Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
FIFA Kena Semprot Norwegia Usai Kasih Peace Prize ke Donald Trump
potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (whitehouse.gov)

Jakarta, IDN Times - Lise Klaveness kembali terpilih menjadi Ketua Umum Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF). Dalam pidatonya, Klaveness menyinggung FIFA yang memberikan penghargaan FIFA Peace Prize kepada Donald Trump.

Klaveness mengaku merasa tersandera dalam situasi yang dianggapnya salah kaprah tersebut saat menghadiri acara di Washington. Dia menilai langkah FIFA itu telah membawa sepak bola dunia ke arah yang berbahaya dan mencederai prinsip netralitas.

1. Klaveness tak setuju dengan keputusan FIFA

Klaveness mengenang momen meresahkan duduk bersama petinggi sepak bola dunia di Washington. Dia menyaksikan langsung saat Presiden FIFA, Gianni Infantino, memberikan penghargaan perdamaian itu kepada Trump pada Desember 2025 lalu.

"Baru-baru ini saya duduk di Washington, dalam ruangan yang penuh dengan presiden sepak bola, dan merasakan perasaan menyakitkan karena menjadi sandera sesuatu yang jelas-jelas salah. Perasaan kaisar tidak hanya berjalan tanpa pakaian, tetapi dia membawa kita ke arah yang berbahaya, dan pada saat yang sama saya tidak dapat menghentikannya. Setidaknya tidak saat itu juga," kata Klaveness dikutip dari Inside World Football.

2. Akar rumput desak penghapusan penghargaan

Keresahan Klaveness sejalan dengan aspirasi akar rumput sepak bola Norwegia yang mulai gerah dengan manuver politik FIFA. Klub lokal, Kringlebotn IL, mengajukan mosi agar FIFA menghentikan tradisi pemberian Peace Prize yang terindikasi politis tersebut.

Organisasi hak asasi manusia, FairSquare, juga menilai Infantino telah melanggar kewajiban netralitas FIFA dengan mendukung kebijakan Trump. Klaveness menyatakan siap mendukung langkah hukum etika terhadap Infantino jika terbukti melanggar aturan organisasi.

3. FIFA tidak boleh terlibat dalam politik praktis

Meski mengkritik keras, Klaveness memastikan tidak akan melakukan aksi protes terbuka atau mengambil alih panggung pada Kongres FIFA di Vancouver April 2026 nanti. Dia memilih pendekatan yang lebih strategis dan objektif dalam menyikapi pelanggaran etika yang dilakukan pimpinan FIFA.

Namun, dia menegaskan NFF akan terus mengawal isu ini agar sepak bola tidak dijadikan alat politik praktis. Integritas harus tetap dijaga dari kepentingan pribadi para petinggi yang memanfaatkan jabatan mereka.

Editorial Team