Dynamic Pricing Tiket Piala Dunia 2026, Puncak Kapitalisme?

- FIFA mempertimbangkan skema dynamic pricing untuk tiket Piala Dunia 2026, di mana harga ditentukan oleh permintaan dan berpotensi membuat tiket semakin mahal bagi penonton.
- Dynamic pricing sudah lazim di Amerika Serikat dan digunakan di berbagai sektor, namun menuai kritik karena dianggap menekan konsumen serta memanfaatkan data pengguna secara agresif.
- Meski sempat diwacanakan, FIFA akhirnya menyatakan tidak akan menerapkan dynamic pricing pada Desember 2025, mengingat potensi ketimpangan dan dampak negatif terhadap keadilan akses penonton.
Tidak hanya menambah jumlah peserta, ada satu gebrakan dalam Piala Dunia 2026 yang bikin calon penonton geleng-geleng kepala. Itu adalah penjualan tiket dengan skema harga dinamis (dynamic pricing). Apa itu? Dynamic pricing adalah sebuah praktik penentuan harga berdasar permintaan. Makin tinggi permintaan, makin tinggi pula harga tiket di pasaran.
1. Praktik dynamic pricing umum dipakai di Amerika Serikat
Dynamic pricing untuk tiket Piala Dunia 2026 sebenarnya berkaitan erat dengan tuan rumah. Amerika Serikat sebagai pusat kapitalisme dunia sudah familier dengan skema ini. Ia sudah dipraktikan dalam berbagai sektor bisnis seperti penerbangan, akomodasi penginapan, jasa transportasi dalam kota (taksi, pengantaran makanan), kuliner, dan hiburan (tiket konser). Dynamic pricing bekerja dengan algoritma sehingga fluktuasi harga satu barang/jasa bergantung pada seberapa banyak pihak menginginkannya atau menunjukkan minat terhadapnya.
Tak pelak, beberapa ahli seperti salah satunya Noah Giansiracusa dari Berkman Klein Center for Internet & Society at Harvard menggunakan istilah “surveillance pricing” untuk menyebut skema ini. Itu karena pebisnis menggunakan data (demografi, lokasi, preferensi, dll.) yang terkumpul dari riwayat pengguna untuk menentukan fluktuasi harga. Di Amerika Serikat, praktik ini legal selama tidak melanggar aturan kompetisi yang sehat.
2. Dynamic pricing memicu huru-hara
Namun, bukan berarti skema ini tak lepas dari masalah. Selain etika pengumpulan data, dynamic pricing juga mencekik konsumen secara terang-terangan. Beberapa musisi pernah menyatakan keberatannya terhadap skema ini. Salah satunya band Oasis yang menggelar reuni akbar dengan tur keliling dunia. Di Inggris Raya, tiket konser mereka sempat dijual dengan sistem dynamic pricing dan akhirnya menimbulkan huru-hara di kalangan penggemar karena harga jadi meroket jauh dari harga standar.
Otoritas Inggris sampai turun tangan melakukan investigasi terhadap Ticketmaster yang mengelola penjualan tiket konser Oasis. Belajar dari situ, Oasis pun menolak menjual tiket dengan skema sama di Amerika Serikat. Sikap serupa diambil Taylor Swift untuk tiket konser Eras Tour. Namun, harus diakui tidak semua musisi punya privilese melawan sistem yang berlaku secara luas tersebut.
3. Apa jadinya kalau dynamic pricing diimplementasikan di Piala Dunia 2026?
Harga tiket Piala Dunia 2026 meroket karena permintaan yang tinggi, terutama karena faktor penonton lokal. Skema penjualan ekstraktif macam ini memperjelas ketimpangan dan berpotensi melanggengkan monopoli global. Kalau mengadopsi istilahnya Cory Doctorow, Piala Dunia 2026 bisa jadi momen “enshittification” FIFA. Seperti media sosial dan e-commerce, ia berhasil bikin kita menjalin relasi emosi (percaya, dependen) dengan institusi tersebut. Saat mereka tahu seberapa besar ketergantungan kita pada mereka, institusi itu bakal dengan mudahnya melakukan apa yang mereka mau untuk meraup profit, dan kerap kali itu tidak diimbangi dengan peningkatan mutu.
Belum lagi saat ini kita berada pada era attention economy, yakni ketika atensi atau perhatian orang adalah sebuah kelangkaan yang bisa dimonetisasi. Piala Dunia 2026 bisa dimanfaatkan untuk mengeksploitasi itu selayaknya model bisnis media sosial. Dipercaya bakal jadi turnamen olahraga terbesar tahun ini, bayangkan berapa banyak profit yang bisa ditangkap FIFA dari investor yang mau beriklan (membeli perhatian publik) lewat turnamen mereka?























