Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Insiden Zaire di Piala Dunia 1974, Ada Ancaman Diktator
ilustrasi pertandingan sepak bola (unsplash.com/Mike Haupt)
  • Zaire datang ke Piala Dunia 1974 sebagai juara Piala Afrika dan tim Afrika non-Utara pertama yang lolos ke putaran final, membawa harapan besar dari publik negaranya.
  • Presiden Mobutu Sese Seko memanfaatkan keberhasilan Zaire sebagai alat propaganda politik, memberi fasilitas mewah namun menyembunyikan korupsi dan pelanggaran HAM di balik citra positif negara.
  • Ancaman, penyelewengan dana, hingga intimidasi membuat pemain Zaire frustrasi; aksi Mwepu Ilunga menendang bola bebas Brasil menjadi simbol protes terhadap tekanan rezim diktator.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Piala Dunia 1974 Jerman Barat menyisakan satu momen membingungkan. Saat laga penyisihan grup melawan Brasil, bek Zaire, Mwepu Ilunga, tiba-tiba keluar dari barisan pagar betis dan membuang bola tendangan bebas yang harusnya dieksekusi pemain Brasil. Aksi tersebut ditertawakan selama puluhan tahun dan dianggap sebagai bukti pemain Afrika saat itu belum paham regulasi. Namun, ada fakta mengerikan di balik insiden tersebut.

1. Zaire tampil di Piala Dunia 1974 Jerman Barat dengan status juara Piala Afrika

Jauh sebelum insiden tendangan bebas tersebut, Zaire sebenarnya datang dengan status tim Afrika yang disegani. Dilansir These Football Times, mereka sukses mengukir sejarah sebagai tim non-Afrika Utara pertama yang lolos ke putaran final Piala Dunia. Sebelumnya, ada Mesir pada 1938 dan Maroko pada 1970. Tidak hanya itu, Zaire menjuarai Piala Afrika pada 1974. Ini membuat skuad asuhan Blagoje Vidinic tersebut diyakini bisa memberi kejutan.

2. Menjadi alat propaganda Presiden Mobutu Sese Seko, penguasa Zaire saat itu

Kesuksesan Zaire lolos ke Piala Dunia 1974 tidak lepas dari intervensi diktator mereka, Presiden Mobutu Sese Seko. Vice menulis, Mobutu memanfaatkan sepak bola sebagai alat propaganda untuk membangun citra positif negaranya di mata dunia. Ini bertujuan menyembunyikan korupsi, nepotisme, dan pelanggaran hak asasi manusia yang rezimnya lakukan. Sebelum turnamen dimulai, Mobutu memanjakan para pemain dengan fasilitas mewah, mobil baru, dan iming-iming bonus uang dalam jumlah fantastis jika bisa tampil bagus.

3. Para pemain mengancam mogok bertanding setelah menerima kabar tidak akan mendapat bayaran

Laga pertama fase grup dilalui dengan takluk 0-2 dari Skotlandia. Namun, drama kemudian terjadi. Dilansir BBC, para pemain menerima kabar bahwa mereka tidak mendapat bayaran sepeser pun jelang berjumpa Yugoslavia. Uang tersebut diduga telah dibawa kabur para pejabat pemerintah yang ikut rombongan mereka. Kecewa karena merasa dikhianati, Timnas Zaire sempat mengancam mogok bertanding melawan Yugoslavia. Meski berhasil dibujuk, para pemain sudah hilang semangat. Mereka kalah dengan skor 0-9.

4. Jelang melawan Brasil di laga terakhir fase grup, para pemain Zaire mendapat intimidasi

Mendengar kabar Timnas Zaire hancur lebur di tangan Yugoslavia, Mobutu naik pitam. Dilansir Sky History, sang diktator langsung mengirim sejumlah pengawal pribadinya ke hotel pemain. Mereka membawa pesan mengerikan. Jika Zaire kalah dengan skor lebih dari 0-3 dari Brasil, para pemain tidak diizinkan pulang dalam keadaan hidup dan seluruh aset mereka disita. Berada di bawah ancaman hukuman mati, para pemain melawan Brasil dengan mental yang sudah runtuh.

5. Bola tendangan bebas nekat disambar sebagai bentuk protes dan pelampiasan rasa frustrasi pemain

Penentuan nasib terjadi pada 22 Juni 1974 di Parkstadion, Gelsenkirchen. Masuk menit ke-76, Brasil sudah unggul 0-3. Saat itu, tim Samba mendapat hadiah tendangan bebas di tepi kotak penalti Zaire. Mwepu Ilunga lalu melakukan aksi nekat. Ia berlari dan menendang bola sejauh mungkin sebelum dieksekusi Rivelino. Dilansir The Guardian, Ilunga menjelaskan bahwa tindakan itu adalah bentuk protes atas janji kosong Mobutu. Untungnya tak ada gol tambahan tercipta dan skor tetap 0-3 hingga laga berakhir.

Zaire finis sebagai juru kunci grup, tanpa poin dan kebobolan 14 gol. Setelah Piala Dunia 1974, Mobutu memutus total dana bantuan untuk olahraga. Namun, roda kehidupan berputar. Mobutu Sese Seko digulingkan kudeta militer pada 1997 dan Republik Demokratik Kongo (nama Zaire sekarang) lolos ke Piala Dunia 2026 setelah menunggu selama 52 tahun.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article