Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Formula 1 Kembali ke Afrika Lewat Rwanda, Benarkah Ini Sportswashing?

7 min read
Formula 1 Kembali ke Afrika Lewat Rwanda, Benarkah Ini Sportswashing?
potret mobil Formula 1 Red Bull di Sirkuit Interlagos, Brasil (pexels.com/Jonathan Borba)
  • Formula 1 menandatangani kontrak 10 tahun dengan Rwanda untuk African Grand Prix di Kigali, menandai rencana kembalinya ajang ini ke Afrika setelah absen sejak 1993.
  • Rwanda dipilih berkat rencana sirkuit Bugesera, dukungan pemerintah, dan potensi pasar Afrika; trek 6 kilometer tersebut ditargetkan beroperasi pada awal 2030-an.
  • Amnesty International menilai kerja sama ini sebagai sportswashing, merujuk tudingan keterlibatan Rwanda dalam konflik Kongo dan pelanggaran HAM yang juga memicu kritik terhadap sponsor sepak bolanya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Formula 1 resmi bakal kembali ke Afrika pada 2030. Presiden F1, Stefano Domenicali,  menyepakati kontrak 10 tahun bersama Rwanda untuk menggelar African Grand Prix yang bakal dihelat di sirkuit anyar di Ibukota Rwanda, Kigali. Setelah hampir 3 dekade absen, mesin balap jet darat akhirnya akan kembali menderu di tanah Afrika.

Namun, euforia ini tak serta-merta membawa nostalgia dan kebahagiaan bagi fans F1. Amnesty International menyebut kesepakatan ini sebagai alat sportswashing, tudingan yang sebelumnya juga lekat pada balapan F1 di Qatar dan Arab Saudi. Lantas, kenapa pilihan itu memicu kontroversi dan isu apa yang terjadi di Rwanda?

  1. 1. Berawal di Maroko, Afrika Selatan kemudian mendominasi sejarah F1 di Afrika

    Afrika pertama kali menggelar Formula 1 di Maroko, jauh sebelum Rwanda masuk perbincangan. Sirkuit Ain-Diab jadi panggung debut benua ini pada 1958, sekaligus menjadi ajang perebutan juara dunia pembalap antara Mike Hawthorn dan Stirling Moss. Hawthorn sukses mengunci gelar juara dunia meski finis di belakang Moss. Sayangnya, balapan itu jadi yang pertama sekaligus terakhir bagi di Maroko usai Stuart Lewis-Evans mengalami kecelakaan fatal yang merenggut nyawanya akibat luka bakar.

    Afrika Selatan kemudian mengambil alih peran sebagai rumah F1 di benua ini. Balapan di sana sebenarnya sudah berlangsung sejak 1934 lewat sejumlah laga nonkejuaraan, sebelum resmi masuk kalender dunia pada 1962 ketika Graham Hill mengunci gelar juara lewat kemenangannya di Sirkuit jalanan East London. Lima tahun kemudian, giliran Sirkuit Kyalami yang mengambil alih dan mewakili sebagian besar kiprah F1 di Afrika.

    Kyalami punya banyak cerita yang indah sekaligus kelam. Jim Clark mencatat kemenangan ke-25 dalam kariernya di sana pada 1968, rekor yang saat itu memecahkan capaian Juan Manuel Fangio. Ironisnya, itu menjadi kemenangan terakhirnya di F1 sebab ia tewas dalam kecelakaan balapan Formula 2 tak lama setelahnya.

    Musibah kembali terjadi 9 tahun berselang yang merenggut nyawa Tom Pryce. Marshal bernama Jansen van Vuuren nekat menyeberangi lintasan sambil membawa alat pemadam api, tertabrak mobil Pryce, dan alat itu terpental mengenai helm Pryce hingga menewaskannya seketika. Peristiwa ini sekaligus menjadi tonggak sejarah perubahan regulasi keselamatan pembalap sekaligus marshal secara radikal.

    Ketegangan politik pun ikut mewarnai balapan di tanah Afrika. Dilansir PlanetF1, pada 1981, aksi mogok pembalap akibat perselisihan antara Federation Internationale du Sport Automobile (FOCA) dan Formula One Constructors Association (FOCA) soal aturan superlicence memaksa status balapan diturunkan jadi nonkejuaraan. Perpecahan ini membuat balapan di Kyalami praktis hanya menjadi ajang persahabatan tanpa memperebutkan satu poin pun di papan klasemen.

    Aksi boikot internasional terhadap rezim apartheid Afrika Selatan sempat menghentikan total F1 pada pertengahan 1980-an. Meski sempat menggelar balapan lagi di Kyalami pada 1992, momen itu hanya bertahan selama 2 tahun. Kemenangan Alain Prost bersama Williams pada 1993 akhirnya tercatat sebagai GP terakhir F1 di benua Afrika hingga sekarang.

    Di antara deretan tragedi dan drama itu, Jody Scheckter menjadi nama yang paling bersinar. Pembalap asal Afrika Selatan ini dua kali menang di kandang sendiri, pada 1975 dan 1979, dan sampai sekarang masih menjadi satu-satunya orang Afrika yang pernah juara dunia F1. Rekornya itu bertahan hampir 4 dekade, sampai Rwanda akhirnya mengubah peta itu pada Oktober 2026.

  2. 2. Apa alasan Rwanda terpilih sebagai tuan rumah Formula 1 di Afrika?

    Jawabannya dimulai dari strategi bisnis Formula 1 sejak diakuisisi Liberty Media pada 2017. Sejak itu, kalender terus melebar ke pasar-pasar baru, meliputi Miami pada 2022, Las Vegas setahun berikutnya, Madrid pada 2026, dan Portugal-Turki yang dijadwalkan kembali pada 2027. Afrika, dengan lebih dari 100 juta penggemar dan 60 persen di antaranya berusia di bawah 35 tahun di kawasan Sub-Sahara, lama jadi pasar raksasa yang belum tersentuh.

    Lewis Hamilton bisa dibilang jadi sosok yang paling vokal menagih F1 untuk segera menggelar balapan di Afrika. Bagi pembalap asal Inggris ini, Afrika adalah benua paling indah dan terlalu penting untuk terus diabaikan oleh ajang jet darat tersebut. Saking kepincutnya, Hamilton sempat berkelakar takut keburu pensiun sebelum penantian panjangnya itu terwujud.

    Mengutip BBC Sport, Rwanda sebenarnya bukan kandidat tunggal. Maroko kembali mencoba peruntungan, tetapi terbentur masalah pendanaan. Sementara itu, Afrika Selatan justru terbelah menjadi tiga hingga empat proyek dari promotor berbeda, termasuk wacana comeback di Kyalami dan dua rencana terpisah di Cape Town. Tak satu pun dari proyek itu semulus Rwanda, yang tampil dengan satu rencana solid dan dukungan finansial penuh dari pemerintah lewat Rwanda Development Board.

    Sirkuit baru itu akan berdiri di Bugesera, sekitar 40 kilometer dari Kigali, bersebelahan dengan bandara internasional baru yang ditarget rampung awal 2028. Alex Wurz, mantan pembalap F1 yang kini merancang lintasan lewat WurzDesign bersama Tilke Engineering, perusahaan di balik Sirkuit Sepang. Trek sepanjang 6 kilometer dengan 17 tikungan itu punya perubahan elevasi hingga 197 meter dalam satu lap, hampir dua kali lipat Spa-Francorchamps di Belgia dengan elevasi 102 meter. Lokasinya pun berada di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, menjadikannya salah satu sirkuit tertinggi di kalender F1 setelah Mexico City yang berada di 2.200 meter.

    F1 menandatangani kontrak kerja sama berdurasi 10 tahun, tetapi sengaja belum mematok tahun debut pasti dan hanya memberi prediksi awal 2030-an. Fleksibilitas ini tergolong wajar mengingat pengerjaan sirkuit harus dimulai dari lahan kosong. Hal ini cukup bertolak belakang dengan kebiasaan F1 yang biasanya langsung mengumumkan jadwal pasti tiap kali merilis balapan baru.

  3. 3. Rwanda diduga membiayai kelompok pemberontak demi mengeruk sumber daya alam di Kongo

    Amnesty International langsung bereaksi keras melalui Felix Jakens, Kepala Kampanye Amnesty UK, yang menyebut kesepakatan 10 tahun F1 bersama Visit Rwanda sebagai bentuk sportswashing. Ia menilai Rwanda sengaja membeli tempat di ajang olahraga terbesar dunia demi memoles citra dan menutupi rekam jejak HAM yang buruk. Menurutnya, klaim F1 soal olahraga sebagai kekuatan kebaikan bakal terdengar omong kosong jika mereka terus menutup mata terhadap rekam jejak mitranya.

    Tudingan sportswashing bukan muncul tanpa dasar yang kuat. Menurut laporan The Athletic, PBB berulang kali mengungkap keterlibatan pemerintah Rwanda dalam mendanai kelompok pemberontak M23 di wilayah timur Kongo. Laporan pada September 2025 bahkan membeberkan deretan tindakan keji, mulai dari eksekusi sepihak, penyiksaan, hingga kejahatan seksual yang merajalela di kawasan kaya mineral tersebut.

    Dugaan penjarahan serta penyelundupan emas dan koltan oleh M23 ke Rwanda kian memperkeruh situasi ini. Gelombang kecaman internasional pun berdatangan hingga memicu penangguhan bantuan dari Inggris serta sanksi tegas dari Amerika Serikat pada awal 2026. Atas dugaan serangkaian pelanggaran HAM berat dan perjanjian internasional tersebut, Kongo akhirnya menyeret Rwanda ke Mahkamah Internasional.

    Menteri Luar Negeri Kongo, Therese Kayikwamba Wagner, sebenarnya sudah menyurati Stefano Domenicali sebelum kontrak tersebut disahkan. Ia melemparkan sindiran menohok terkait potensi rusaknya citra F1 jika terus memaksakan kerja sama dengan Rwanda. Bagi Wagner, negara dengan rekam jejak berdarah seperti Rwanda sama sekali tidak layak mewakili benua Afrika di kancah F1.

    Strategi sportswashing Rwanda sebenarnya sudah lebih dulu diterapkan di sepak bola lewat sponsor jersei Arsenal, Bayern Munich, dan Paris Saint-Germain (PSG). Gelombang protes dari para suporter bahkan memicu aksi spanduk sindiran hingga lahirnya petisi beranggotakan puluhan ribu orang, yang berujung pada keputusan Arsenal untuk menyetop kerja sama tersebut pada 2026. Di sisi lain, F1 sendiri bukanlah pemain baru dalam isu ini usai sebelumnya kerap menuai kritik serupa saat menghelat balapan ke Qatar dan Arab Saudi.

    Balapan pertama di Afrika mungkin baru akan berlangsung awal dekade depan, tetapi perdebatannya sudah dimulai sekarang. Akankah sirkuit di Bugesera benar-benar jadi pintu masuk Afrika ke panggung motorsport dunia, atau justru jadi contoh baru bagaimana olahraga dipakai untuk menutupi tangan kotor elite penguasa? Jawabannya mungkin baru akan terlihat jelas begitu lampu start pertama menyala.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More