Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dicap Pengkhianat, 5 Pemain Timnas Putri Iran Dapat Suaka dari Australia
potret bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)
  • Lima pemain Timnas Putri Iran resmi mendapat suaka politik dari Australia setelah dianggap pengkhianat karena menolak menyanyikan lagu kebangsaan saat laga Piala Asia Wanita 2026.
  • Menteri Imigrasi Australia, Tony Burke, membuka peluang bagi pemain Iran lain untuk memperoleh visa kemanusiaan, menegaskan dukungan negaranya terhadap keselamatan para atlet tersebut.
  • Donald Trump mendesak Australia memberi perlindungan penuh kepada para pemain, memperingatkan bahwa pemulangan paksa akan menjadi kesalahan kemanusiaan serius di mata dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Australia resmi memberikan suaka politik kepada lima pemain Timnas Putri Iran. Mereka diizinkan menetap menggunakan visa kemanusiaan, demi menghindari hukuman berat jika pulang ke negaranya.

Polemik ini berawal setelah Fatemeh Pasandideh, Zahra Ghanbari, Zahra Sarbali, Atefeh Ramazanzadeh, dan Mona Hamoudi, memilih membisu ketika Timnas Putri Iran menyanyikan lagu kebangsaan jelang kick-off kontra Korea Selatan di Grup A Piala Asia Wanita, pada 2 Maret 2026 lalu.

1. Australia tawarkan suaka juga ke pemain lain

Sebenarnya bukan lima pemain itu saja yang diam dalam sesi lagu kebangsaan, melainkan mayoritas pemain Timnas Putri Iran ikut gerakan menutup mulut. Situasi ini terjadi di sejumlah laga mereka.

Akibat insiden ini, para pemain Timnas Putri Iran akhirnya dicap pengkhianat. Label itu diberikan oleh seorang presenter ternama dan disiarkan lewat media nasional. Sempat ada momen, ketika mereka akhirnya bernyanyi di lapangan. Namun, ada informasi yang menyebutkan aksinya karena dipaksa oleh anggota Garda Revolusi Iran (IRGC) yang masuk sebagai ofisial tim. Situasi diperburuk ketika ada sejumlah anggota Timnas Putri Iran yang kabur dari skuad.

Atas kondisi itu, jika nantinya ada pemain Timnas Putri Iran yang juga ingin mendapat visa kemanusiaan, Menteri Imigrasi Australia, Tony Burke, bersedia memberikannya.

"Saya katakan kepada anggota tim lainnya, kesempatan yang sama terbuka. Australia telah menerima tim sepak bola wanita Iran ke dalam hati kami," kata Burke, dikutip dari ABC News.

2. Ada desakan dari Donald Trump

Aksi para pemain Timnas Putri Iran yang menolak menyanyikan lagu kebangsaan pada laga pembuka memicu kekhawatiran global terkait keselamatannya jika harus kembali ke negara asal. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pun mendesak agar Australia mempermudah memberikan suaka kepada mereka.

Trump langsung melontarkan peringatan keras kepada Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese. Trump menilai, memulangkan para pemain secara paksa akan menjadi kesalahan kemanusiaan yang fatal.

"Jangan lakukan itu, Bapak Perdana Menteri, berikan suaka! Amerika Serikat akan membawa mereka jika Anda tidak mau," tulis Trump melalui media sosialnya.

3. Diduga kirim sinyal 'SOS' dari dalam bus?

Sebelum aksi pelarian ini terjadi, ketegangan sudah terasa usai Iran dibekuk Filipina dengan skor 0-2, Minggu (8/3/2026). Daily Mirror melansir, viral di media sosial kalau beberapa pemain tampak memohon pertolongan dari balik kaca.

"Sebanyak lima (pemain) sudah diurus, dan sisanya sedang dalam perjalanan. Namun, beberapa merasa harus kembali karena khawatir dengan keselamatan keluarga mereka," tulis Trump.

Editorial Team