sinigaglia dengan raihan 32 kemenangan dari 40 laga.

  1. 1. Manchester United tengah paceklik performa tanpa kemenangan dalam enam laga terakhir

    Manchester United belum menang dalam enam laga beruntun di semua ajang, dengan hasil terakhir imbang 1-1 kontra Leeds United pada pekan ke-7 Premier League. Rentetan hasil minor membuat mereka hanya meraih 7 poin dari 7 laga di liga, terdampar di peringkat 13. Catatan itu menjadi start terburuk klub ini dalam 40 tahun terakhir yang menjadi gambaran krisis yang mendera skuad Michael Carrick.

    Ironisnya, performa buruk ini muncul setelah Carrick dipuji membawa Manchester United meraih 12 kemenangan dari 17 laga terakhir pada 2025/2026. Kemenangan atas Liverpool, Manchester City, dan sang juara Arsenal sempat membangun optimisme. Namun, dengan skuad dan pelatih yang relatif sama, performa impresif itu gagal berlanjut musim ini.

    Penyebabnya, para rival kini hafal pola serangan balik cepat andalan MU musim lalu dan memilih bertahan dengan blok rendah. Masalah diperparah kerapuhan lini tengah usai kepergian Casemiro, karena Youri Tielemans dan Kobbie Mainoo punya kecenderungan membantu serangan ketimbang menjaga keseimbangan pertahanan. Hal ini didukung data The Athletic, dengan lawan mampu melewati pemain Setan merah lewat 49 dribel dalam 7 laga, angka tertinggi kedua di Premier League setelah Crystal Palace.

    Problem merembet ke lini depan. Meskipun kuantitas tembakan meningkat, akurasinya anjlok dari 39,2 persen musim lalu menjadi 25,2 persen, yang membuktikan para penyerang MU tak mampu memaksimalkan peluang. Apesnya lagi, tim asuhan Carrick dilanda krisis cedera dengan Leny Yoro absen karena skors, Lisandro Martinez, Luke Shaw, dan Mainoo diragukan tampil, sementara Benjamin Sesko, Manuel Ugarte, dan Patrick Dorgu dipastikan absen. Skema 4-2-3-1 kemungkinan masih dipakai dengan Ayden Heaven mendampingi Harry Maguire, sementara Fernandes kembali ke posisi nomor 10.

  2. 2. Como 1907 dikenal tampil garang di kandang dengan 32 kemenangan dari 40 laga terakhir

    Berbeda dari tekanan yang menyelimuti Manchester United, suasana di kubu Como 1907 penuh keyakinan menjelang laga bersejarah ini. Klub yang promosi Serie A Italia pada 2024 ini baru pertama kali tampil di kompetisi Eropa sepanjang sejarahnya. Pelatih Cesc Fabregas bahkan menyebut laga melawan MU sebagai mimpi yang menjadi kenyataan.

    Kepercayaan diri I Lariani sedang melambung tinggi usai meraih hasil positif di kasta tertinggi liga Italia. Skuad asuhan Fabregas baru saja membekuk Fiorentina dengan skor 3-1 dalam laga terakhir, sekaligus jadi kemenangan ke-32 dalam 40 laga kandang di semua kompetisi. Kemenangan ini membuat performa mereka terlihat lebih mantap dibandingkan MU.

    Como sempat mengalami kekalahan usai takluk 2-3 dari Feyenoord Rotterdam. Meskipun demikian, perolehan tiga angka tersebut berhasil mengamankan posisi mereka di peringkat ke-12 klasemen Liga Champions dan sejajar dengan MU. Hasil positif yang diraih di Serie A turut membuat posisi mereka aman di lima besar klasemen sementara liga.

    Dari segi taktik, analisis WhoScored mengungkap Como gemar memanipulasi posisi lawan sebelum menyerang ruang, memanfaatkan kombinasi third-man untuk membongkar pertahanan rapat sebelum beralih ke serangan vertikal. Ketajaman mereka ditopang Anastasios Douvikas dengan 5 gol dalam 9 laga, ditambah kreativitas duet Nico Paz-Martin Baturina dan peran Lucas da Cunha sebagai pembangun serangan. Akan tetapi, kabar kurang baik datang dari cedera Assane Diao dan Moise Kean, dua opsi penyerang cepat Como, kendati skema serangan mereka tidak bergantung satu penyerang.

  3. 3. Duel antara Como 1907 vs MU bakal berjalan alot, tetapi Como lebih meyakinkan

    Manchester United dan Como 1907 memiliki karakteristik permainan yang berbeda. Pressing tinggi dan manipulasi ruang ala Como berpotensi mengeksploitasi lini belakang MU yang tampil dengan komposisi tak ideal, dengan Noussair Mazraoui bergeser ke bek kiri, Diogo Dalot kembali ke kanan, dan Ayden Heaven bakal jadi starter dadakan. Namun ada harapan bagi Michael Carrick, sebab Matthijs De Ligt berpeluang kembali masuk skuad meski belum tampil sejak November 2025.

    Titik paling rentan MU berada pada duet Carlos Baleba dan Youri Tielemans yang masih mencari keseimbangan di lini tengah. Area itu berpotensi jadi sasaran empuk kombinasi third-man, terutama lewat Nico Paz dan Martin Baturina yang kerap menyusup di area antarlini lawan. Jika keduanya gagal menutup ruang, Como bisa leluasa membangun serangan dari tengah.

    Di sisi lain, duel udara dan kecepatan Anastasios Douvikas melawan pasangan bek darurat Harry Maguire dan Heaven, yang nyaris tak pernah bermain berdampingan, layak disorot. Namun, MU masih punya harapan lewat kembalinya Bruno Fernandes ke posisi nomor 10 yang lebih natural, setelah kehilangan sentuhan kreatif karena dipaksa jadi false-nine di laga Leeds United. Ditambah ancaman near-post Bryan Mbeumo, lini depan Setan Merah masih menyimpan senjata untuk mengejutkan tuan rumah.

    Dari sisi motivasi, kedua tim ingin keluar dari tekanan, MU demi meredam kritik terhadap Carrick, sedangkan Como demi membuktikan diri layak di kasta tertinggi Eropa. Melihat susunan kekuatan antara kedua kesebelasan, laga ini berpotensi ketat dengan peluang besar berakhir imbang atau kemenangan tipis, dengan Como diprediksi tampil lebih menjanjikan. Siapa pun pemenangnya, hasil laga di Italia membawa dampak besar bagi arah dan kepercayaan diri kedua tim menuju matchday selanjutnya di Liga Champions maupun panggung domestik.

    Duel Como 1907 melawan Manchester United pada Rabu malam nanti layak dinantikan sebagai pertarungan antara ambisi debutan dan raksasa Inggris yang berjuang menemukan jati dirinya. Hasil di Stadio Giuseppe Sinigaglia nanti bisa menjadi titik balik penting bagi perjalanan kedua tim di Liga Champions 2026/2027.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More